Lebih Sadis dari Nazi, Dokumen Rahasia Menguak Kejahatan Assad

Foto: Suriah

KIBLAT.NET, Damaskus – Badan peneliti dan pengacara internasional berhasil mengumpulkan bukti dari tempat penyimpanan dokumen rahasia Suriah yang merinci kejahatan perang Presiden Bashar Assad. Dokumen ini dinyatakan sebagai bukti kejahatan perang terkuat pasca kasus kejahatan Nazi di pengadilan Nuremberg, Jerman.

Dikutip dari Al-Jazeera pada Ahad (17/04), bukti-bukti ini terdiri 600.000 halaman dokumen resmi dari Suriah. The Telegraph mengungkapkan bahwa berat dokumen ini sampai berton-ton. Saat ini, masih ada 500.000 halaman yang masih dalam wilayah Suriah, menunggu angkutan yang aman ke luar negeri.

Pembocor dokumen ini bernama Abdel Majid Barakat (24 tahun). Ia adalah petugas penjaga berkas administrasi di Komite Keamanan Pemerintah Suriah, namun diam-diam bekerja untuk oposisi. Dia akhirnya melarikan diri ke Turki pada tahun 2013 dengan membawa dokumen tersebut sebanyak yang ia bisa.

Berkas-berkas tersebut diberikan kepada Komisi Keadilan Internasional dan Akuntabilitas (CIJA) dan disimpan secara rahasia di salah satu kota di Eropa. CIJA adalah sebuah organisasi pengacara dan penyidik ​​yang didanai oleh Pemerintah Inggris.

Dokumen ini membuktikan bahwa Assad telah mendirikan sebuah “Central Crisis Management Cell” yang memberikan wewenang penuh kepada kepala keamanan pemerintah untuk meredam aksi damai di seluruh negeri. Institusi ini berbasis di Damaskus, dan dipimpin oleh Mohammad Said Bekheitan, orang nomor dua di partai Ba’ath Suriah.

BACA JUGA  Narapidana di Penjara SDF Berontak, Sejumlah Tahanan ISIS Kabur

Akibat pemberian wewenang itu, ribuan warga sipil mendekam di penjara, mereka disiksa dan tidak sedikit yang berujung kematian. Rumah Sakit Pemerintah pun turut menjadi tempat penyiksaan. Bahkan banyak jasad yang ditumpuk di WC lantaran kamar mayat meluap.

Berkas-berkas ini memuat empat ratus halaman terkait penyiksaan dan pembunuhan secara sistematis terhadap puluhan ribu warga Suriah di bawah kebijakan pemerintah yang tertulis dan dilegalkan oleh Bashar Assad. Sistem ini dilakukan terkoordinasi antara badan-badan pemerintahan dan intelijen negara.

Apakah Assad Akan Diadili?

Stephen Rapp, mantan kepala jaksa PBB yang memimpin kasus tuduhan terhadap para individu yang terlibat dalam genosida Rwanda, mengatakan kepada the New Yorker bahwa dokumen rahasia yang bocor itu lebih kuat daripada bukti kejahatan perang manapun sejak pengadilan Nuremburg.

“Ketika tiba saatnya ia diadili, kita akan memiliki bukti yang jauh lebih baik daripada yang dari kejahatan perang yang lain sejak Nuremberg,” ujarnya.

Geoffrey Robertson QC, Pegiat Hak Asasi Manusia senior mengatakan kepada The Telegraph bahwa Assad setidaknya hannya aman untuk saat ini saja.

“Selama dia dilindungi oleh Rusia, maka Dewan Keamanan terhalang dan tidak ada yang dapat memiliki kewenangan untuk mengadili dia,” katanya.

Tetapi Robertson menjelaskan bahwa perlindungan Assad mungkin tidak berlangsung lama. Ia mencontohkan, Charles Taylor digulingkan dari kepresidenan Liberia pada tahun 2003 dan dilindungi oleh Nigeria. Namun tidak berselang lama, dia diserahkan untuk diadili pada tahun 2006 dan kemudian dihukum oleh pengadilan PBB.

BACA JUGA  Narapidana di Penjara SDF Berontak, Sejumlah Tahanan ISIS Kabur

“Keadilan International masih dalam tahap awal dan kami sudah melihatnya berubah,” kata Robertson.

Ia menambahkan, “Charles Taylor, kini menghabiskan hidupnya selama 50 tahun di penjara Inggris. Pada awalnya ia dianggap aman ketika Nigeria memberi perlindungan. Tapi politik negara itu berubah dan ia pun diserahkan. Jadi ada banyak presiden bagi yang melindungi orang-orang seperti itu. Tetepi tiba-tiba merasa tidak nyaman untuk pelindung mereka.”

Pengadilan Nureberg adalah suatu rangkaian persidangan terhadap kejahatan Nazi di Jerman. Rangkaian persidangan ini dilakukan di kota Nurnberg, Jerman, dari tahun 1945 sampai 1946, di gedung Pengadilan Nurnberg (Nuremberg Palace of Justice). Sampai sebelum dokumen Assad ini terkuak, kejahatan Nazi diklaim sebagai kejahatan perang tersadis.

Saat ini, nasib Presiden Bashar Al-Assad terus menjadi perdebatan alot antara dua pihak berlawanan di Jenewa. Pihak oposisi menuntut agar Assad tidak lagi terlibat dalam transisi politik Suriah pada 2017 nanti. Sedangkan Rusia berjanji akan memberikan suaka kepada rekan politiknya tersebut.

Sumber: Telegraph, Al-Jazeera
Penulis: Syafi’i Iskandar

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga