Pakar Fiqih: Puasa Arafah Ditentukan Karena Tanggal 9 Dzulhijjah, Bukan Wukuf

Foto: Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

KIBLAT.NET, Jakarta – Sebagian umat Islam masih memperdebatkan penentuan Hari Raya Idul Adha. Di antara mereka mengatakan bahwa penentuan Hari Raya terbesar kedua umat Islam itu ditentukan sehari setelah pelaksanaan Wukuf Arafah di Arab Saudi. Sementara sebagian lain berpendapat bahwa Hari Raya Kurban ditentukan dengan perhitungan tanggal bulan Dzulhijjah.

Menjawab polemik ini, kiblat.net mencoba bertanya langsung kepada pakar fiqih Indonesia, DR. Ahmad Zain An-Najah, MA. Melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu, beliau menjelaskan secara runut bagaimana mendudukan perkara ini.

Alumnus Universitas Kairo ini memaparkan bahwa penentuan Hari Raya Idul Adha sama seperti penentuan awal Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, yaitu dengan Rukyat (melihat Hilal). Hal itu disampaikan banyak ulama, seperti syaikh Utsaimin, syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan syaikh Albani.

“Jadi, menentukan Hari Raya Idul Adha itu seperti menentukan Hari Raya Idul Fitri,” papar direktur Pesantren Tinggi Al-Islam Bekasi ini.

Terkait perbedaan Wihdatul Mathlak (satu tempat terbit) dan Ikhtalaful Mathalik (berbeda-beda tempat terbit), ustadz yang akrab disapa Ustadz Zain ini lebih condong pada pendapat yang mengatakan rukyah itu dilakukan masing-masing negara umat Islam. Artinya, jika satu negara melihat Hilal sementara negara lainnya belum melihat Hilal, maka bagi negara yang melihat Hilal wajib menentukan 1 Dzulhijjah hari itu. Adapun negara lainnya tidak wajib dan menggenapkan bulan.

BACA JUGA  Pria Ini Ditahan Polisi Usai Aksi 22 Mei Setelah Ditemukan Kata "Jihad" di Ponselnya

Untuk menguatkan pendapat ini, beliau mengemukakan beberapa dalil:

  • Pertama: Hadist Nabi SAW yang sangat terkenal, yang artinya berbunyi “Jika kalian melihat hilal maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya maka berbukalah. Jika tak terlihat oleh kalian maka genapkanlah.” (HR. Ahmad).
  • Kedua: Hadist Quraib. Dalam hadist itu diceritakan bagaimana terjadi perbedaan menentukan awal Ramadhan antara sahabat Ibnu Abbas yang saat itu berada di Madinah dan sahabat Muawiyah yang saat itu di Syam. Artinya, masing-masing wilayah berhak menentukan awal bulan baru dengan rukyat sendiri.
  • Ketiga: Hadist yang artinya, “Puasa di hari orang-orang (pada) berpuasa, berbuka (untuk hari raya) di hari orang-orang (pada) berbuka dan menyembelih (kurban) di hari orang-orang (pada) menyembelih.” Ustadz Zain menjelaskan bahwa maksud dari hadits tersebut adalah lakukanlah itu semua bersama masyarakat setempat.

Ini semua dari dalil Syar’i. Adapun dalil secara akal, lanjut beliau, bahwa kita diperintahkan untuk bersatu dan tidak berpecah belah. Jika masyarakat suatu negara sudah mengumumkan 1 Dzulhijjah besok Jumat (26/09), berarti seluruh rakyat yang ada demi menjaga persatuan, sebaiknya mengikuti ketetapan itu. Karena ketetapan itu sudah dimusyawarahkan dengan ormas-ormas Islam yang ada.

Bukankah puasa Arafah itu puasa yang dilaksanakan ketika jamaah Haji wukuf di Arafah? Menjawab pertanyaan ini, Ustadz Zain mengemukakan hadist Aisyah radiyallahu anha yang menyebutkan bahwa sesungguhnya hari Arafah adalah hari yang diketahui manusia.

BACA JUGA  Komisi Dakwah MUI: Ceramah UAS Bukan Menista Agama Lain

Bapak empat anak ini menandaskan, bagaimana manusia dapat mengetahui hari wukuf di Arafah sementara mereka tidak mengetahui tanggal 1 Dzulhijjah. Artinya, penetapan wukuf di Arafah berdasarkan rukyat awal bulan Dzulhijjah sementara masing-masing negara berhak menentukan rukyat sendiri-sendiri.

“Jadi, hari itu (Arafah) adalah hari yang diketahui oleh manusia. Maka yang rojih dalam hal ini, puasa Arafah itu tanggal 9 Dzulhijjah, bukan karena jamaah Haji wukuf di Arafah,” tandasnya.

