[Wawancara] Pemimpin Kafir dalam Islam, Adakah Dalilnya?

Anggaplah bahwa ayat Al-maidah 51 ini larangan bersekutu dengan orang kafir, maka tidak dinafikan larangan mengambil pemimpin dari kalangan mereka? Padahal pemimpin jauh lebih berat (dari penolong/sekutu). Kalau sekutu masih ada timbal balik. Tapi kalau menjadikan mereka pemimpin berarti menyerahkan kekuatan itu dikuasai orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang Islam.

Maka mafhum muwafaqohnya memilih pemimpin itu jauh lebih besar larangannya dibanding mengambil sekutu. Perbandingannya adalah dengan ayat yang larangan mengucapkan “ah” kepada orang tua, tidak boleh orang menyimpulkan bahwa ayat itu menperbolehkan untuk memukul orang tua. Makanya memilih orang kafir sehingga efeknya menguasai orang mukmin itu jauh lebih bahaya dari pada bersekutu dengan orang kafir.

Ada sejumlah orang yang menggunakan perkataan Syaikh Ibn Taimiyah bahwa “Allah akan menolong negara yang adil sekalipun itu negara kafir, dan tidak akan menolong negara yang zalim sekalipun negaranya beriman.” Apakah pernyataan ini bisa dijadikan dalil untuk mengangkat pemimpin kafir?

Pertama, kita harus kembali pada pokok pemahaman kita bahwa Syaikhul Islam Ibn Taimiyah adalah manusia. Bukan seorang nabi yang dibimbing oleh wahyu. Bisa salah, bisa benar. Maka kita di sini juga dilatih untuk tidak fanatik, tidak taqlid kepada seseorang. Karena memang seseorang tidak boleh taqlid dan ta’ashub, karena tidak ada yang ma’shum kecuali Rasulullah SAW. Jadi perkataan ini tidak bisa digunakan dalil tentang kebolehan orang mukmin menjadikan kafir sebagai pemimpin. Jadi harus dibedakan antara realita dengan syar’inya.

Ustadz Ahmad Taqiyudin, Lc.

Ustadz Ahmad Taqiyudin, Lc.

Contohnya begini, kalau ada pemerintahan kafir tapi adil itu lebih baik, dari pada pemerintahan mukmin yang zalim, dari sisi keadilan. Kita tidak bicara hukum memilih pemimpin. Memang faktanya, bagi masyarakat, adil dan tidak zalim itu lebih baik dari pemimpin seorang muslim tapi zalim. Tapi harus dibedakan dengan perintah syar’inya. Contohnya begini, Allah SWT memberikan keputusan sunnah kauniyah bahwa perselisihan itu ada, kemaksiatan itu ada, bukan berarti seseorang itu sengaja berbuat maksiat. Karena perintah syar’i dengan realita terkadang beda.

BACA JUGA  Resep Penyakit Hati Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

(Dalam perkara ini, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah sedang menjelaskan sunnah kauniyah bahwa sebab kemakmuran sebuah negara terletak pada keadilan, bukan sedang menjelaskan hukum syari. Syaikh menambahkan bahwa Allah SWT memberikan stabilitas terhadap negara adil meskipun itu negara kafir. Penjelasan ini ada di Kitab Majmu Fatawa Juz:28/146- tambahan redaksi).

Realitanya, Allah SWT memang telah mengadakan seperti ini, tapi perintah syar’inya kita harus bersatu meninggalkan maksiat. Allah memberikan nash bahwa perzinaan akan terus terjadi sampai hari kiamat, bahwa akan ada di antara fenomena yang akan terjadi menjelang kiamat adalah maraknya perzinaan. Tapi bolehkah seseorang menukil hadist Rasulullah SAW dengan mengatakan, “Nggak apa-apa zina, ini sudah dinashkan kok.” Tidak bisa demikian. Harus dibedakan realita yaitu keputusan yang sudah dibedakan secara kauniyah dan mana yang sifatnya syar’i.

