FBI Sebut Angka Pedofilia Indonesia Tertinggi di Asia, KPAI Protes

Foto: Pelecehan seksual (ilustrasi)

KIBLAT.NET, Jakarta- Beberapa waktu lalu muncul statemen dari FBI  dan Interpol yang menyatakan bahwa kasus pedofilia di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dr. Susanto membantah pernyataan tersebut, “Belum ada data yang menunjukkan Indonesia merupakan negara yang paling tinggi kasus pedofilia,” kata Susanto kepada Kiblat.net, Jumat, (12/01/2018).

“Kalaupun ada data itu harus kami cek lagi,” lanjutnya.

Akan tetapi, Susanto membenarkan ada banyak kasus kejahatan seksual terhadap anak. Dia mengatakan hal itu disebabkan karena partisipasi masyarakat dalam pelaporan kasus sudah membaik.

“Dulu kejahatan kasus kasus seksual itu tidak dilaporkan. Karena malu, karena tidak yakin dengan proses yang sedang berjalan, dan sebagainya. Di negara-negara lain seperti Filipina itu kasusnya banyak juga di Thailand juga ada sejumlah kasus,” ungkap Susanto.

Dia kemudian mengapresiasi masyarakat yang melaporkan kasusnya kepada KPAI. Susanto juga mengingatkan bahwa kejahatan seksual masih menjadi masalah serius di Indonesia

“Ini memang warning buat kita semua. Kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak itu masih menjadi masalah serius di Indonesia.” ujar Susanto.

“Pelakunya bukan hanya orang Indonesia tapi juga diduga di beberapa kasus melibatkan orang asing. Kasus di Blok M misalnya, lalu kasus di Bandung juga ada relasi dengan pemesan yang merupakan negara asing.”paparnya.

Ketua Komisioner KPAI ini juga mengimbau masyarakat agar bersatu untuk menjaga anak-anak dari paparan kasus-kasus kejahatan seksual tersebut. Dia juga berharap agar proses hukum berjalan dengan baik terutama jika yang terlibat merupakan orang tua atau tenaga pendidik, maka harus ada pemberatan hukuman.

BACA JUGA  Fadli Zon: Pidato "Game of Thrones" Presiden Jokowi Tak Bersubstansi

“Undang-undang kita secara jelas disebutkan apabila melibatkan orang tua atau guru Memang kena pasal pemberatan” pungkasnya.

Reporter: Qoid
Editor: Syafi’i Iskandar

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga