×

212 dan Keberlangsungan Sejarah

Foto: Reuni 212
... shares

KIBLAT.NET – Di dalam surat At-Tin ayat keempat Allah SWT menyampaikan bahwa manusia merupakan puncak ciptaan serta makhluk-Nya yang paling sempurna. Manusia menjadi satu-satunya makhluk yang mempunyai kehendak bebas, meskipun masih banyak hal yang tak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh manusia, namun secara umum manusia mempunyai kebebasan lebih dalam menentukan pilihan-pilihan dalam kehidupannya ketimbang makhluk lainnya.

Dengan kelebihan sekaligus kekurangannya tersebut, manusia pun dijadikan sebagai khalifah di muka bumi. Di mana dalam surat Hud ayat keenam puluh satu diterangkan tugasnya adalah untuk memakmurkan bumi. Maka manusia menjadi satu-satunya yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini.

Seiring berjalannya ruang dan waktu, perbuatan-perbuatan manusia membentuk rentetan peristiwa yang disebut sejarah. Jika diibaratkan pertunjukan, dunia adalah panggung sejarah dan manusia selalu menjadi pemeran utamanya.

Untuk menciptakan sejarah yang baik, yang mampu menjaga kemakmuran, manusia memerlukan sebuah pedoman. Karena itulah Allah SWT menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya, wahyu menjadi pedoman kebenaran bagi manusia untuk menciptakan sejarah yang baik, dan siapapun yang menyelisihi wahyu pasti akan menciptakan sejarah yang tidak baik.

Sikap kepatuhan manusia terhadap wahyu inilah yang sering kita kenal sebagai iman, dan sikap menyelisihinya disebut kufur atau ingkar, sedangkan sikap plin-plan di antara keduanya disebut nifaq (munafik).

Jadi pada hakikatnya kehidupan manusia hanyalah tentang menjalani sejarah, dan tugas seorang muslim adalah menjaga keberlangsungan sejarah yang baik serta kemakmuran di muka bumi.

Namun realita seringkali berjalan tidak searah dengan konsep yang ideal, kenyataannya manusia justru lebih banyak berbuat kerusakan di muka bumi. Saling memfitnah, pertumpahan darah, dan perusakan alam malah menjadi rutinitas harian, bahkan bagi seorang muslim sekalipun. Sementara di sisi lain, upaya perbaikan hanya menjadi rutinitas mingguan bahkan tahunan.

Kerusakan yang sangat luar biasa telah menanamkan perasaan inferior ke dalam kalbu manusia-manusia yang memiliki kesadaran, mereka menjadi terlalu pesimis dan pada akhirnya menjadi ogah-ogahan dalam mengupayakan perbaikan.

Namun terkadang ada sebuah momentum atau peristiwa yang mampu membangkitkan sedikit semangat, mengeyahkan pesimisme, dan memberikan gairah berlebih untuk bergerak melawan hegemoni kerusakan yang sudah terlalu lama.

Aksi 212 contohnya, semua bermula dari kesewenang-wenangan lidah para intelektual “muslim” yang menganggap remeh ejekan terhadap kitab suci, dan dibumbui oleh kelambanan dan ketidaktegasan hukum dalam masalah ini. Maka bergeraklah manusia-manusia yang masih punya kesadaran tersebut.

Bukan bermaksud melebih-lebihkan, tetapi memang banyak potret-potret yang kita jumpai dalam aksi 212 yang dapat meyakinkan kita bahwa mereka memang mempunyai kesadaran tersebut.

Mengingat jumlah mereka yang mencapai tujuh digit angka, namun tak ada sebutir telur pun yang menyasar kepala, justru yang kita jumpai adalah telur yang direbus dipotong-potong bersama kentang, somay, dan diguyur bumbu kacang dan dibagikan cuma-cuma. Kontras dengan demo bayaran yang pesertanya hanya belasan namun penuh lemparan telur busuk.

Aksi tersebut juga tak mengganggu kenyamanan warga, bahkan ada pasangan nashrani yang dapat melangsungkan pernikahan dengan khidmat, ada juga sekeluarga bule yang dengan nyamannya plesiran di lokasi aksi. Para peserta aksi juga tidak mengotori dan merusak fasilitas publik yang mereka lalui, masing-masing berkomitmen menjaga ketertiban dan kebersihan, bahkan rumput pun tak mereka injak. Kontras dengan kongres-kongres OKP yang identik dengan lempar-lempar kursi, pecah-pecah kaca, dan sampah yang berserakan.

Tidak ada ban yang dibakar, tidak ada yang kecopetan, dan tidak ada gesekan panas dengan aparat. Yang terdengar hanya gemuruh takbir, sendunya dzikir, dan syahdunya shalawat.

Mereka tak perlu berbuat anarki, mereka tak perlu menyuap para penjaja keadilan, mereka juga tak perlu berpura-pura sakit. Dari sekian pilihan, mereka memilih untuk berkumpul, berdoa, dan bersimpuh di hadapan Allah SWT. Mereka percaya bahwa Allah SWT adalah pemilik keadilan yang sejati, dan hanya dia lah pemilik keputusan yang seadil-adilnya.

Setahun berselang, nyatanya spirit 212 masih terjaga. Lautan manusia masih memadati reuni 212 kemarin. Masih dengan ghirah yang sama, gemuruh takbir yang sama, dan perilaku yang sama seperti tahun sebelumnya.

Ini tentu menghadirkan sebuah optimisme serta harapan, bahwa sejarah kebaikan mungkin akan berulang, menggantikan kerusakan yang sudah terlalu lama menghegemoni.

Hal ini juga menghadirkan keyakinan bahwa sejarah belumlah berakhir. Karena bagi seorang muslim, akhir sejarah hanyalah hari kiamat kelak, di mana masing-masing manusia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai sejarah macam apa yang telah mereka ciptakan.

 

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

... shares

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Reuni 212 dan Energi Positif Bangsa

Artikel - Kamis, 07/12/2017 19:01

Pelapor Metro TV: Reuni 212 Mencerminkan Toleransi

Indonesia - Selasa, 05/12/2017 21:05