Kemudian dalam memahami perkataan ulama ada kalamul mujmal (global), kalamul mufashol (terperinci). Maksudnya perkataan apa? Ada perkataan yang sifatnya global, ada perkataan yang sifatnya rinci. Tidak boleh seseorang itu mencomot perkataan orang tanpa melihat perkataanya utuh di tempat yang lain. Karena saling menafsirkan. Misalnya, kenapa seseorang itu bisa menuduh Sayyid Qutb itu wihdatul wujud? Karena memahami perkataan beliau di surat Al-Ikhlas misalnya yang seakan mengarah pada wihdatul wujud. Tetapi kalau melihat di perkataan yang lain, bahwa beliau seorang yang bertauhid. Maka tidak boleh seseorang itu kemudian menghakimi seseorang dari perkataannya tidak dari perkataan yang lain.

Artinya bahwa perkataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah ini mengarahnya kepada keadilan?
Iya, tidak sebagai perintah syar’i. Ini harus dibedakan. Kalau ada pemimpin yang kafir, dari konteks keadilan memang lebih baik dari pada kezaliman. Karena inti dari kepemimpinan adalah keadilan. Maka ketika ada pemerintah Islam kemudian tidak adil, seakan-akan tidak ada. Walaupun wujud tapi tidak ada. Tapi bukan berarti ini sebagai dalil orang Islam untuk sengaja memilih orang-orang kafir sebagai pemimpin.

BACA JUGA  Pengecekan Dokumen Bebas Covid-19 Sebabkan Antrean Mengular di Bandara Soetta

Secara mendasar, perkataan Syaikhul Islam itu bukan dalil. Bahkan perkataan sahabat ketika diselisihi sahabat yang lain itu bukan dalil. Andaikan itu salah, nggak masalah. Karena (beliau) bukan nabi dan rasul, beliau hanya manusia.

Lalu, bagaimana pengaruh pemimpin kafir terhadap kaum muslimin?
Jadi sangat besar sekali. Sebagian orang terkadang membalikkan logika. “Pemimpin kafir itu cerminan dari pada rakyatnya.” Pernyataan itu tidak salah secara mutlak, tapi juga tidak benar secara mutlak. Terkadang Allah ta’ala mengirim pemimpin yang zalim itu sebagai azab. Tapi kalau kita lihat beberapa realita yang ada dan perkataan para salaf, bahwa pemimpin itu sangat berpengaruh. Dari segi akhlaknya, misalnya, ada Umar bin Abdul Aziz, seorang yang ahli ibadah, akhirnya rakyatnya terpengaruh. Jadi pembicaraan sehari-hari tentang ibadah. Ada kholifah yang sukanya kuliner, akhirnya rakyatnya juga terpengaruh.

Ini dari sisi kehidupan duniawi. Kalau sisi ukhrowi, jelas sekali. Orang-orang kafir itu, ketika mereka menjadi pemimpin maka mereka akan menerapkan ideologi. Makanya sangat berbahaya sekali ketika orang kafir itu menjadi pemimpin. Itu akan memberikan pengaruh yang sangat buruk. Ini perkara yang sangat ditakuti,  berkaitan dengan akhirat sebagai efek buruk pemimpin itu dari orang kafir, bukan mukmin.

Bahkan orang muslim yang tidak bisa memberikan contoh sebagai seorang yang baik. Kemudian muncul kekhawatiran ketika dia tidak memahami agama dengan jelas, ditakutkan tercampurnya haq dan bathil. Terlebih masyarakatnya awam. Sehingga perkara aqidah atau prinsip mereka anggap remeh.

 

Reporter: Taufiq Ishak
Editor: Fajar Shadiq


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

1 2

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Waspadailah Hasrat Untuk Menjadi Pemimpin!

Video Kajian - Rabu, 09/05/2018 09:54

Ini Nih Figur Pemimpin yang Merakyat

Tazkiyah - Jum'at, 06/04/2018 19:00