Beginilah Cara Penjajah Salibis Barat Menelikung Revolusi Umat (Bag. 2)

Foto: Egypt Map

Bagian 1 dari tulisan “Cara Penjajah Salibis Barat Menelikung Revolusi Umat” dapat Anda baca di sini.

KIBLAT.NET – Umat Islam beberapa kali melakukan jihad fi sabilillah untuk mengusir penjajah Inggris dan penjajah salibis lainnya yang bermain di balik layar dari bumi Mesir. Penjajah salibis Inggris dan Barat mematahkan dan  mengakali gerakan-gerakan jihad fi sabilillah tersebut dengan memakai boneka-bonekanya di Mesir dan negeri Arab lainnya.

Dinasti Ali Pasya di Mesir

Mesir pada saat itu berbentuk kerajaan, dengan kekuasaan diwarisi secara turun-temurun oleh keluarga Khudaiwi Muhammad Ali Pasya. Muhammad Ali Pasya adalah perwira militer Daulah Utsmaniyah yang diangkat menjadi gubernur Mesir sejak tanggal 20 Rabi’ul Awwal 1220 H/ 18 Juni 1805 M.

Muhammad Ali Pasya mendapatkan pendidikan militer dari Perancis. Ia seorang pejabat militer yang sangat ambisius. Ia pula yang memulai proses sekulerisasi di Mesir, dengan program pengiriman para mahasiswa untuk belajar di Perancis. Pada masa kekuasaannya, proses adopsi hukum-hukum sekuler Perancis mulai dilaksanakan di Mesir.

Syaikh Muhammad Qutub, Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, dan sejumlah sejarawan Islam lainnya menyebutkan bahwa Muhammad Ali Pasya memiliki hubungan erat dengan gerakan Freemasonry di Mesir. Gerakan Freemasonry di Mesir pertama kali didirikan oleh Napoleon Bonaparte pada masa penjajahan Perancis atas Mesir (1798-1802 M). (Ali Muhammad Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-Utsmaniyah; ‘Awamilu An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, hlm. 343-347)

Syaikh Muhammad Qutub menulis, “Perancis mengasuh sepenuhnya Muhammad Ali Pasya agar ia kelak melaksanakan seluruh rencana Perancis. Maka Perancis membuatkan Muhammad Ali Pasya sebuah pasukan terlatih, dengan ilmu militer paling modern dan dipersenjatai dengan senjata paling modern pada masa itu, di bawah instruktur perwira Perancis, Sulaiman Pasya.” (Muhammad Qutub, Waqi’una Al-Mu’ashir, hlm. 205)

Muhammad Ali Pasya

Muhammad Ali Pasya

Muhammad Ali Pasya melakukan pemberontakan terhadap Daulah Utsmaniyah pada tahun 1247 H. Pasukan Mesir yang dikirimnya berhasil merebut seluruh wilayah Palestina, Yordania, Lebanon, dan Suriah dari tangan Daulah Utsmaniyah. Pasukan Muhammad Ali Pasya melintasi pegunungan Taurus dan Adanah (wilayah Turki Asia), hingga mencapai wilayah dekat Istambul. Akibatnya, hampir saja ibukota Daulah Utsmaniyah jatuh ke tangan pasukan Mesir.

Maka Inggris, Perancis, dan Rusia melakukan campur tangan sehingga memaksa Gubernur Mesir Muhammad Ali Pasya dan Sultan Mahmud II dari Daulah Utsmaniyah untuk mengadakan perundingan. Perundingan Kuhatiyah pada tahun 1248 H menetapkan beberapa poin penting:

  • Muhammad Ali Pasya menarik mundur pasukannya dari wilayah Asia kecil.
  • Muhammad Ali Pasya menjadi gubernur Mesir seumur hidup.
  • Muhammad Ali Pasya berhak atas empat wilayah Syam yang telah didudukinya, yaitu Akka, Tripoli, Damaskus, dan Aleppo. Serta wilayah Kepulauan Kreta.
  • Ibrahim bin Muhammad Ali Pasya diangkat sebagai gubernur Adanah, wilayah yang berdekatan dengan Istambul. (Mahmud Syakir, At-Tarikh Al-Islami: Al-‘Ahdu Al-Ustmani, VIII/169-170)

Muhammad Ali Pasya pula yang menumpas gerakan dakwah Nejed dan menjajah Sudan. Invasi militer Muhammad Ali Pasya ke Sudan dimulai pada tahun 1236 H/ 1821 M. Muhammad Ali Pasya mengangkat seorang perwira militer Inggris untuk menjadi gubernurnya di Sudan. Penjajahan Mesir – Inggris di Sudan pada akhirnya tumbang oleh gerakan jihad Harakah Mahdiyah.

Meskipun secara de jure Mesir masih berada dalam kekuasaan Daulah Utsmaniyah, namun secara de facto Mesir telah terlepas dari Daulah Utsmaniyah. Sebab, Mesir menjadi kerajaan semi independen, dimana Muhammad Ali Pasya dan anak keturunannya yang menjadi raja penuh.

Dalam hal ini, campur tangan Inggris, Perancis, dan Rusia tersebut merupakan “upaya cerdas” untuk melumpuhkan kekuatan Daulah Utsmaniyah. Sebab, Mesir memiliki kedudukan yang sangat strategis secara politik, ekonomi, dan geografi. Saat Mesir telah semi merdeka dari Daulah Utsmaniyah, maka upaya Inggris atau negara salibis Barat lainnya untuk menjajahnya pada suatu hari kelak, akan lebih mudah dan ringan.

BACA JUGA  Kedudukan Hari Asyura dalam Islam

Dr. Muhammad Moro menulis: “Lebih dari itu, Muhammad Ali Pasya mempergunakan sumber-sumber pemasukan keuangan Mesir yang sangat besar untuk berperang melawan Khilafah Utsmaniyah, sehingga melemahkan Khilafah Utsmaniyah, sekaligus melemahkan Mesir. Dengan tindakan itu, ia telah mengeliminir peranan Khilafah Utsmaniyah dalam menghadapi negara-negara Eropa di benua Eropa, dan membuka jalan untuk meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah setelah itu.”

“Tindakannya itu juga menyebabkan Mesir tidak bisa menikmati sumber-sumber pemasukan keuangannya dan potensi-potensinya, yang habis dalam perang melawan Khilafah Utsmaniyah. Akibatnya, ia menghalangi Mesir dari mencapai kemajuan, dan membuka jalan untuk meruntuhkan Mesir, dan bersamanya runtuh pula Afrika Utara. Bahkan, setelah itu seluruh Afrika jatuh dalam cengkeraman penjajah Eropa.” (Muhammad Moro, Al-Harakah Al-Islamiyah fi Mishra: Ru’yan min Qarib, hlm. 50)

Muhammad Moro penulis Al-Harakah Al-Islamiyah fi Mishra: Ru’yan min Qarib

Muhammad Moro penulis Al-Harakah Al-Islamiyah fi Mishra: Ru’yan min Qarib

Mesir di bawah Penjajahan Inggris

Cucu Muhammad Ali Pasya yang bernama Khudaiwi Ismail bin Ibrahim Pasya adalah raja ketiga di Mesir. Pemerintahan Khudaiwi Ismail Pasya ditandai oleh kebobrokan administrasi, pemerintahan dan kemerosotan ekonomi. Akibatnya hutang Mesir meningkat dari 3 juta Poundsterling di tahun 1863 menjadi 80 juta Poundsterling pada tahun 1876.

Untuk menyelamatkan keuangan negara dari kebangkrutan, Mesir menjual saham Terusan Suez kepada asing dan dibeli Inggris sebanyak 44%. Sejak saat itulah Inggris mulai masuk ke Mesir menanamkan pengaruhnya, bahkan hingga campur tangan mengurus urusan dalam negeri Mesir.

Pada tahun 1297 H, Inggris dan Perancis bersekongkol untuk menurunkan Khudaiwi Ismail dari kursi kekuasaannya di Mesir. Sebagai gantinya, Inggris dan Perancis mengangkat anaknya Khudaiwi Tawfiq bin Ismail Pasya sebagai penguasa Mesir boneka Inggris. Tak puas dengan campur tangan, secara resmi pada tahun 1882 pasukan Inggris menduduki Mesir. Kerajaan Mesir secara de facto menjadi wilayah jajahan Inggris, di bawah mandat seorang Gubernur Jendral Inggris. Adapun raja Khudaiwi Tawfiq Pasya dan parlemen Mesir tak lebih dari boneka di tangan penjajah Inggris.

