Lawan Saling Bermusuhan, Tapi Jihadis Gagal Memanfaatkan

KIBLAT.NET — Memperhatikan perjalanan jamaah jihad sejak 30 tahun terakhir, kita dapati musuh selalu dapat memukul gerakan jihad. Kalau dianalisis lebih dalam, penggunaan strategi yang halus sekaligus licik, lebih dominan mereka gunakan ketimbang faktor kekuatan dan senjata yang mereka miliki.

Pada saat bersamaan jamaah jihad belum mampu berbicara soal strategi dan permainan politik. Mereka memang unggul dalam stamina pertempuran fisik. Namun bagaimana mengolah dan menciptakan kondisi sekitar agar menguntungkan bagi RAK (ruang, alat dan kesempatan) jihad, beberapa kali gerakan jihad—dapat dikatakan—gagal.

Ada contoh RAK yang dianalisis dengan bagus oleh Usman Zaid. Dalam sebuah artikel berjudul, “Perseteruan Orang-orang Jahat, Sebuah Nikmat yang Dilupakan” ia menyebutkan kegagalan jamaah jihad dalam mengolah dan memainkan perseteruan yang terjadi di antara musuh-musuh gerakan jihad. Dia menyebutkan empat contoh.

D

Dr. Abdullah An-Nafisi

Pertama, konflik historis antara Syiah Arab dan Syiah Persia. Suatu hari, Dr. Abdullah An-Nafisi mengunjungi Muhammad Baqir Al-Hakim, marja’ Syiah terkenal di Iran. Baqir mengadukan kepada An-Nafisi, tentang bagaimana Persia meremehkan dan menghinanya. An-Nafisi pun berkomentar, “Kami, Ahlus Sunnah, memandang kalian seperti pekerja Iran.”

Namun Baqir justru menjawab, “Masih mending kalau mereka memperlakukan kami sebagai pekerja. Yang terjadi, mereka selalu menghinakan kami, siang-malam.” Lalu, ketika An-Nafisi bertanya apa yang akan dilakukan ketika suatu hari kembali ke Baghdad, Baqir menegaskan, “Yang pertama kali akan saya lakukan adalah mengembalikan marja’ Syiah ke Najaf.”

Beberapa hari setelah itu, Mujahidin menyerang konvoi Baqir dan membunuhnya.

Muhammad Baqir Al-Hakim

Usman menegaskan bahwa tidak sedang membicarakan tentang boleh tidaknya penyerangan terhadap konvoi Baqir ini. Tetapi tentang maslahat yang hilang yang oleh amaliyat–amaliyat semacam ini. Akibat serangan tersebut, Iran menyudahi konflik mereka dengan Syiah Arab. Sejak hari itu, Syiah Arab dan Syiah Iran bersatu melawan Ahlu Sunnah.

Contoh kedua, antara Iran dan Israel. Menurut penulis, hubungan antara mereka aslinya adalah permusuhan dan ada kepentingan antara mereka. Pernyataan pers Israel menjelaskan bahwa mereka berada di satu pihak dengan Syiah untuk melawan ekstrimis Sunni. Hanya saja ada garis merah tidak boleh dilewati yang ditetapkan oleh Israel, yaitu kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.

iran-israel

Namun, penyerangan terhadap Syiah di Iraq menangguhkan konfrontasi Israel versus Iran. Menurut penulis, kelompok Jihadis gagal memantik konflik antara Iran dan Israel. Padahal, medianya cukup beragam. Mulai dari Lebanon Selatan, serangan terhadap aset Israel di Kurdistan dan peledakan sinagog di dalam negeri Iran.

Contoh ketiga adalah hubungan antara pemerintah Pakistan dan India. Terdapat banyak peluang untuk memantik terjadinya konflik politik dan ekonomi antara dua negara ini. Peluang itu sebenarnya bisa dieksploitasi untuk memberikan keamanan kepada jamaah jihad, supaya dapat merealisasikan target–target mereka di wilayah tersebut.

BACA JUGA  Ustadz Somad: Boleh Tak Salaman dengan Pengidap Penyakit Menular

pakistan-india

Pemerintah Pakistan memiliki garis merah untuk tunduk kepada diktat India. Pada waktu yang sama Pakistan dituntut oleh Amerika untuk memerangi terorisme. Seandainya pasca terjadinya peristiwa 11 September para Mujahidin memberikan keamanan kepada pemerintah Pakistan dengan tidak menyerang satu markas tentara dan keamanan pun serta melakukan amaliyah berkualitas melawan India dengan mengayomi pemerintah Pakistan, pastilah pemerintah Pakistan tidak mendapat dalih yang memuaskan rakyat akan pentingnya menyerang kamp Mujahidin di Waziristan.

Sementara, untuk selamat dari tekanan Amerika adalah dengan berdemonstrasi di jalan raya untuk menolak Amerika memasuki Pakistan.

serangan-pakistan

Namun, penyerangan terhadap tentara Pakistan dan pusat-pusat Rafidhah di Pakistan telah menyatukan dua negara ini untuk fokus melawan isu terorisme. Keduanya juga sepakat menciptakan situasi keamanan sementara yang meredam konflik di antara mereka.

Contoh keempat adalah konflik Teluk Persia, khususnya Saudi versus Iran. Inti pemerintah Saudi adalah memerangi Iran, baik dalam media massa, ekonomi, politik, bahkan sampai pada militer. Itu dibuktikan dengan koalisi negara-negara Arab ke Bahrain untuk membendung kendali Iran atas negeri tersebut. Caranya, Arab menanamkan pemerintahan Bahran yang loyal kepada mereka.

bulan-sabit-syiah

Kita telah melihat kontrol Syiah Hutsi atas semua lembaga di Yaman, padahal mayoritas penduduk Yaman adalah Ahlu Sunnah, bukan Syiah. Meskipun demikian kita tidak melihat kekuatan koalisi negara–negara Arab yang masuk ke sana, dengan alasan keberadaan Al-Qaidah di sana.

