Aksi Protes Kenaikan Pajak Meluas di Tunisia

Foto: Aksi Protes Kenaikan Pajak Meluas di Tunisia.

KIBLAT.NET, Tunis – Pemerintah Tunisia mengerahkan lebih dari 2.000 tentara pekan ini untuk membantu mengatasi aksi demonstrasi yang meluas oleh warga yang memprotes kenaikan pajak. Para pejabat mengatakan bahwa militer dikerahkan untuk melindungi instalasi-instalasi milik pemerintah menyusul insiden pembakaran sebuah markas aparat keamanan di dekat perbatasan dengan Aljazair.

Selama akhir pekan lalu, sejumlah aktivis oposisi ditahan di ibukota Tunis setelah mereka memprotes kebijakan baru pemerintah yang akan mengenakan pajak terhadap barang-barang kebutuhan pokok. Gelombang protes kembali terjadi di tengah suasana peringatan 7 tahun kematian Mohammad Bouazizi, seorang pedagang buah yang membakar dirinya sebagai bentuk protes atas kebijakan pemerintah. Kematian Bouazizi pada tanggal 4 Januari 2011 yang kemudian memicu demo besar-besaran atau Arab Spring di seluruh kawasan Timur Tengah merupakan hari yang sangat bersejarah bagi rakyat Tunisia.

Pemerintah merespon dengan tindakan keras termasuk melakukan penangkapan. Hal itu kemudian memicu kecaman luas dan juga aksi demonstrasi di seluruh Tunisia. Melihat aksi protes yang semakin luas, pemerintah mengerahkan pasukan militer ke berbagai kota besar dan menangkap ratusan aktivis. Pejabat-pejabat Tunisia bersikeras mengatakan bahwa sejumlah pajak baru diperlukan untuk memenuhi persyaratan yang diminta para donatur internasional, dan juga untuk stabilisasi ekonomi. Warga Tunisia menganggap berbagai beban pajak baru itu sebagai simbol kegagalan dan sikap opresif pemerintah.

BACA JUGA  BW Tantang KPK Periksa Kapolri Tito Karnavian Atas Dugaan Suap dari Basuki Hariman

Sementara itu, tentara telah disebar sedikitnya ke empat kota, yaitu Thala, Sousse, Bizerte, dan Kebili. Hingga saat ini aksi protes masih berlangsung di ibukota Tunis, termasuk di Sfax, Ettadhamen, Béja, Siliana, Mahdia, dan Nabeul.

Demonstrasi yang terjadi saat ini terkonsentrasi di wilayah pesisir, namun dikhawatirkan juga akan meluas ke perbatasan barat dengan Aljazair yang merupakan basis para pendukung ISIS. Kelompok loyalis al-Baghdadiy tersebut sebelumnya berhasil merekrut banyak anggota di Kasserine, salah satu kota yang dilanda gelombang protes.

Demonstrasi damai di Kasserine telah berubah menjadi aksi kekerasan. Di Thala dekat Kasserine, personil aparat keamanan terpaksa mundur karena para demonstran membakar markas mereka. Dalam beberapa hari ke depan, diprediksi aksi protes akan terus meluas karena pada tanggal 14 Januari nanti akan menjadi hari peringatan lengsernya Presiden Zine El Abidine Ben Ali pada tahun 2011 lalu.

Sumber: Long War Journal
Redaktur: Yasin Muslim

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga