Netwar: Era Baru Perang Media Online

“Internet adalah medan perang jihad, tempat untuk berdakwah, wahana untuk menghadapi musuh-musuh Allah. Setiap individu hendaknya menganggap dirinya sebagai mujahid media, mendedikasikan jiwanya, harta dan waktunya bagi Allah.”

KIBLAT.NET – Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh salah satu media jihadi, Al-Fajr Media pada 6 Mei 2011. Perang tak lagi terbatas dalam area nyata, tapi meluas ke berbagai medan dalam dunia maya. Meskipun bukan dari kalangan militan terlatih atau veteran aktif, siapa saja dapat urun rembug di dalamnya. Setiap orang memiliki kesempatan untuk hadir mengikuti perkembangan yang ada.

Penyebaran konten-konten jihadi di berbagai tempat dalam dunia maya, seolah memberi “layanan online” bagi peserta yang ingin hadir di medan jihad sesungguhnya. Meskipun tak langsung terjun, para pemirsa dimanjakan dengan tontonan yang kaya dengan audio visual. Sehingga, gambaran perang pun jelas tergambar dalam diri mereka.

Lebih mengena lagi, konten-konten yang disebarkan lewat media sosial. Facebook, Youtube dan Twitter menjadi satu wahana khusus interaksi para mujahidin dan para pemimpin mereka. Dalam hal ini, bimbingan, arahan umum atau komunikasi strategis dari pemimpin dapat terkoordinasi di dalamnya. Selain itu, dapat menarik simpatisan dari orang-orang yang perhatian terhadapnya.

attack

Bentuknya bisa dengan retweet postingan di Twitter, komentar di Youtube, atau like di Facebook. Siapapun dapat terhubung di dalamnya. Sehingga, konten-konten yang dimaksud pun dapat mengena dalam diri follower. Hubungan interaksi seperti ini tak lagi membutuhkan usaha yang berlebih. Bahkan, sambil tidur pun hal itu dapat diikuti.

Konsep Netwar

Propaganda online yang disebarkan media milik mujahidin layaknya sekumpulan lebah atau burung yang terus bersinergi. Saat terbang bergerombol, mereka saling berkoordinasi satu sama lain tanpa terputus. Ketika satu elemen jatuh, maka yang lainnya langsung menutup guna mempertahankan bentuk. Hingga mencapai tujuan, kumpulan ini terus menjadi pendukung satu sama lain. Berkelanjutan dan terus menerus.

Inilah yang dinamakan Netwar, yang mengadopsi konsep “swarmcast” atau sekerumunan lebah atau burung yang terbang bersama. Konten-konten yang disebarkan para jihadis akan terus muncul tanpa henti. Saat satu akun atau media diblokir, akan muncul kembali akun-akun semisal dengannya dalam bentuk lain. Tetap terjaga dan tanpa henti membuat propaganda.

BACA JUGA  Kemensos: Ahli Waris Korban Covid-19 Terima Santunan 15 Juta

Tiga Unsur Netwar

Jaringan maya, memudahkan tujuan yang belum bisa dicapai dalam dunia nyata. Tanpa harus lelah menghabiskan banyak dana dan tenaga, ia dapat berpetualan di dunia maya. Ide atau fikiran dalam dirinya dapat dengan mudah tersebar, menembus batas negara dan benua. Dapat meloncat dari satu koordinat kepada koordinat yang lain. Semuanya bisa menikmati, hanya dengan tehnik “satu klik”.

Maka, di sinilah keistimewaan yang dimiliki netwar, yaitu resilience (ketahanan), speed (kecepatan), dan agility (kelincahan). Ketahanan dalam hal ini salah satu bentuknya adalah dalam penggunaan Twitter. Pengguna akun dapat membuat beberapa back-up akun ketika akun utama telah dihilangkan. Info kontak dan konten-konten dapat terus dipertahankan sehingga data awal masih bisa dimuat.

