×

Reuni 212 dan Energi Positif Bangsa

Foto: Reuni 212 di Monumen Nasional (Foto: Hamid Syuhada)
... shares

KIBLAT.NET – Seorang sahabat ahli IT bercerita tentang proses dia masuk sebuah perusahaan asing. Saat wawancara online (video call), dia ditanya, “apa saja kemampuan anda?” Bebarengan dengan selesainya pertanyaan itu, sahabat ini telah mampu masuk ke laptop si pewawancara, menguncinya, dan mengontrolnya dari jarak jauh (remote). Atas kemampuannya ini, dia kemudian diterima sebagai karyawan dan karier-nya lumayan moncer.

Qatar Foundation (QF), adalah sebuah lembaga resmi pemerintah Qatar yang memfokuskan diri pada 2 sektor strategis, Pendidikan dan Penelitian. Meski secara teori cadangan gas mereka cukup untuk menghidupi rakyatnya hingga ratusan tahun, Qatar tetap menginvestasikan sebagian kekayaan mereka untuk pengembangan SDM. Salah satu tagline QF yang paling saya suka adalah Unlocking Human Potentials, menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki warganya.

Dua cerita diatas menunjukkan bagaimana sebuah energi/potensi dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, ketimbang dianggap sebagai ancaman. Dan yang mampu memanfaatkannya, atau men-sinergi-kannya adalah lembaga, idealnya Negara. Karena memang begitulah kewajibannya, melalui aparatur dan infrastruktur yang dimilikinya. Maka saya tidak habis pikir, saat lagi-lagi, Negara yang diwakili para petinggi-nya, kembali nyinyir dengan umat Islam saat Reuni 212. Alih-alih menganggap persatuan ummat ini sebagai sebuah energi positif, kembali negara menganggap jutaan massa sebagai energi negatif. Banyak sekali statement hingga perlakuan diskriminatif yang diterima ummat, tidak perlu saya detail-kan disini.

Mestinya, potensi ummat yang begitu besar, yang saya yakin tak satupun partai atau tokoh mampu menandinginya, dijadikan energi positif, untuk membawa kita keluar dari krisis multidimensi. Banyak pihak mencibir, karena jumlah peserta Reuni 212 jauh lebih sedikit dibanding Aksi tahun lalu. Padahal mustinya berfikir sebaliknya. Tahun lalu ada common enemy, musuh bersama yaitu si penista agama. Tahun ini, ummat masih mau berkumpul meski tak ada lagi musuh bersama. Satu-satunya istilah yang cocok untuk hal ini adalah militansi.

Ditambah lagi, acara tahun ini dimulai dengan Subuh Berjamaah, salah satu kegiatan paling efektif untuk membangun solidaritas dan soliditas. Jadi meski secara kuantitas turun, sebenarnya secara kualitas naik signifikan. Dan manusia-manusia dengan militansi seperti inilah yang bisa diajak berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan berbagai masalah seperti  biaya hidup yang terus naik, hutang luar negeri, dan lain-lainnya.

Untuk itu, tidak ada alasan berprasangka buruk pada aksi ummat ini. Menganggapnya sebagai hal negatif adalah kesalahan besar. Sejarah membuktikan, ummat Islam tidak pernah melakukan makar. Dituduh, iya. Dikhianati, sudah berkali-kali. Dan jangan lupa, karakter ummat  Islam semakin ditekan bakal semakin solid dan kuat. Dari sisi massa, jika aksi 212 diperluas sebagai gerakan moral, dimana mereka yang bervisi sama-tetapi tidak bisa hadir di Monas-dihitung juga, jumlahnya bakal jauh lebih besar lagi.  Logika akal sehat mengajarkan untuk tidak melawan kekuatan seperti ini.

Tetapi kenyatannya tidaklah demikian. Entah karena tabiat kekuasaan, ataupun motivasi-motivasi lainnya, penyikapan tahun ini masih sama dengan tahun lalu. Malahan ada indikasi upaya memecah belah ummat, dengan hanya mengakomodir beberapa kelompok tertentu saja. Padahal sesuai amanat konstitusi, kewajiban negara untuk merangkul dan mengakomodir semua golongan. Mengedepankan dialog, pembinaan, dan menghindarkan stigma.

Di sinilah kedewasaan ummat terus diuji, untuk tetap mengutamakan persatuan dan menghindari perpecahan. Menjaga dan merawat negeri, karena posisi mayoritas sangat menentukan hitam-putihnya sejarah bangsa ini. Membangun komunikasi yang konstruktif dan mengedepankan sisi-sisi persamaan, ketimbang sibuk merespon aksi atau ujaran kebencian yang dilontarkan. Wallohu a’lam.

 

Penulis: Madi Hakim

... shares

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

212 dan Keberlangsungan Sejarah

Kolom - Kamis, 07/12/2017 18:00

Pelapor Metro TV: Reuni 212 Mencerminkan Toleransi

Indonesia - Selasa, 05/12/2017 21:05