Wawancara: 72 Tahun Indonesia, Sudahkan Cita-cita Pendiri Bangsa Tercapai?

Foto: Pembacaan teks proklamasi oleh Ir.Soekarno pada 17 Agustus 1945.

KIBLAT.NET, Jakarta- Memasuki bulan Agustus, bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI). Tak terkecuali, umat Islam juga larut dalam perayaan tersebut. Lantas, bagaimana umat Islam menyikapi HUT RI? Dan apa sebenarnya cita-cita para pendiri bangsa terhadap negara kita tercinta Indonesia? Dalam hal ini, Reporter Kiblatnet, Taufiq Ishaq mewawancarai salah satu pakar sejarah Indonesia, DR. Tiar Anwar bachtiar.

DR Tiar adalah Wasekjen Persatuan Islam (Persis). Ia mengambil kuliah S1 di Universitas Padjajaran pada tahun 1997 hingga selesai tahun 2002. Kemudian, ia melanjutkan program pascasarjana di Universitas Indonesia dan melanjutkan S3 di Universitas yang sama. Hingga saat ini, beliau masih aktif mengisi kajian-kajian yang bertemakan sejarah.

Memasuki 72 tahun Indonesia, seharusnya bagaimana umat Islam menyikapinya?

Kita harus mengingat kemerdekaan ini adalah simbol sebagian dari usaha perjuangan umat Islam untuk membebaskan umat Islam dari kolonialisme dan penjajahan yang memang sangat merugikan umat Islam. Sehingga kemerdekaan harus disyukuri.

Kita juga harus tetap paham cita-cita dasar Indonesia. Kita sebagai umat muslim juga harus menjaga hak-hak Islam di Indonesia. Karena Islam ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari indonesia ini. Sebagai umat Islam jangan lupa mempersiapkan sendiri untuk menguasai berbagai lini di Indonesia ini.

Artinya umat Islam pendidikannya disiapkan dari berbagai macam aspek, menguasai macam disiplin ilmu sambil tidak lupa dasar Islam harus tetap kokoh. Tiga hal ini yang harus dilakukan umat islam

BACA JUGA  Akhir Nasib Penguasa Tiran

Lantas, sebenarnya apa cita-cita pendiri bangsa terhadap negara ini?

Cita-citanya tentu paling utama adalah mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Kesejahteraan bukan hanya makna fisik, kan ada makna kesejahteraan secara rohani atau spiritual. Karena memang Indonesia negara yang sangat religius atau beragama. Maka, makna dari kesejahteraan itu, salah satunya adalah kebebasan menjalankan agama.

Oleh karena itu, salah satu cita-cita berdiri negara ini masyarakat harus beragama kemudian bebas menjalankan agamanya. Dan menikmati kesejahteraan rohani melalui apa yang di jalankannya, itu salah satunya. (DR. Tiar Anwar bachtiar)

Berikutnya kesejahteraan yang sifatnya fisik. Seperti keadilan sosial, kemudian kebebasan politik melalui demokrasi dan musyawarah. Tapi juga tetap mempertimbangkan persatuan dan keadilan. Inilah cita- cita dari pendiri bangsa kita.

Kalau menurut pandangan ustadz, apakah pemerintahan hari ini sudah sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa?

Dalam politik itu penguasa ini banyak yang lupa daratan. Banyak penguasa yang dia ketika berkuasa itu serasa bukan sebagai pelayan rakyat, tapi sebagai penguasa yang menggantikan peran tuhan. Yang akhirnya menindas untuk mencari keuntungan dirinya sendiri, mencari keuntungan untuk kelompoknya. Demikaian yang sebenarnya terjadi.

Ketika penguasa tidak berkeadilan, apa dampaknya?

Jadi ketika para penguasa kehilangan keadialan buaka pemimpin yang adil maka yang terjadi adalah kedzaliman. Seperti yang kita saksikan banyak pemimpin yang karuptor, mendzalimi rakyatnya sendiri, mendzalimi orang lain, tidak mewujudkan kesejahteraan dan sebagainya. Sebenarnya faktor seperti itu bukan dari cita-cita dari negara itu sendiri. Tetapi dari deviasi atau penyimpangan pelaksaan kemimpinan yang dijalankan para penguasa.

BACA JUGA  BJ Habibie dan Kontribusi ICMI di Masa Orde Baru

Lantas, bagaimana seharusnya pemerintah bersikap?

Pemerintah harus balik lagi kepada fungsinya sebagai pelayan masyarakat. Jangan jadi musuh buat masyarakat apalagi menindas.

Bila rakyat melihat adanya ketidakadilan, apa yang harus diperbuat?

Jangan lupa! Bahwa pemerintah ini kan butuh patner. Sedangkan patner-nya ini kan rakyat, dan dari salah satu fungsi patner adalah mengingatkan. Maka rakyat pun jangan berhenti untuk mengingatkan pemimpinnya. Ketika pemimpinnya menyimpang maka harus mengingatkan. (DR. Tiar Anwar bachtiar)

Cuman, mengingatkan ini kita harus dengan cara-cara yang makruf. Sekarang di era media sosial agak sulit dibedakan antara menghina, mengejek dengan mengingatkan. Itulah yang saya kira perlu diluruskan di masyarakat. Jangan sampai mengingatkan ini juga dengan nada yang mengejek, menyudutkan, menjelek-jelekan dan lain sebagainya. Mengingatkan ini adalah secara supstansif dan apa kesalahan yang dilakukan oleh para penguasa ini.

Dan juga hati-hati ketika mengkritik, jangan ada kepentingan politik yang menunggangi kita dan para pengritik ini jangan sampai ada kepentingan politik yang harus free dari kepentingan politik. Kalaupun ada kepentingan politik, tujuannya adalah untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk memenangkan satu kelompok yang lain.

 
Editor: Syafi’i Iskandar

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Editorial: Merdeka Bersama Toedjoeh Kata

Editorial - Selasa, 20/08/2019 17:39

Peran Ulama dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Opini - Sabtu, 17/08/2019 08:32