Fungsi lainnya adalah dapat mempertahankan saluran resmi kelompok jihadis. Sehingga dapat menjalin komunikasi aktif dengan simpatisan. Juga dapat menjadi mercusuar untuk berbagi link-link terkait visi dan misi yang diemban. Hal ini dapat berjalan melalui sebuah hastag yang dipopulerkan. Hanya dengan mengetahui hastag tersebut, semua pengguna Twitter dapat “tergabung” di dalamnya.

social-media-logos

Terkait unsur kecepatan, Netwar memungkinkan proses transfer konten yang cepat ke setiap individu. Semisal video yang diunggah lewat Youtube. Sekali diunggah, para pengguna internet dapat langsung mendownload video dari berbagai perangkat yang terhubung internet. Walaupun selang beberapa waktu pihak penyedia berhasil menghapus, video telah di tangan pen-download, memungkinkan untuk disebarkan kembali melalui penyedia lainnya.

Belum lagi jika dikombinasi dengan sosial media Twitter. Setelah upload Youtube selesai, link akan dibagikan lewat media tersebut. Tak jarang, dalam berbagai link juga menggunakan situs-situs penyimpanan lain. Situs justpaste.it atau archive.org dapat menjadi lokasi selanjutnya dalam menyebarkan konten.  Dari tempat tersebut, video atau konten lainnya juga dapat diunduh.

Unsur lain dari Netwar adalah kelincahan. Yaitu kemampuan untuk bergerak cepat dalam multi platform (penyedia layanan konten). File-file yang diposting dapat secara cepat berpindah antar satu platform dengan platform lainnya. Hal ini juga dapat menjaga intensitas konten yang dimuat. Sehingga tidak hanya berada dalam satu penyedia layanan saja.

BACA JUGA  Pemerintah Butuh Dana Rp 300 Triliun Jika Terapkan Lockdown

Dengan banyaknya platform yang digunakan, untuk menghapus sebuah konten dalam satu platform saja, harus menghubungi langsung kepada penyedia pusat. Hal ini membutuhkan waktu, sedangkan penyebaran konten masih terus berlangsung ke berbagai platform dan melalui akun-akun yang dibuat. Alurnya bisa dimulai lewat platform Youtube, Twitter, ataupun penyedia lainnya.

Di sisi lain, konten yang diunggah juga dapat diposting dengan multi bahasa. Bahasa yang digunakan sesuai dengan para peminat konten. Dalam satu bahasa saja –ketika berhasil diunggah—dapat menjaring banyak viewer. Bagaimana halnya jika diposting dalam multi bahasa? Berbagai peminat dengan perbedaan latar belakang dan wilayah dapat menikmati konten dengan mudah.

download-1

Sebuah Perlawanan atas Netwar

Internet telah menjadi sarana yang produktif untuk mengembangkan sebuah pemikiran. Tak hanya itu, seseorang dapat bergabung dengan sebuah kelompok hanya dengan berkecimpung di dalamnya. Fasilitas yang disediakan pun juga banyak, dan dapat menjadikan sebuah kelompok memiliki mercusuar bagi pendukungnya, terutama dalam Twitter.

Dari sinilah sebuah upaya perlawanan dibuat untuk menghalangi berlangsungnya Netwar. Para penegak hukum berusaha menjalin kerjasama yang lebih kuat terhadap perusahaan teknologi yang konsen dalam hal ini. Serta membuat regulasi yang sah untuk menghambat laju pertumbuhannya. Di samping, mumbuat kontra narasi atas narasi-narasi yang dibuat oleh para jihadis.

Akan tetapi, semua tindakan tersebut belum sepenuhnya dapat mematahkan unsur-unsur dalam Netwar. Ketahanan, kecepatan, dan kelincahan tetap terus berjalan. Karena banyak akun atau individu jihadis yang bermain di dalamnya. Mungkin, satu rekomendasi lain terkait hal tersebut adalah tidak hanya fokus untuk menghilangkan akun personal jihadis, tapi langsung menuju ke sistem pusat yang terkait dengannya. Akankah metode ini berhasil, mari kita lihat perkembangan selanjutnya!

Penulis: Rudy

Diinisiasi dari www.terrorismanalysts.com

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Kampanyekan Myanmar, CEO Twitter Panen Kecaman

Indonesia - Selasa, 11/12/2018 11:05

Twitter Hapus 10.000 Akun yang Mengajak Golput

Amerika - Sabtu, 03/11/2018 09:09