Kolom Abu Rusydan: Agar Tsabat di Jalan yang Panjang dan Berat

KIBLAT.NET — Bagaimana kita menapaki jalan ini dengan sabar dan tetap teguh berpegang kepada din Allah SWT, sehingga bisa mengantarkan kita kepada ujung yang membahagiakan? Banyak, bahkan banyak sekali para penempuh jalan ini yang berguguran di tengah jalan. Baik berguguran dalam pengertian yang sebenarnya, tidak mampu bersabar, maupun dalam pengertian yang lain.

Paling tidak ada empat hal yang harus kita punyai.

  1. Shahihul Qasdi (lurusnya maksud dan tujuan)
  2. Shahihul Iradah (lurusnya kemauan dan keinginan)
  3. Shahihul Ilmi, (lurusnya ilmu), dan
  4. Shahihul I’tiqad (lurusnya keyakinan).

Keempat pilar ini harus ada semuanya. Tidak mungkin kita pisahkan. Lurus niat dan iradah, tapi ilmunya keliru, tidak akan mengantarkan manusia kepada tujuan. Ilmunya benar, keyakinannya benar, tetapi tujuannya keliru, juga tidak menyampaikan orang kepada tujuan yang dikehendaki.

Ada sebuah kisah cukup terkenal di Palestina, yaitu tentang Ummu Nidhal Al-Falisthiniyyah. Ketika para remaja Palestina sibuk melakukan intifadhah, melempari tentara Israel di jalanan dengan batu, Ummu Nidhal melarang anak-anaknya melakukan hal seperti itu. Ibu itu tidak mengizinkan anaknya ikut dalam aksi yang lazimnya dilakukan oleh rakyat Palestina, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan. Mengapa?

Pertanyaan pun terjawab, ketika orang-orang dikejutkan oleh aksi Mahmud, putra sulung Ummu Nidhal. Membawa senjata dan bom, Mahmud maju seorang diri ke markas tentara Israel. Dia menewaskan banyak tentara Israel, sebelum akhirnya ia meledakkan dirinya dengan bom. Saat bertakziah, orang-orang bertanya bagaimana Mahmud bisa seberani itu.

Oleh Ummu Nidhal dijawab, “Saya tidak menginginkan anak-anak saya menjadi sekadar pelempar batu di jalanan. Saya menginginkan mereka betul-betul memahami bagaimana cara yang benar melawan Israel.” Ia melanjutkan, “Adiknya (Mahmud) masih enam orang. Semua sudah saya didik dan siapkan dari awal untuk saya persembahkan kepada Allah SWT, untuk memberikan khidmat terbaik bagi Islam.” Penggalan kata terakhir barusan menarik untuk kita cermati.

Contoh lain dari Shahihul Qasdhi ini adalah kisah Hannah binti Faqudh, istrinya Imran. Ketika ia bernazar kepada Allah SWT:

إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

“(Ingatlah), ketika isteri Imran berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 35)

BACA JUGA  Aliansi BEM-SI Kritisi Sikap Pemerintah Terkait Kebakaran Hutan Riau

Ya Allah, apa yang ada dalam kandunganku ini, aku nadzarkan kepada Engkau. Akan  aku jadikan muharroron. Muharroron itu seperti apa yang dikatakan oleh Ummu Nidhal tadi, yaitu dipersembahkan untuk Allah SWT untuk memberikan pelayanan yang mulia terhadap Islam dan kaum muslimin.

Pertama: Shohihul qoshdi, lurus niat, adalah perkara yang pertama dan mendasar sekali.

Kedua: Shahihul Iradah, yaitu benarnya keinginan kita.

وَمَنْ أَرَادَ ٱلآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Israa’ : 19)

Maka merekalah orang-orang yang usahanya “disyukuri.” Usahanya akan berhasil.

Lurusnya iradah ini sangat penting. Namun, bagaimana mengukur sebuah iradah itu lurus atau tidak? Sebab, berapa banyak iradah (keinginan) itu tidak sesuai dengan apa yang ia qashd (maksud) sebelumnya.

Untuk mengetahui atau tanda-tanda bahwa iradah kita itu sehat atau tidak, ada tiga tanda yang disebutkan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah RHM.

  1. أَنْ يَكُوْنَ هَمُّ الْمُرِيْدِ دَائِمًا إِلى مَا يُرِيْدهُ

“Hendaknya obsesi seseorang tertuju kepada apa yang ia inginkan.”