Reporter: Sulhi/Imam S
Editor: Hunef

Ikuti Topik:

8 comments on “Pakar Fiqih: Puasa Arafah Ditentukan Karena Tanggal 9 Dzulhijjah, Bukan Wukuf”

  1. sukron atas pencerahannya, semoga kedepan ummat mengedepankan persatuan

  2. rajet

    ya ane manut aje same ustadz kita ini,,,

  3. Masli

    Kalau untuk persatuan ummat Islam kenapa tidak cukup satu rujukan saja untuk dipakai ummat Islam seluruh dunia. Bukankah yang demikian ini sangat mudah sekali untuk saat sekarang?
    Ini akibat paham nasionalisme sempit yang memecah belah ummat Islam.

  4. bungah azahrah

    sdh jaman informasi terbuka ko berpikirnya kyk dlm jaman kegelapan.. puasa arafah sangat terkait dng waktu dan tempat.. ga bakalan ada puasa 9 dzulihijjah klo ga ada syariat ibadah haji. disunahkan puasa saat jamaah haji sedang wukuf. klo di saudi wukufnya di padang arafah tp di indoneisa munkin wukufnya di padang sidempuan makanya beda.

  5. siapa yang berpikir…?
    kalau argumennya kita puasa mengikuti wukuf di arafah, saya yakin besok hari jum’at ummat islam indonesia yang berpuasa tidak mengikuti wukuf,,,tapi mendahului wukuf, kita disni sahur, tapi di makkah masih tidur,,,kalau puasanya mau ikut wukuf berarti puasanya setelah orang sana pada wukuf dunk. #melawandalil’aqli

  6. Apakah waktu ‘Idul Adha itu diketahui dengan terlihatnya hilal di negeri masing-masing atau tergantung pada saat wuqufnya jama’ah haji di Arafah?

    Bacalah 7 argumentasi dibawah ini, semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua…

    [1]. Puasa Arafah itu terkait dengan “waktu saja” dan tidak terkait dengan “tempat”. Buktinya Nabi tidak menjadikan wukuf di Arafah sebagai patokan ketika beliau dan para sahabatnya puasa Arafah pada tahun ke 2 H, 3 H dst. Tetapi beliau dan para sahabatnya hanya menentukan puasa Arafah dengan ru’yah hilal penduduk Madinah.

    Puasa Arafah tanggal 9 dzulhijjah itu telah disyari’atkan jauh sebelum Rasulullah melaksanakan ibadah haji. Puasa Arafah tanggal 9 dzulhijjah sudah disyari’atkan sejak awal beliau berhijrah ke Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menamakan puasa 9 dzulhijjah dengan puasa Arafah meskipun kaum muslimin belum melaksanakan ibadah haji dan ibadah haji baru beliau kerjakan di tahun ke 10 H.

    Pada tahun ke 2 H, ke 3 H, ke 4 H dan ke 5 H Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat telah melaksanakan puasa tanggal 9 dzulhijjah tanpa ada seorang pun yang melaksanakan wukuf di Arafah. Saat disyari’atkan, puasa Arafah tidak dikaitkan dengan peristiwa wukuf di Arafah (lihat Zaadul Ma’aad II/101 oleh Imam Ibnu Qayyim, Fathul Baari III/442 oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dan Subulus Salam I/60 oleh Imam ash-Shon’ani).

    Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

    “Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpuasa pada tanggal 9 dzulhijjah, hari ‘Asyuraa’ dan 3 hari setiap bulan yaitu hari senin pada awal bulan dan 2 hari kamis” (HR.Abu Dawud no.2437, Ahmad no.2269, an-Nasaa’i no.2372 dan al-Baihaqi IV/284, lihat Shahiih Sunan Abi Dawud).

    Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa beliau berpuasa pada tanggal 9 dzulhijjah (untuk puasa Arafah) dan itu dilakukan sebelum beliau haji wada’ tahun 10 H. Dan lafazh itu menunjukkan rutinitas sebuah amalan.

    [2]. Puasa Arafah itu terkait dengan “waktu saja” dan tidak terkait dengan “tempat”. Buktinya tidak ada satu pun riwayat bahwasanya beliau ketika di Madinah bersungguh-sungguh untuk mencari tahu kapan waktu wuquf jama’ah haji di Arafah.

    Jadi, Nabi berpuasa Arafah di Madinah selama bertahun-tahun tanpa mengacu kepada ada atau tidak adanya wuquf di Arafah.

    Jika di Madinah sudah masuk tanggal 9 dzulhijjah menurut hitungan mereka, maka beliau bersama para sahabat berpuasa Arafah dan tidak memakai ru’yah hilal penduduk Mekkah.