Jihad Pertama Mengusir Penjajah Inggris dari Mesir

Penduduk Mesir merasakan kezaliman dan penindasan yang sangat berat, yang dilakukan oleh Khudaiwi Tawfiq Pasya dan tuannya, penjajah Inggris. Kezaliman Khudaiwi Tawfiq dan penjajah Inggris di Mesir mendorong seorang perwira militer bernama Ahmad Arabi bersama beberapa perwira dan tentara Mesir untuk melakukan perlawanan bersenjata.

Akibat perlawanan tersebut, Khudaiwi Tawfiq melarikan diri dari Kairo ke Alexandria dan mendapatkan perlindungan dari Inggris dan Perancis. Kemudian Angkatan Laut Inggris membombardir Alexandria pada tanggal 11 Juli 1882 M. Pasukan Inggris membumihanguskan kota Alexandria dan membantai penduduknya yang berupaya mempertahankan kota itu mati-matian.

Pasukan Ahmad Arabi bergerak maju ke Alexandria untuk menghadapi pasukan Inggris, namun pasukan Inggris telah menguasai sepenuhnya Alexandria. Terpaksa Ahmad Arabi menarik mundur pasukannya dan membuat pertahanan di wilayah Kafr Dawwar.

Selain itu, Ahmad Arabi mengirim kereta api khusus dan meminta Khudaiwi Tawfiq untuk kembali ke Kairo. Namun Khudaiwi Tawfiq menolak permintaan itu. Ia lebih memilih perlindungan Inggris. Ia bahkan memecat Ahmad Arabi dan mengeluarkan perintah kepada tentara Mesir untuk tidak menaati komando Ahmad Arabi.

Dewan ulama Al-Azhar yaitu Syaikh Sayyid Muhammad ‘Ulaisy, Hasan Al-Adawi, Al-Khalfawi dan lain-lain pada tanggal 6 Ramadhan 1299 H/22 Juli 1882 M telah mengeluarkan fatwa tentang murtadnya Khudaiwi Tawfiq bin Ismail Pasya karena pengkhianatannya kepada agama Islam dan negara Mesir serta keberpihakannya kepada penjajah Inggris.

Dihadapkan kepada jihad tentara dan rakyat Mesir tersebut, penjajah Inggris melakukan manuver politik. Duta Besar Inggris di Istambul berhasil menekan Sultan Daulah Utsmaniyah untuk memvonis Ahmad Arabi sebagai pemberontak terhadap Daulah Utsmaniyah. Saat itu, Daulah Utsmaniyah sendiri berada dalam kelemahan dan kemerosotan, sehingga menjadi bahan ejekan bangsa-bangsa penjajah Eropa. Akibatnya posisi Ahmad Arabi terjepit di antara tiga kekuatan besar; penjajah Inggris, penguasa Daulah Utsmaniyah, dan penguasa Mesir boneka Inggris.

Terusan Suez dilewati kapal-kapal asing

Terusan Suez dilewati kapal-kapal asing

Melalui Terusan Suez, Angkatan Laut Inggris melakukan serangan besar-besaran terhadap pasukan Ahmad Arabi di wilayah Kafr Dawwar pada bulan Ramadhan 1299 H. Kali ini pasukan Ahmad Arabi mengalami dua kali pengkhianatan dari dalam. Dari kalangan birokrat, Ketua Parlemen Mesir Muhammad Sulthan Pasya melakukan penggembosan terhadap pasukan Ahmad Arabi untuk tidak mengangkat senjata melawan penjajah Inggris. Lalu dari kalangan militer, perwira militer Ali Khanfis membocorkan kepada Inggris strategi pertahanan pasukan Ahmad Arabi dan letak-letak kelemahannya.

BACA JUGA  Akhir Nasib Penguasa Tiran

Dua pengkhianatan keji itu memudahkan penjajah Inggris untuk mematahkan jihad pasukan Ahmad Arabi. Ahmad Arabi dan beberapa komandan pasukan lainnya ditawan oleh Inggris dan diadili di Kairo. Awalnya mereka divonis hukuman mati, namun kemudian diganti dengan hukuman penjara seumur hidup. Dengan demikian, jihad fi sabilillah pertama untuk mengusir penjajah Inggris dari Mesir menemui kegagalan.

Jhad Kedua Mengusir Penjajah Inggris dari Mesir

Pada tahun 1911 M, penjajah fasis Italia melancarkan penjajahannya di wilayah Italia setelah berhasil menduduki wilayah-wilayah pantai Libya. Penjajahan Italia mendapatkan perlawanan sengit dari rakyat Muslim Libya yang dimotori oleh gerakah Sanusiyah. Daulah Utsmaniyah mendukung sepenuhnya jihad gerakan Sanusiyah, dengan cara mengirimkan senjata, amunisi, perwira militer, dan logistik bagi mujahidin di Libya. Peperangan antara mujahidin Libya melawan penjajah Italia terus berlanjut hingga masa terjadinya Perang Dunia pertama (1914-1918).

Gerakan Sanusiyah menjalin kesepakatan dengan Daulah Utsmaniyah untuk menggempur pasukan Inggris yang menjajah Mesir. Menurut kesepakatan, gerakan Sanusiyah akan menyerang pasukan Inggris dari arah barat melalui daerah padang pasir Libya dan pantai Laut Mediterania. Sementara pasukan Daulah Utsmaniyah menyerang pasukan Inggris dari arah timur melalui Palestina.

Serangan gerakan Sanusiyah dan pasukan Daulah Utsmaniyah tersebut dilaksanakan pada tahun 1915 M. Serangan tersebut merupakan upaya jihad fi sabilillah kedua untuk mengusir penjajah Inggris dari bumi Mesir.

Sayangnya, upaya itu mengalami kegagalan, karena banyak sebab. Di antaranya, pasukan Daulah Utsmaniyah di Palestina harus menghadapi tikaman dari revolusi Arab pimpinan Syarif Husain. Revolusi Arab melawan Daulah Utsmaniyah sendiri terjadi melalui bujuk rayu Inggris, melalui agen intelijennya yang bernama Lawrence of Arabia. Sekali lagi, Inggris memakai tangan bangsa Arab dan bangsa Mesir sendiri untuk mematahkan jihad fi sabilillah.

Hal yang menarik dalam upaya jihad kedua ini adalah banyak tentara Mesir dipimpin oleh beberapa perwira seperti Mahmud Labib dan Shalih Al-Harb bergabung dengan serangan yang dilancarkan oleh gerakan Sanusiyah. Tujuan para perwira dan tentara Mesir tersebut adalah mengusir penjajah Inggris dari Mesir. Saat serangan itu dipatahkan oleh pasukan Inggris, para perwira Mesir tersebut menjadi buronan politik dan buronan perang. Mereka melarikan diri ke Istambul, kemudian ke Jerman (sekutu Daulah Utsmaniyah). Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis: Fauzan

Referensi:

Dr. Muhammad Moro, Al-Harakah Al-Islamiyah fi Mishra: Ru’yah min Qarib, Kairo: Muassasah Al-Ahram, cet. 1, 1414 H.

Dr. Ali Juraisyah, Hadhiru Al-Alam Al-Islami, Jeddah: Darul Mujtama’, cet. 4, 1410 H.

Mahmud Syakir, At-Tarikh Al-Islami VIII: Al-‘Ahdu Al-Utsmani, Beirut: Al-Maktab Al-Islami, cet. 4, 1421 H.

Husain Muhammad Hamudah, Asraru adh-Dhubath Al-Ahrar wa Al-Ikhwan Al-Muslimun, Kairo: Az-Zahra’ lil-I’lam Al-Arabi, cet. 1, 1405 H.

Ali Muhammad Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-Utsmaniyah; ‘Awamilu An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, Kairo: Dar At-Tauzi’, cet. 1, 1421 H.

Muhammad Qutub, Waqi’una Al-Mu’ashir, Kairo: Dar Asy-Syuruq, cet. 1, 1418 H.

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Netwar: Era Baru Perang Media Online

Siyasah - Jum'at, 17/07/2015 21:50