Hukum Mendoakan Orang Kafir dan Musyrik Menurut Pendapat Para Ulama

Foto: Muslim berdoa.

KIBLAT.NET – Satu hal yang sering membingungkan kaum muslimin ketika berinteraksi dengan orang kafir adalah tentang hukum mendoakan mereka. Terutama ketika menghadiri undangan, ketika melayat, menjenguknya ketika sakit, dan kondisi-kondisi lainnya.

Penting untuk mengetahui kondisi-kondisi yang membolehkan seseorang mendoakan orang kafir dan kapan tidak dibolehkan. Bahkan karena melihat urgennya masalah ini hingga Imam Bukhari membuat judul khusus tentang hal ini dalam kitab shahihnya dengan judul: Du’aul Musyrikin (Hukum Mendo’akan Orang Musyrik).

Begitupula ulama-ulama lainnya telah menjelaskan dengan gamblang tentang hukum mendo’akan orang kafir, kapan harus mendo’akan kebaikan dan kapan harus mendoakan keburukan bagi mereka? Bolehkan memintakan ampunan untuk mereka? Do’a seperti apakah yang boleh diberikan kepada orang kafir? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan seputar hal ini. Semoga tulisan singkat ini dapat memberi faidah ilmu bagi kita.

Setidaknya ada empat kondisi yang harus diperhatikan oleh seorang muslim ketika ingin mendo’akan orang kafir.

Kondisi pertama: Memohonkan Ampunan dan Rahmat
Para ulama sepakat bahwa memohon ampunan dan rahmat bagi orang kafir sepeninggal mereka merupakan hal yang dilarang, larangan ini berdasarkan dalil-dalil sharih (jelas) dari al-Qur’an, Sunnah dan ijma’.

Allah ta’ala berfirman:
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah: 113-114).

Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah: 84).

Begitupula terdapat riwayat dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah saw bersabda:

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّيْ أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّيْ، فَلَمْ يَأْذَنْ لِيْ، وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا، فَأَذِنَ لِيْ.

“Aku telah meminta izin kepada Rabb-ku untuk memohonkan ampunan bagi ibuku, namun Dia tidak mengizinkan. Dan aku meminta izin untuk menziarahi (mengunjungi) kuburnya, maka Dia mengizinkan untukku. (HR. Muslim).

Imam an-Nawawi menyebutkan ijma’ ulama akan keharaman bagi seorang muslim untuk memohon ampunan bagi orang kafir. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, Imam An-Nawawi: 5/120).

Oleh karena itu, tidak boleh bagi orang muslim untuk memohonkan ampunan, rahmat, keberkahan dan segala bentuk doa yang bersifat kebaikan akhirat, sebab do’a ini hanya diperuntukkan bagi orang beriman.

Kondisi kedua: Mendoakan Agar Mendapat Hidayah
Mendo’akan orang kafir secara umum agar mendapat hidayah merupakan hal yang dibolehkan. Namun bagi orang kafir yang tidak memerangi atau memusuhi kaum muslimin (Ghairu Muhaarib) maka terhadap mereka lebih diutamakan. Karena ini termasuk upaya untuk menyelamatkan mereka dari api neraka, menunjukkan jalan ketaatan kepada Allah.

Inilah yang harus diusahakan oleh seorang muslim sebagaimana contoh dari Rasulullah dalam riwayat sahabat Anas bin Malik disebutkan bahwa dahulu ada seorang anak Yahudi yang senantiasa melayani (membantu) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia sakit. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya untuk menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya, kemudian berkata:” Masuk Islam-lah!” Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang ada di dekatnya, maka ayahnya berkata: “Taatilah Abul Qasim (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).” Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar seraya bersabda:

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْقَذَهُ مِنْ النَّارِ.

“Segela puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.” (HR. Bukhari)


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Baca halaman selanjutnya: Inilah dalil yang menunjukkan...

Halaman Selanjutnya 1 2 3

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Ikuti! Dauroh Fiqh “Matan Abi Syuja'” Bersama MADINA

Info Event - Jum'at, 14/02/2020 18:32

Masalah Umariyatain dalam Hukum Waris

Konsultasi - Rabu, 29/10/2014 19:30

CLOSE
CLOSE