×

3 Aliansi Besar Kelompok Oposisi Suriah

Foto: Pejuang oposisi Suriah
... shares

KIBLAT.NET – Perkembangan konflik Suriah telah berubah secara dramatis sejak militer Rusia melakukan intervensi pada tahun 2015, yang mengakibatkan mayoritas wilayah dikendalikan oleh milisi-milisi bersenjata yang mendukung kekuatan rezim Suriah Bashar Assad.

ISIS di Suriah telah banyak mengalami kemunduran, di saat Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi (SDF) menguasai wilayah lebih banyak, meningkatkan kemungkinan otonomi Kurdi.

Sementara itu, proses Astana telah memberlakukan realitas baru mengenai oposisi bersenjata Suriah, dimana perundingan antara Rusia, Turki dan Iran menghasilkan kesepakatan mengenai zona de-eskalasi .

Lebih dari ini, perlu diketahui tiga aliansi utama kelompok oposisi bersenjata di Suriah hari ini, dan bagaimana perjalanan mereka dalam konflik yang sedang berlangsung. Berikut laporan singkatnya:

Haiah Tahrir Syam (HTS)

HTS terdiri dari beberapa kelompok bersenjata kuat yang beroperasi di provinsi Idlib. Setelah 2015, para pejuang dan warga sipil dipaksa keluar dari zona konflik sehingga mendorong mereka ke Idlib. Situasi telah menciptakan persaingan dan perselisihan yang ketat, bersamaan dengan banyaknya aliansi antar berbagai kelompok bersenjata.

HTS muncul dari kompetisi ini sebagai salah satu kelompok kuat di Idlib. Pada awal Oktober 2017, sebuah kampanye militer pimpinan Turki mulai menentang HTS di Idlib dengan dalih mempertahankan zona de-eskalasi. Kampanye tersebut melibatkan pemboman udara Turki untuk mendukung kemajuan Free Syrian Army (FSA) melawan HTS.

Telah menjadi pola umum dalam beberapa tahun terakhir di Suriah, sebuah kekuatan darat bergantung pada intervensi eksternal untuk mendukung kemajuan teritorialnya. Dukungan Amerika memungkinkan SDF lebih maju dari ISIS; Dukungan Rusia diberikan kepada pasukan rezim, sehingga merebut kembali Homs, Hama, Aleppo dan daerah-daerah lainnya; dan sekarang dukungan Turki diberikan kepada FSA.

Free Syrian Army (FSA)

FSA sebenarnya bukan nama sebuah pasukan. Sejak awal konflik Suriah, FSA telah menjadi aliansi brigade bersenjata yang berjuang di bawah payung longgar dengan pusat koordinasi dan perencanaan militer tidak pernah ada.

FSA pada dasarnya adalah oposisi bersenjata, yang tak jarang anggotanya dari militer rezim yang membelot. Dengan demikian tidak ada koalisi ideologis, politis atau militer. Kendati demikian, FSA tetap bertahan sebagai mekanisme organisasi yang longgar untuk kelompok bersenjata.

Pada 2016, FSA dimobilisasi melawan pasukan Kurdi SDF untuk mengamankan wilayah Kurdi di sepanjang perbatasan selatan Turki dalam Operasi Efrat Shield. Kemudian hingga saat ini, FSA tetap mendapat dukungan militer Turki dalam hal logistik, dukungan udara dan intelijen.

Tanpa dukungan militer ini, FSA sama sekali tidak mampu menyangi kelompok seperti HTS atau SDF.

Unified National Army (UNA)

UNA dibentuk pada pertengahan tahun 2017 dengan tujuan menyatukan kelompok-kelompok bersenjata dari berbagai latar belakang ideologis dan politik. Banyak dari kelompok ini tersebar di seluruh wilayah Suriah tempat pertempuran aktif, seperti wilayah selatan, Ghouta dan daerah utara di sekitar Aleppo dan Idlib.

Kelompok utama dalam UNA adalah Ahrar Syam, satu dari sedikit brigade Islam yang bertahan di bawah bendera ini sepanjang perjalanan konflik yang panjang. Brigade yang terkait dengan UNA telah bentrok secara teratur dengan SDF, ISIS dan HTS, dan sebagian besar berada di tempat peristirahatan militer sejak intervensi Rusia.

Meski beberapa faksi di selatan mempertahankan kontrol atas sejumlah wilayah, sikap otoritas Yordania yang terus meninggalkan mereka dapat membatasi kapasitas dan akses mereka terhadap sumber daya.

Dengan demikian, walaupun memiliki karakter kebangsaan dengan brigade dari seluruh negara yang menjanjikan dukungan untuk proyek tersebut, UNA belum berhasil menyelesaikan masalah koordinasi dan sumber daya. Seperti sebelumnya, hal itu telah mengganggu berbagai upaya untuk menyatukan kelompok-kelompok bersenjata Suriah.

Dinamika yang terus berubah dalam konflik Suriah akan menjadi tantangan tersendiri bagi setiap aliansi. Independensi setiap aliansi akan teruji seiring berubahnya dinamika tersebut, yang beriringan dengan tujuan revolusi Suriah. Apakah tujuan sanggup dipertahankan, ataukah mengikuti arah para penopang kebijakan? Waktu yang akan membuktikan.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi

... shares

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Militer Turki Mulai Masuk Idlib

Suriah - Jum'at, 13/10/2017 07:10