Laporan Syamina: Kejatuhan Yerusalem 1967

KIBLAT.NET – Kampanye Zionis mengklaim bahwa Yerusalem adalah milik mereka, namun faktanya sangat sedikit situs suci Yahudi di sana. Bahkan jumlah mereka tak lebih dari 115 orang dalam sensus tahun 1752. Pada era Daulah Utsmaniyah tersebut, komunitas Yahudi tenggelam dalam kemiskinan dan menjadi kaum minoritas.

Fakta inilah yang membuat Zionisme sangat bersemangat mengajak migrasi besar-besaran ke Palestina, membuka pemukiman, dan mendirikan situs-situs agama baru, termasuk di antaranya Tembok Ratapan.

Selain membuat teori-teori pemikiran tentang Yerusalem, para pemimpin Gerakan Zionisme juga memanfaatkan agama untuk mencaplok kota dan situs-situs suci yang ada. Mereka mendoktrin para pengikutnya dengan Taurat dan mengangkat tema tentang Zionisme, Tanah Suci, Haikal Tuhan, dan lain-lain. Dengan doktrin ini mereka berharap Yahudi dunia tertarik untuk bermigrasi ke kota Yerusalem dan menguasainya.

Pemicu dari Perang Enam Hari—yang berakibat kejatuhan Yerusalem— antara pihak Israel dan negara-negara Arab pada tahun 1967 bisa sangat terpolarisasi. Pertama, bentrokan antara warga Israel dengan warga Suriah dan warga Palestina di Yordania. Warga Palestina ada yang ingin kembali ke asalnya untuk mencari kerabat. Ditambah peristiwa pembantaian 69 warga Palestina dan pembakaran 45 rumah di Tepi Barat.

Tensi semakin naik sebab ketegangan atas krisis di Terusan Suez yang melibatkan Inggris, Prancis, dan Mesir juga meningkat. Di Suriah kondisi memanas akibat konflik air Sungai Yordania. Ada pula keterangan yang menegaskan bahwa Uni Soviet dengan sengaja memprovokasi sebuah perang Arab dengan Israel pada tahun 1967.

BACA JUGA  Melecehkan Syariat, Tanda Hilangnya Pengagungan Allah dari dalam Hati

Setelah kejatuhan Yerusalem, Yahudisasi adalah inti proyek sekaligus cita-cita akhir Zionisme. Sekarang proyek ini melewati fase terpenting melalui intensifikasi pemukiman di Yerusalem dan sekitarnya untuk menciptakan perubahan besar terhadap identitas kearaban dan keislamannya. Pemerintah Israel juga menyiapkannya menjadi ibu kota abadi yang akan menjadi pusat domisili Yahudi di tengah sejumlah kecil rakyat Palestina yang tak berdaya.

Sejak Kesepakatan Oslo 1993, Israel bersikeras bahwa proses negosiasi dengan delegasi Palestina harus melalui jalur bilateral. Karena selalu buntu, maka pada tahun 2012 Otoritas Palestina memilih jalur internasional dan mengajukan permohonan pengakuan dari PBB. Tindakan ini memicu kemarahan Amerika dan Barat hingga menolak voting, dengan dalih bahwa solusi internasional tidak akan memberi hasil positif dan tidak mendukung proses perdamaian.

Amerika Serikat sangat mendukung sikap Israel yang bersikeras dengan negosiasi bilateral. Di mana Israel dengan sesukanya mengajukan isu keamanan dan perbatasan, namun melupakan isu-isu inti seperti Yerusalem, pengungsian, perairan, dan lain-lain. Puncaknya adalah pernyataan presiden terpilih Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Negara Israel.

Apa yang sedang terjadi di Yerusalem merupakan perang pembersihan agama, etnis, identitas warga Palestina dan tempat-tempat suci kaum Muslim. Gerakan ini mendapat dukungan material penuh dari otoritas Israel dan sumbangan yang sangat besar dari komunitas Yahudi internasional.

Negosiasi perdamaian pun menjadi kamuflase belaka. Zionis tidak pernah memenuhi tuntutan pihak Palestina dan malah berusaha lari dari semua kesepakatan yang pernah ditandatangani bersama.

BACA JUGA  Tak Sekadar Merakyat, Beginilah Gaya Memimpin Umar bin Khattab

Mereka senantiasa mengingkari kesepakatan dengan alasan ancaman keamanan, dan sebagainya. Agar roda perdamaian terus berjalan satu arah, sedang penindasan terus berlangsung di arah lain, untuk menciptakan realitas politik dan geografik baru. Dibutuhkan aksi yang lebih konkret; lebih dari sekedar kecaman dunia internasional dan Resolusi DK PBB yang berujung veto Amerika Serikat.

Laporan Syamina: Kejatuhan Yerusalem 1967
... shares

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga