[Wawancara] Pemimpin Kafir dalam Islam, Adakah Dalilnya?

Foto: Ustadz Ahmad Taqiyudin, Lc. Foto: Dokumen pribadi. [Wawancara] Pemimpin Kafir dalam Islam, Adakah Dalilnya?

KIBLAT.NET, Jakarta – Wacana mengangkat pemimpin kafir di kalangan umat Islam Indonesia kembali ramai dibincangkan. Persoalannya semakin pelik ketika Pilkada DKI Jakarta melibatkan sosok Basuki alias Ahok yang kontroversial. Apalagi, ucapan Ahok soal Surat Al-Maidah ayat 51 menuai kecaman karena dianggap menyinggung perasaan umat Islam dan mencerminkan sikap anti keragaman.

Perbedaan penafsiran dan perspektif para tokoh Islam dalam masalah kepemimpinan sebenarnya bukan kali ini saja. Tapi kerap berulang sepanjang zaman, utamanya pasca runtuhnya kepemimpinan Islam di Turki pada tahun 1928. Lalu, bagaimana sebenarnya Islam memandang pemimpin kafir?

Untuk menjawab pertanyaan itu, Kiblatnet mewawancarai pakar aqidah dan hadits, Ustadz Ahmad Taqiyuddin, Lc. Beliau adalah alumnus Darul Hadits Maarib Syaikh Abul Hasan dan Markaz Dakwah Al-Ilmi, Shanaa di Yaman. Di sela-sela kesibukannya dengan aktivitas thalabul ilmi sebagai Dosen Pesantren Tinggi Al-Islam Bekasi, reporter Kiblatnet, Taufiq Ishaq menemui beliau di kediamannya di Kampung Sawah, Bekasi pada Selasa, (11/10/2016).

Sejatinya, bagaimana pandangan Islam terkait pemimpin kafir?
Mengangkat orang kafir sebagai pemimpin itu tidak dikenal dalam Islam. Bahkan secara tegas dalil mengatakan, seperti di surat Al-Maidah ayat 51 dan yang lain. Itu sebagai dalil yang dipakai oleh para ulama sebagai keharaman untuk mengangkat orang kafir sebagai pemimpin.

Artinya bahwa mengangkat pemimpin kafir itu mutlak dilarang?
Jadi larangannya itu karena bentuk perwalian terhadap orang kafir. Ada sebuah ayat menyebutkan mengambil teman dekat mereka saja tidak boleh. Teman itu kan memberi pengaruhnya sedikit. Itu saja tidak boleh. Apalagi menjadikan mereka sebagai pemimpin yang menjadi pemberikan pengaruh besar. Memberikan kepada mereka untuk memberikan pengaruh kepada orang-orang mukmin. Menjadikan teman dekat saja tidak boleh.

BACA JUGA  IM Gelar Konferensi Internasional di Turki Bahas Idelogi Terkini

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

Allah ta’ala berfirman, janganlah kalian wahai orang-orang beriman jadikan orang-orang selain kalian (kafir) sebagai teman dekat. Karena akan memberikan pengaruh, kecintaan, loyalitas.

Kemudian ada juga sebuah ayat, Allah mengatakan,

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا

Allah ta’ala itu tidak menjadikan orang-orang kafir jalan untuk menguasai orang-orang mukmin. Ayat ini dijadikan dalil para fuqoha atas pengharaman seorang yang kafir menjadi wali bagi anaknya yang muslim. Itu kan perwalian yang sifatnya kecil, wali di sini maksudnya sultoh (kekuasaan), menguasai yang levelnya kecil, seorang bapak kepada anaknya saja tidak boleh, apalagi al-walayah (kepemimpinan-hubungan karena Allah yang diikat dengan keimanan)? Kekuasaan yang skupnya besar? Apalagi fakta sejarah. Tidak ada para ulama mengatakan bahwa memilih orang kafir sebagai pemimpin itu dibolehkan.

Dalam surat Al-Maidah 51, ada yang berpendapat tafsiran ‘auliya’ itu sebagai sekutu bukan pemimpin. Apakah tafsirannya memang demikian menurut para ulama salafussalih?
Jadi sekutu, berkoalisi atau ‘auliya’ dalam ayat-ayat yang lain itu maknanya itu al-a’wan (penolong). Makna ‘auliya’ dalam Alquran mengarah pada sekutu, berkoalisi kemudian ‘al-auliya’ yang bermakna yang dicintai. Kalau kita kaji dalam surat Al-Mumtahanah misalnya ‘auliya’ di situ adalah orang-orang yang dicintai. Tapi bukan berarti ayat ini hanya sebatas larangan menjadikan orang kafir sebagai sekutu. Tidak demikian.

BACA JUGA  Dituduh Radikal, Dikeluarkan dari Kampus, Mahasiswa Ini Malah Dibanjiri Tawaran Kerja

Kalau kita pahami juga asbabun nuzul yang disebutkan oleh Imam At-thobari dalam tafsirnya, juga para ulama memiliki sekurang-kurangnya tiga pendapat. Pertama, ada yang mengatakan ini terkait dengan kisah Ubadah bin Shamit yang dia bara’ (berlepas diri) terhadap persekutuan dengan orang kafir, bara’ bersekutu dengan orang-orang kafir. Kedua, ada yang mengatakan ini juga berkaitan dengan Abu Lubabah. Ketiga, ada yang mengatakan ini berkaitan dengan paska perang Uhud. ‘Auliya’ di sini adalah mengarah pada sekutu atau loyalitas (wala’).

Cuma kenapa para ulama menjadikan ayat ini sebagai larangan memilih pemimpin kafir? Karena dalam memahami dalil tidak hanya mentahnya saja. Ada racikan para ulama. Analoginya, Al-Qur’an dan Sunnah saja itu bahan. Kalau kita bilang bahan makanan, itu bahan mentahnya. Jadi para ulama yang meracik menjadi makanan.

Maka dalam istilah usuhul fiqih ada mafhum al muwafaqoh (pemahaman sepadan). Ada sebuah ayat فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ tentang larangan seorang anak mengatakan “ah” kepada kedua orang tuanya. Ada yang menafsirkan menarik nafas (sebagai pertanda mendengus, red), karena dia tidak ridha dengan orang tua. Menarik nafas pun kepada orang tua dilarang, lalu apakah seseorang bisa menyimpulkan bahwa memukul orang tua itu boleh, karena ayat itu larangannya hanya menarik nafas?

Baca halaman selanjutnya: Anggaplah bahwa...

Halaman Selanjutnya 1 2

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Waspadailah Hasrat Untuk Menjadi Pemimpin!

Video Kajian - Rabu, 09/05/2018 09:54

Ini Nih Figur Pemimpin yang Merakyat

Tazkiyah - Jum'at, 06/04/2018 19:00