×

Mewujudkan Kerahmatan Islam dengan Berpolitik

Foto: Berpolitik (ilustrasi)
... shares

KIBLAT.NET – Betapa banyak orang yang menganggap bahwa politik itu kotor. Maka agama sebagai sebuah kesucian seolah ‘haram’ menyentuh ranah politik. Beragama seolah dicukupkan pada permasalahan ruhiyah semata, seperti shalat khusyuk, tilawah Quran, dzikir akbar, shalawatan, dan lainnya.

Kita dibuat tabu ketika membicarakan kebijakan penguasa apalagi sampai mengkritisinya di dalam masjid. Dianggap bukan ‘pengajian’ jika bahasannya seputar kenaikan TDL, privatiasasi SDM, dan skandal korupsi para pejabat. Pengajian terlanjur distigmatisasi hanya seputar pembahasan tajwid, fiqih dan akhlak. Sungguh Inilah bahaya yang banyak tidak disadari oleh umat. Pelan tapi pasti, benak umat sedang disuntikkan oleh ide-ide sesat sebagai upaya menjauhkan umat dari berpikir cemerlang.

Padahal sesungguhnya Islam tak anti politik. Dalam Islam, politik dikenal dengan istilah siyasah. Adapun dalam Kamus Al Muhith, siyasah berakar kata sâsa – yasûsu. Dalam kalimat Sasa, addawaba yasusuha siyasatan berarti Qama ‘alaiha wa radlaha wa adabbaha (mengurusinya, melatihnya, dan mendidiknya). Bila dikatakan sasa al amra ertinya dabbarahu (mengurusi / mengatur perkara). Maka secara ringkas, politik dalam Islam diartikan sebagai riayatus su’unil ummah (mengurusi urusan umat). Jadi Islam sama sekali tidak dapat dipisahkan dari politik. Sebab secara keseluruhan, Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Hanya dengan berpolitik lah, kerahmatan Islam dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Oleh karena itu, berpolitik dalam pandangan Islam berarti beraktivitas memperbaiki manusia di semua sendi kehidupannya, mulai dari individu, keluarga, masyarakat, hingga negara. Salah satu wujudnya adalah melakukan amar ma’ruf nahyi mungkar di tengah-tengah masyarakat, serta mengoreksi kebijakan penguasa yang dzalim atau melanggar hukum syara.

Jadi tentu sangatlah berbeda paradigma politik dalam kacamata sistem kapitalisme dan Islam. Jika dalam sistem kapitalisme, politik seringkali diidentikan dengan perebutan kekuasaan, maka politik dalam pandangan Islam merupakan aktivitas agung dalam rangka melaksanakan kewajiban sebagai hamba. Jika dalam kacamata kapitalistik, politik dianggap wadah meraih kemewahan duniawi, maka politik dalam Islam merupakan upaya mewujudkan kerahmatan Islam demi meraih ridho ilahi.

Rasulullah saw, suri tauladan bagi seluruh manusia, sosoknya tak hanya lekat sebagai seorang Rasul utusan Allah. Namun, beliau juga merupakan seorang kepala negara. Ya, berkat kegigihan beliau dan para sahabat melakukan aktivitas politik, akhirnya terwujudlah daulah Islam di Madinah Al-Munawarah. Institusi politik Islam. Hanya Islam yang menjadi dasar hukum bagi masyarakat kala itu. Hanya Islam pula yang menjadi landasan hidup individu, masyarakat hingga negara. Sehingga akhirnya cahaya Islam menyebar ke segala penjuru dunia dan Islam menjadi mercusuar peradaban.

Kaum non muslim pun hidup tentram di bawah naungannya. Meski minoritas, namun tak termarjinalisasi. Sebab institusi politik Islam mampu menaungi seluruh manusia, bukan muslim semata. Itulah bukti, bahwa institusi politik Islam mampu mewujudkan kerahmatan Islam secara nyata.

Mirisnya saat ini Islam terdistorsi hanya pada nilai-nilainya saja. Sementara syariatnya yang sempurna banyak ditinggalkan dan digantikan dengan aturan buatan manusia. Padahal Allah menyeru setiap muslim untuk berislam secara kaffah, bukan sebagian-sebagian. Sedangkan kerahmatan Islam akan terwujud manakala Islam diterapkan secara kaffah dalam kehidupan, yakni dengan tegaknya institusi politik Islam. Maka, dibutuhkan adanya aktivitas politik di tengah-tengah umat demi terwujudnya institusi politik Islam yang mampu mengejawantahkan Islam yang rahmatan lil’alamin. Wallahu’alam bi shawab…

 

Oleh: Hana Annisa Afriliani, S.S, Penulis Buku dan Anggota Grup Revowriter

... shares

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Ekonomi Neoliberal Indonesia, Rugikan Rakyat Kecil

Indonesia - Rabu, 19/04/2017 07:04

Politik dan Agama, Haruskah Dipisah?

Manhaj - Kamis, 06/04/2017 16:00