Diagram Venn, As-Suri, dan IBF 2015

Foto: IBF 2015

KIBLAT.NET — Diagram Venn atau diagram set adalah diagram yang menunjukkan semua kemungkinan hubungan logika dan hipotesis di antara sekelompok himpunan, tentu saja kemungkinan hubungan itu disebabkan kesamaan unsur yang didapat.

Misalkan himpunan A mengandung unsur 1,2,3,4 dan himpunan B mengandung unsur 4,5,6,7, maka keduanya bisa terhubung melalui unsur 4. Begitu pula jika datang himpunan C yang berunsur 3,4,5,8 maka ketiganya bisa saling berhubungan melalui kesamaan unsur yang dimiliki masing-masing himpunan, begitu seterusnya. Sebagaimana ilustrasi di bawah ini:

diagram-venn

Bagi kita, melihat gambar di atas mungkin hanya sebatas menghadirkan kenangan lama kita ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama. Namun siapa sangka, diagram yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1880 oleh John Venn justru memberi inspirasi kepada Abu Mus’ab As Suri, seorang penulis berkebangsaan Suriah yang terafiliasi dengan Al-Qaidah, tentang strategi perjuangan umat Islam dalam konteks kekinian.

Dalam tulisan beliau yang berjudul Nadhariyyah Siyasiyyah dan diterjemahkan oleh penerbit Jazeera dengan judul Visi Politik Gerakan Jihad, beliau mengatakan, “Ilustrasi matematika sederhana ini memberikan ide pemikiran tentang konsep faktor persekutuan (relasi) antar kelompok-kelompok independen dalam ilmu politik juga.” (Visi Politik Gerakan Jihad, Terjemahan Umarul Faruq Lc, Penerbit Jazera, Solo, 2010 hal : 69).

As-Suri seolah menyeru setiap kelompok Islam agar mulai mencari dan terfokus pada persamaan yang menyatukan kelompok tersebut dengan kelompok Islam lainnya, bukan lagi membicarakan perbedaan yang tak akan ada habisnya jika dibicarakan.

“Faktor persekutuan antara semua muslim adalah prinsip-prinsip Islam yang umum dan keyakinan-keyakinan dasar yang sudah disepakati (iman kepada Allah SWT sebagai Rabb, iman kepada Muhammad sebagai nabi, Al Qur’an sebagai kitab, shalat dengan menghadap kiblat) dan hal-hal lain yang sudah disepakati oleh Ahlul Qiblah. Ini adalah ruang yang besar dalam keyakinan dan prinsip.” (Ibid, hal : 70)

BACA JUGA  Terkena Stroke, Eks Presiden Tunisia Ben Ali Meninggal di Arab Saudi

Memang pada kenyataannya kita kurang terfokus pada hal-hal yang menyatukan seperti ini, meskipun sebenarnya nun jauh di relung terdalam kalbu kita tersimpan sebuah kesadaran. Kesadaran bahwa kita sebenarnya berasal dari “rahim” yang sama (Al-Qur’an dan As-Sunnah), hanya saja metode penafsiran yang terkadang membawa kita pada ujung jalan yang berjauhan.

Juga kesadaran bahwa kita mempunyai musuh yang sama, musuh yang wujudnya semakin jelas dari waktu ke waktu, musuh yang semakin kuat eksistensinya di saat masing-masing kita mengidap rabun dekat akut, sehingga tak mampu lagi mengenali wajah kawan sendiri.

“Demikian pula permasalahan keislaman, tempat suci, sejarah, dan lainnya. Semuanya adalah faktor persekutuan antara sesama muslim, dan ruangnya sangat luas tidak terbatas. Menghadapi dan membela kaum muslimin dari serangan Amerika adalah faktor persekutuan bagi seluruh kaum muslimin.” (Ibid, hal : 70)

Bagi saya ilustrasi yang digambarkan As Suri masih terdengar seperti surga kuping, bahkan cenderung utopis, sulit dijumpai. Dalam skala kecil mungkin bisa terwujud, namun dalam jumlah yang bisa “melayani” kepentingan global masih jauh panggang daripada api, apalagi di negeri ini.

Namun pesimisme saya tersebut ternyata “agak” salah. Pada tanggal 27 Februari hingga 8 Maret 2015 dihelat sebuah event bernama Islamic Book Fair. Pada pameran buku terbesar se-Indonesia yang digelar di area Istora Senayan tersebut, terkumpul semua golongan Islam (Indonesia) dalam rupa penerbit buku dari berbagai macam latar belakang mazhab/manhaj.

Ada salafi, mulai dari yang jihadi sampai (the so called) Wahabi, ada tradisionalis semacam NU dan kawan-kawan, modernis reformis semisal Muhammadiyah dan Persis, bahkan (yang sering disebut) Syiah pun ada. Juga dari berbagai macam harakah/pergerakan; baik produk lokal semacam Hidayatullah, #indonesiatanpaJIL, ODOJ, Wahdah, FLP, dan sebagainya. Maupun produk impor semacam HT(I), Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dan saudara-saudaranya (Hamas, PKS, dan saudara-saudaranya).

BACA JUGA  Aliansi BEM-SI Kritisi Sikap Pemerintah Terkait Kebakaran Hutan Riau

Tidak ada konflik, tidak ada saling serang atau saling caci, tidak ada saling bunuh meski di samping stand Salafi ada stand Syiah tegak berdiri. Tidak ada protes bid’ah, haram, dan neraka, meski di hadapan penjaja buku dan stand-stand yang berisi jenggot, celana cingkrang, dan cadar ada hentakan alunan musik bertalu-talu.

Tidak ada pandangan mencibir maupun nada menyindir meski potongan-potongan yang seringkali dilabeli teroris berpapasan dan bercampur baur dengan perempuan-perempuan jilbab ketat dan para hijabers. Semuanya menyatu, benar-benar menyatu. Menjadi satu harmoni yang terlihat indah.

Sayang, harmoni tersebut tidak tercipta oleh kesadaran bersama, namun ada kesamaan kepentingan sesaat yang membuat mereka lupa sejenak akan perselisihannya, yaitu kepentingan bisnis. Sehingga setelah perhelatan tersebut, konflik dan perselisihan pun dimulai kembali.

Akhirnya saya harus kembali kepada pesimisme saya. Ketika idealisme keyakinan dapat dengan mudah dikalahkan oleh pragmatisme kepentingan. Ketika gaung untuk mengubah Indonesia menjadi negara yang islami tertimbun begitu saja, semakin sayup di antara riuh tumpukan tujuan-tujuan kapitalis dan bisnis yang memang selalu terdengar manis. Dan ketika suara gemerincing uang menjadi satu-satunya faktor persekutuan umat Islam.

Di situ kadang saya merasa sedih…   

Penulis: Rusydan Abdul Hadi, aktivis HMI

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Internet di Indonesia, Sudah Layak Anak?

Opini - Jum'at, 19/07/2019 18:56

Sosok Pemimpin Unggul yang Dicintai Manusia

Opini - Jum'at, 05/07/2019 17:20