×

Kebebasan, Demokrasi, dan Kampus

Foto: Ilustrasi. (Sumber: Okezone)
... shares

KIBLAT.NET – Baru-baru ini, Universitas Pamulang (Unpam) mengeluarkan peraturan kontroversial, yakni larangan bagi mahasiswi bercadar dan mahasiswa berambut gonderong mengikuti civitas kampus. Tidak main-main, sanksinya sangat maha kejam, siapa saja yang melanggar akan dikeluarkan.

Sebelumnya, peraturan baru Universitas Pamulang (Unpam) yang melarang mahasiswa bercadar dan mahasiswa berambut gonderong mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan. Di antaranya adalah Ketum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjutak yang ikut berkomentar, “Justru apa yang dilakukan dengan laranagn (cadar, red) itu malah melanggar UUD dan Pancasila. Itukan ekspresi beragama.”  Saat dihubungi situs berita online Kiblat.Net. “Pelarangan itu bagi saya adalah anti Pancasila, anti ekspresi keberagaman,” tambahnya.

Ketua Yayasan Universitas Pamulang (Unpam), Drs. Darsono akhirnya buka suara. Alih-alih menangkis banyaknnya kritikan, justru jawaban Tuan Besar (orang nomor 1 di Unpam), sangat disesalkan oleh banyak pihak. Seperti yang diberitakan Kiblat.Net, “Ini aturan, ‘rumah tangga’ saya. Kebetulan Unpam ini kampus swasta. Ini kampus saya, saya yang punya aturan.” Pamulang, Tangerang Selatan pada Rabu (09/08).

“Jadi mereka (mahasiswa, red) nggak bisa maksa saya. Saya juga nggak memaksa mereka masuk sini. Kalau nggak setuju dengan aturan sini, ya jangan di sini,” tuturnya.

Saya pribadi sangat menyayangkan kata-kata itu keluar dari bibir Tuan Besar. Ini sangat tidak sehat bagi pembelajaran mahasiswa, apa-apa yang disebut dengan merayakan kebebasan dan demokrasi. Bukankah seharusnya, merayakan kebebasan dan demkorasi di mulai dari bangku-bangku ranah pendidikan (kampus dsb).

BACA JUGA  Putus Asa NIA dan Hilangnya Kewarganegaraan Zakir Naik

Tentu bagi kaum terpelajar yang melek sejarah dan tidak gagap membaca akan mengaitkan pernyataan Bung Besar dengan Raja-Raja di Jawa dulu, bahwa setiap kata-katanya (perintahnya) adalah hukum tak terbantahkan (mutlak). Atau hal paling mutakhir adalah pemimpin-pemimpin ditaktor di dunia yang absolut, sebelum demokrasi dan kemerdekaan pada tiap-tiap individu diperjuangkan untuk mengganti aturan absolutisme yang tidak lagi relevan dengan kehidupan kini.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Tuan Besar, izinkanlah saya bertanya, apakah Tuan Besar akan mencetak dan melahirkan bayi-bayi Hitler, Stalin, Lenin, Mao Zedong, Pol Pot, Idi Amin, Hingga Kim Jong Il dan Kim Jong Un di kelas-kelas yang diktator dan anti kritik. Bila nama-nama itu masih dipuja bagi sebagian orang karena berhasil mencatatkan dirinya sebagai penguasa maha kejam dalam tinta sejarah, maka baiklah. Lalu bagimana jikalau bayi-bayi di kelas-kelas ternyata akan tumbuh sebagai lulusan mahasiswa yang apatis, pragmistis, dan hanya bisa mengikuti arus saat menceburkan diri ke tengah masyarakat.

Karena ternyata selama ini yang dikejar-kejar para mahasiswa hanya nilai A, A, A dan wisuda tepat waktu. Itu bisa saja terjadi. Sebab, ranah pendidikan bukanlah utopia yang nyaris mustahil. Mahasisiwa adalah bayi-bayi yang telanjang, sedangkan dosen dan aturan kampus adalah orangtua sekaligus rumahnya. Ringkasnya, tergantung apakah dosen ini adalah orangtua yang baik dan visioner atau tidak, dan kampus bukanlah tempat biara atau penjara yang tidak boleh melihat langit, hutan, gunung, sawah, dan kota, hanya karena takut pulang membawa kebebasan, perbedaan, dan keragaman.

BACA JUGA  Say No to Bullying!

Sebenarnya berdirinya Universitas Pamulang (Unpam) adalah oasis di tengah-tengah pendidikan yang mahal di bangsa kita. Alangkah baiknya kampus yang terhormat Universitas Pamulang (Unpam,) menjadi tempat ekspresi demi lahirnya kebebasan yang berestetika dan demokrasi yang santun. Sebab, kebebasan dan demokrasi dalam kampus adalah keniscayaan (semoga). Jadi, mari seirama berdamai dalam senandung. Karena siapa yang menabur angin, maka ia sendiri yang akan menuai badai.

Penulis: Arian Pangestu (Menulis puisi dan esai. Puisinya tergabung dalam antologi Monolog Bisu (2016), Kukirim Pesan Lewat Angin untuk Abah (2017) dan sedang menyiapkan antologi yang lainnya dengan judul, Memetik Sunyi)

... shares

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Mahasiswi Dilarang Bercadar, Unpam Langgar HAM?

Opini - Kamis, 10/08/2017 12:40

Penurunan Daya Beli: Mitos atau Fakta?

Opini - Ahad, 30/07/2017 19:32

Say No to Bullying!

Opini - Jum'at, 28/07/2017 09:47