    [3]. Puasa Arafah itu terkait dengan “waktu saja” dan tidak terkait dengan “tempat”. Buktinya Nabi bersabda kepada kaum muslimin untuk menentukan hilal (awal bulan) dzulhijjah dengan ru’yah sebagaimana kita juga melakukan ru’yah ketika akan menentukan awal Ramadhan dan awal Syawwal.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Apabila kamu telah melihat hilal (yaitu awal bulan) dzulhijjah dan salah seorang diantara kamu hendak berkurban, maka jangan sekali-kali kamu memotong rambutnya dan jangan pula memotong kukunya sampai hewan kurban itu disembelih” (HR.Muslim no.1977 (41 & 42), hadits dari Ummu Salamah).

    Nampak dengan jelas pada hadits ini bahwa ‘Idul Adha dikaitkan dengan terbitnya hilal, sedangkan waktu terbitnya hilal di setiap negeri berbeda dengan negeri lainnya (sebagaimana yang kita pahami ketika menentukan awal Ramadhan dan awal Syawwal).

    Dengan demikian, ‘Idul Adha dikaitkan dengan waktu (awal hilal) dan bukan dengan aktifitas jamaah haji di Arafah.
    .
    Dengan demikian, maka puasa Arafah juga dikaitkan dengan waktu (awal hilal) dan bukan dengan aktifitas jamaah Haji di Arafah.

    (4). Puasa Arafah itu terkait dengan “waktu saja” dan tidak terkait dengan “tempat”. Buktinya jika seandainya terjadi bencana atau peperangan sehingga jamaah haji tidak bisa wukuf di Arafah pada tahun itu, bukankah puasa Arafah tetap bisa dilakukan meskipun jamaah haji tidak ada yang wukuf di Arafah ? Kenapa ? Karena patokan puasa Arafah itu bukan wukufnya jamaah haji tapi tanggal 9 dzulhijjah.

    (5). Ke 4 alasan tadi dan alasan lainnya adalah pendapat dari seluruh ulama dari zaman ke zaman selama ratusan tahun.

    (6). Tetapi setelah adanya teknologi informasi beberapa tahun belakangan maka mulailah muncul pendapat yang berkata kita harus mengikuti puasa Arafah dengan berpatokan kepada jama’ah haji yang sedang wukuf di Arafah.

    (7). Para ulama berkata bahwa pendapat ini tidak kuat karena menyelisihi alasan-alasan diatas, sehingga mereka tetap dengan pendapat semula meskipun sudah ketahuan kapan wukuf di Arafah.

    KESIMPULAN :

    Dari semua penjelasan diatas maka diambil kesimpulan bahwa berpuasa Arafah (yaitu tanggal 9 dzulhijjah) dan berhari raya ‘Idul Adha dengan mengacu kepada terlihatnya hilal (awal bulan) di negara masing-masing.

    Dan ini juga merupakan pendapat dari al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaani, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh al-Utsaimin, Syaikh DR. ‘Abdullah bin Jibrin, Syaikh DR.Hanii bin Abdullah, Syaikh DR Ahmad al-Haji al-Kurdi, Syaikh DR Khalid al-Musyaiqih, Syaikh DR Khalid al-Muslih, Syaikh DR Anis Thohir al-Indunisy dll.

    Dan di Indonesia untuk tahun ini, in syaa Allah puasa Arafah jatuh pada tanggal 4 oktober dan ‘Idul Adha tanggal 5 oktober.

    Wallahul Muwaffiq

  7. pinx pinx

    jare mendahului wukuf, kita disni sahur, tapi di makkah masih tidur,
    klo puasa setelah wukuf berarti udah hari raya .. dan haram puasa pada saat hari raya.. saat anda enak 2 puasa … di mekah sudah hari raya mka wajib batal nah lhoooooo

    wong islam …. wong islam kapan majune.. masalah tanggal ae RUWET
    padahal bulan e yo cuma 1..
    menentukan kapan SUPER MOON bisa..
    kapan bulan PURNAMA bisa
    menentukan awal buan RUWET
    padahal jaman wes jaman e BOM NUKLIR

  8. sebenarnya antara keduanya masih ada titik temu sehingga masih dapat didamaikan. perlu kebesaran hati untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Rukyat Negara Berlaku Lokal, Rukhyat Mekkah Berlaku Global

    Read More: http://31.ayobai.org/2017/08/rukyat-negara-berlaku-lokal-rukhyat.html

    Tititk temu dalil, Insya allah akan didapat jika kita berusaha memaknai puasa dan lebaran dengan pertimbangan persatuan dan kebersamaan umat.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

200 KK Rohingya Nikmati Daging Kurban dari Indonesia

Indonesia - Senin, 12/08/2019 15:43

Kenapa Hewan Qurban ACT Berkualitas? Ini Rahasianya

Indonesia - Jum'at, 12/07/2019 15:23