Fatwa Abu Qatadah Tentang Pengacara Muslim

Foto: Syaikh Abu Qotadah Al-Filastini

KIBLAT.NET – Permasalahan berhukum dengan selain hukum Allah adalah permasalahan yang cukup serius di dalam Islam. Bahkan pada kondisi tertentu hal ini bisa membatalkan keimanan seseorang. Setidaknya di dalam Al-Qur’an disebutkan 3 sifat yang buruk bagi orang yang berhukum dengan hukum Allah, yaitu fasiqun, Zolimun dan Kafirun.

Sedangkan para pengacara adalah orang yang bersentuhan langsung dengan hukum yang seringnya berlandaskan kepada selain hukum Allah. Lantas, bagaimana jika seorang pengacara meniatkan tugasnya untuk membantu kaum muslimin dan membebaskan kaum muslimin dari kezaliman? Persoalan ini ditanyakan kepada syaikh Abu Qotadah Al-Filastini dan berikut jawaban beliau.

Pertanyaan : Wahai Syaikh, Apa hukum bekerja sebagai pengacara untuk membantu orang yang terzalimi?

Syaikh : Secara fikih pengacara itu adalah wakil dalam sengketa. Yaitu seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk menyelesaikan sengketa di hadapan hakim, baik itu karena ketidakmampuan dia (mengikuti persidangan) atau karena dia berhalangan hadir (ke persidangan). Pada hari ini, seseorang mau tidak mau harus menggunakan pengacara dalam perkara-perkara besar.

Dalam profesi pengacara ada banyak aspek. Ada kalanya profesi sebagai pengacara membuat seorang jatuh kepada kesyirikan dan kekufuran, jika profesi itu digunakan untuk membela hukum syirik dan hukum kufur. Ada kalanya profesi pengacara jadi haram, jika seorang pengacara bekerja untuk membela hal-hal yang batil.

Sementara, jika ada pengacara muslim bekerja untuk membela kebenaran. Hal yang sering saya katakan, banyak orang menganggap perbuatan itu tahakum (Berhukum kepada hukum kufr) padahal sebenarnya itu bukanlah bentuk tahakum yang sesungguhnya.

Tahakum adalah meminta keputusan untuk diiltizami. Yaitu ketia seseorang memiliki perkara dengan orang lain kemudian dia berkata, bisa saja kebenaran ada bersamamu, tapi saya juga yakin kebenaran ada pada saya. Maka katakanlah kepadaku (wahai hakim) agamamu (pendapatmu) untuk kemudian saya ikuti dan saya lazimi. Seorang muslim mendatangi (ulama) dan berkata, “katakan padaku tentang agama Islam guna saya ikuti dan iltizami.”

Sementara orang non muslim pergi ke orang sekuler (untuk bertanya hukum), ke hukum positif, ke thoghutnya atau dukunnya untuk bertanya suatu masalah dan melaziminya. Inilah tahakum. Tahakum adalah meminta keputusan untuk diikuti. Sementara mencari putusan untuk dipelajari, untuk ilmu pengetahun bukanlah termasuk bagian dari tahakum.

Banyak (yang datang ke pengadilan) di negeri kita (Yordania) bukanlah untuk tahakum, yang sering kita lihat adalah orang-orang datang kepengadilan untuk istinshor (meminta pertolongan) dan bukan bentuk tahakum. Istinshor adalah kamu meminta pertolongan kepada selain non muslim untuk membantumu mendapatkan hakmu. Seperti orang yang meminta tolong kepada orang kafir saat ada pencuri, kebakaran atau perampok. Ini beda antara keduanya (tahakum dan istinshor).

Saya berkeyakinan bahwa pekerjaan sebagai pengacara untuk membela kaum muslimin yang terzalimi dan untuk menjelaskan kebenaran agamanya, sebagaimana yang saya sampaikan terkait istinshor, ini adalah pekerjaan yang baik. Bahkan jika dia mengambil upah sekalipun, hal itu diperbolehkan, karena (secara fikih) wakil, boleh mengambil upah. Karena dia adalah wakil dari pihak (yang terzalimi) dalam perkara ini.

Aspek seperti ini (istinshor) dalam kerja pengacara diperbolehkan. Saya tahu sebagian orang melampaui batas dan ada yang berkata, si fulan (pengacara itu) begini dan begitu. Kita tidak sedang menghukumi person, karakter maupun kondisinya. Kita sedang berbicara tentang hukum asal. Sesungguhnya seorang pengara muslim yang melihat bahwa sebuah peradilan itu thoghut (tidak menerapkan hukum Allah) kemudian dia mendatangi peradilan tersebut untuk membantu muslim yang terzalimi atau untuk menerangkan bahwa muslim tersebut terbebas dari tuduhan (yang ditimpakan secara zalim) atau menjelaskan keabsahan apa yang dilakukan oleh seorang muslim secara syar’i, maka hal ini diperolehkan dan baginya pahala dari Allah SWT dan boleh baginya untuk mengambil upah dari pekerjaan tersebut. Wallahu a’lamu bisshowab

Penulis: Aiman
Editor: Arju

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Begini Pandangan Ulama Tentang Operasi Plastik

Konsultasi - Kamis, 04/10/2018 10:00

Bila Terjadi Gerhana, Apa yang Harus Dilakukan Wanita Haid?

Suara Pembaca - Jum'at, 27/07/2018 10:45

Hukum Puasa Bagi Wanita yang Enggan Berhijab

Konsultasi - Kamis, 31/05/2018 15:07