Bagaimana obsesi, cita-cita, keinginan yang menguasai pikiran, yang menguasai perasaan, yang menguasai kehidupannya itu adalah apa yang dia inginkan. Kalau iradah kita tentang akhirat, bertemu Allah dalam keadaan ridha dan diridhai, maka setiap saat pikiran kita, perasaan kita, segala gerak-gerak kita selalu tertuju kepada kebahagiaan akhirat, selalu ke sana. Tidak boleh lupa atau berubah. Ya, lupa kadang-kadang memang wajar, tetapi harus segera kembali dan ingat lagi.

  1. إِسْتِعْدَادهُ لِلِقَائِهِ

“Melakukan persiapan untuk menyambutnya.”

Ketika pikiran, perasaan dan totalitas diri sudah dikuasai oleh keinginan hidup bahagia di akhirat namun tidak ada kerja nyata, maka tidak akan pernah sampai kepada tujuan. Kerja nyata itu harus diwujudkan walau sekecil apapun semampu kita. Walaw bi syiqqi tamroh, walaupun dengan separoh biji kurma, harus kita harus wujudkan.

  1. حُزْنُهُ عَلَى وَقْتٍ مَرَّ بِغَيْرِ عَمَلٍ اَلْمُوْصِلِ إِلَى مَا يُرِيْدُ
BACA JUGA  Kashmir yang Terdampar

“Rasa sedih ketika waktu berlalu tanpa aktivitas yang akan menyampaikannya kepada apa yang diinginkan.”

Ada sebuah kesedihan yang menikam apabila ada waktu itu terlewat, tanpa amalan yang nyata, yang mengantarkan ia kepada kebahagiaan akhirat. Dia merasa sedih sekali.

Ketiga: Shohiihul ‘ilmi. Lurus ilmu kita.

Hari ini banyak orang yang semangat, tetapi tidak memberangkatkan semangatnya dari nash syar’i yang benar. Kemudian mereka tidak disiplin dengan tuntunan syar’i. Bahkan kadang-kadang mereka itu mencampuradukkan nafsu mereka. Nafsunya lebih dahulu, kemudian baru mencari dalil syar’inya. Ini masalah.

Sejak awal kita harus meluruskan dalam diri kita bahwa cara berpikir kita, cara berperasaan kita, cara beramal kita, cara berbuat kita harus dibimbing dengan al-‘ilmu. Ilmu yang benar. Tidak boleh dengan perasaan. Tidak boleh dengan perasaan.

Keempat: Shahihul I’tiqad

Ini hal yang menarik. Bagaimana ada kepercayaan diri yang luar biasa, yaitu yakin bahwa dia berada di atas kebenaran dan yakin bahwa Allah akan menolongnya. Ini perkara yang sangat penting. Teladan dalam hal ini adalah Hajar Ummu Ismail.

Ketika Hajar ditinggalkan oleh Ibrahim AS di sebuah lembah yang tidak ada tanaman dan tidak ada penduduknya. Bayangkan meletakkan anak dan istrinya di sebuah lembah yang sepi, taka da apa-apa. Tidak ada air, tidak ada makanan dan tidak ada orang. Tetapi karena itu adalah perintah Allah, Nabi Ibrahim AS meninggalkan anak dan istrinya tanpa menoleh lagi.

Hajar pun bertanya kepada suaminya:

اَللّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟

“Apakah Allah memerintahkanmu untuk ini?”

Dijawab Nabi Ibrahim, “Iya, benar.”

Lalu dengan mantap Hajar berkata:

إِذًا لَنْ يُضَيِّعُنَا

“Kalau begitu, Ia tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Kalimat yang paling menarik adalah ketika Hajar Ummu Isma’il ini mengetahui bahwa kepergian Nabi Ibrahim AS adalah karena perintah Allah, tumbuh keyakinan bahwa “Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Kalimat sederhana tapi berangkat dari sebuah kepercayaan diri yang kuat.

Keyakinan yang kuat bahwa Allah akan menolongnya. Dia berada di atas kebenaran dan Allah akan menolongnya, Dan betul memang, Allah tidak akan menyia-nyiakan.

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Jangan Sepelekan Infaq!

Kolom - Kamis, 31/10/2013 06:30

Bencana Itu Bermula dari Kikir

Kolom - Sabtu, 12/10/2013 13:07