Sekiranya Al-Qaidah mengirim pesan damai untuk tidak menyerang kepentingan Arab di Yaman, menghentikan semua amaliyah di kerajaan Saudi, berhenti menyerang tentara Yaman, kompas orientasi pemerintah Saudi mungkin akan berubah, dan para Mujahidin akan mengambil keuntungan dari semua pergerakan revolusi dan ulama Yaman dalam pertempuran melawan musuh bersama (Syiah Hautsi).

abdula_azzam_2_300

Yang jelas, tulis Usman, jama’ah jihad telah gagal dalam mengeksploitasi dari setiap konflik antara kelompok orang–orang jahat, terkecuali pengalaman Syaikh Abdullah Azzam ketika mengambil keuntungan dari konflik pemerintah Pakistan dan negara sekutu melawan Rusia.

Pengalaman “Al- Jabhah Al-Islamiyah” di Syam, yang mengambil keuntungan dari konflik antara pemerintah Saudi dan Rezim Suriah, dan bahkan mereka berhasil mengambil keuntungan dari konflik antara Qatar dan Arab Saudi demi meraup keuntungan besar untuk revolusi Suriah melawan Rafidhah secara total.

Mantan Menteri Dalam Negeri Iraq, Jabor Shulagh berujar, ”Hendaknya kita menjadikan putra Anbar ini memerangi Putra Anbar IS.” Dan mereka berhasil di dalam hal ini.

Penulis menggariskan sebuah pertanyaan penting: apakah akan datang suatu hari di mana kita melihat Jama’ah Jihad duduk menyaksikan peperangan antar sesama Rafidhah, atau duduk menyaksikan peperangan yang terjadi antara dua negara yang keduanya pernah bersatu memerangi Mujahidin, dan para Mujahidin lah yang menjadi pemicu terjadinya peperangan ini?

BACA JUGA  Lockdown, Simalakama bagi Jokowi

konflik-mujahidin

“Jawabanya adalah, saya kira (tidak mungkin,) selama para Mujahidin itu membatasi diri mereka dengan permasalahan fiqh yang kaku, mereka akan senantiasa menjadi bahan bakar yang dimanfaatkan oleh selain mereka.”

“Maka bertemunya kepentingan antara pemerintah mujrim dan tidak adanya visi politik pada Mujahidin menyebabkan orang–orang fajirlah yang akan memetik buah kerja Mujahidin dan darah-darah mereka,” imbuh Penulis.

Fikih yang kaku, dijelaskan sebelumnya oleh penulis. “Di depan kita terdapat empat konflik yang terjadi antar sesama kelompok orang-orang fajir yang kita terlewatkan untuk mengeksploitasinya, bahkan terkadang kita malah meringankan sengitnya konflik itu tanpa kita sadari disebabkan kurangnya kita akan pengetahuan ilmu politik dan kejumudan kita dalam memahami nash–nash syar’i.”

“Kita menganggapnya nash–nash qath’i, padahal sejatinya nash–nash tersebut merupkan nash–nash yang dzaniyatud dalaalah.”

“Sayang, kejumudan dalam memahami nash–nash syar’i, yaitu dengan menyangkanya sebagai nash–nash yang qath’iyatu dalalah, dan memasukkan perkara yang bukan termasuk permasalahan Al-Wala’ wal Bara’ ke dalam urusan Al-Wala’ wal Bara’ inilah yang menghalangi untuk mengeksploitasi konflik yang menguntungkan Mujahidin ini.”

***

Analisis Usman Zaid di atas tentu saja tidak sepi dari analisis balik atau pengkritisan. Banyak faktor yang membuat jamaah jihad gagal memanfaatkan empat momentum di atas—bukan semata kejumudan dalam memandang persoalan fikih semata.

Kapasitas yang dicontohkan oleh Usman di atas adalah taraf negara. Sedangkan jamaah jihad, tentu saja manajemen organisasi hingga pengelolaan rencana aksinya jauh di bawahnya—karena bersifat sebagai jamaah, bukan negara. Yang tak kalah penting adalah penentuan definisi “maslahat” yang kadang bisa bias. Antara satu kelompok dengan lainnya bisa berbeda cara pandang dan pensikapannya.

Di titik inilah yang biasanya banyak memunculkan splinter group yang merasa tidak puas lalu memisahkan diri dan “berkreasi” lepas total dari induknya. Hubungan antara splinter dengan induk biasanya tidak harmonis, bahkan tak jarang diwarnai pertikaian fisik. Ini merupakan masalah yang luput dibidik oleh Usman.

puzzle

Tetapi bagaimanapun, tulisan Usman tetap menarik untuk direnungi. Terutama tentang abainya jamaah jihad mengelola konflik antar musuh mereka sendiri. Padahal, konflik itu mampu menyedot energi lawan cukup dominan, sehingga tidak lagi terlalu merepotkan jamaah jihad. Bahkan energi yang terkuras pada saatnya akan membuatnya betul-betul lemah di hadalan jamaah jihad itu sendiri.

Tinggal bagaimana jamaah-jamaah jihad mengambil pesan positif yang diisyaratkan Usman Zaid di atas. Kalau grade contohnya terlalu besar, dapat di-spec-down menjadi komunitas atau gerakan yang setara.

 

Diolah Hamdan dari naskah asli yang diterjemahkan oleh Abdurrahman As-Syafii.

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga