×

Hiburan Bagi Orang Beriman

Foto: Hiburan Orang Beriman
... shares

KIBLAT.NET – Setiap orang pasti mempunyai rutinitas dalam kehidupan sehari-hari. Adakalanya rasa penat dan bosan menghinggap karena kesibukan yang berjalan begitu saja. Secara fitrah manusia membutuhkan hiburan untuk memecahkan kebosanan. Oleh karenanya, Allah sebagai Sang Pencipta tahu betul kebutuhan dan perangai manusia, tidaklah melarang manusia untuk menghibur diri.

Allah menurunkan aturan hidup yang lengkap melalui utusan-Nya yang mulia, Rasulullah. Dalam persoalan ini pun Islam telah memberikan solusinya.  Bagi orang beriman hiburan sejati adalah hati yang tenang. Ketenangan hati akan diperoleh jika keimanan ada di dalam diri seseorang. Maka, hati orang beriman akan terhibur jika keimanan di dalam dirinya tumbuh subur dan selalu meningkat.

Allah berfirman

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad:28)

Hiburan Orang Beriman

Orang beriman akan merasa terhibur dan tenang hatinya manakala mendekat dengan-Nya. Sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud

قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

“Bangunlah Bilal, tenangkan hati kami dengan shalat” (HR Abu Dawud)

Shalat adalah kewajiban yang diturunkan Allah saat Isra’ Mi’raj Rasulullah. Di balik kewajiban itu ternyata berbuah ketenangan hati bagi orang beriman karena bertaqarrub kepada Sang Pemilik Hati. Inilah hikmah tersendiri di antara hikmah-hikmah lainnya dari shalat.

Selain itu, hiburan sejati bagi orang beriman adalah membaca Kalamullah. Salah satu nama lain Al-Quran adalah As-Syifa’

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).

Membaca Al-Quran adalah salah satu sumber ketenangan hati. Dengan mentadaburi ayat demi ayat akan melunakkan hati, menghilangkan kepenatan dan menyegarkan pikiran. Segala apa yang ada di dalam Al-Quran juga dapat menambahkan keimanan dan dengan bertambahnya keimanan akan menumbuhkan ketenangan dalam hati.

Sebenarnya perintah Allah yang dikerjakan orang beriman akan membuahkan hiburan dan ketenangan hati. Mengapa demikian? Karena seseorang akan rela melakukan segala hal demi yang dicintainya. Bagi orang beriman, Dzat yang mereka cintai adalah Allah. Ketika rasa cinta sejati itu telah merasuk dalam hati, maka segala hal yang dilakukannya untuk-Nya akan dilaksakan sepenuh hati, penuh harapan ridha-Nya, menenangkan jiwa dan menghibur diri. Orang yang tidak tahu menyangka mereka menderita tetapi sebenarnya mereka bahagia.

Selain hikmah ibadah yang dapat menjadi hiburan orang beriman, dalam Islam juga ada hiburan-hiburan yang lain yang bersifat mubah dan bernilai ibadah. Karena kembali pada tujuan awal penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah, maka semua perbuatan yang diatur dalam Islam semuanya bermuara pada ibadah kepada Allah. Bukan semata hiburan menyenangkan hati yang sia-sia, ada yang melenakan dari ketaatan, dan ada lagi yang jelas bernilai sebagai kemungkaran. Maka, orang beriman akan menempatkan pilihannya pada aktivitas yang mencakup kedua kebutuhan itu, hati terhibur namun tetap berpahala dan jauh dari hal yang laghwun atau sia-sia.

Nabi SAW bersabda,

كُلُّ مَا يَلْهُو بِهِ الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ بَاطِلٌ إِلاَّ رَمْيَهُ بِقَوْسِهِ وَتَأْدِيبَهُ فَرَسَهُ وَمُلَاعَبَتَهُ أَهْلَهُ فَإِنَّهُنَّ مِنَ الْحَقِّ

“Setiap permainan laghwun yang dilakukan seorang muslim adalah bathil, kecuali ketika dia melemparkan panah dengan busurnya, ketika ia melatih kudanya, dan bercanda dengan istrinya. Ketiga hal ini adalah al-haq.” (HR Tirmidzi, beliau berkata, “hadits hasan shahih.”)

Bahkan dalam hadits yang lain, Rasulullah juga bersabda menghasung umat Islam untuk mengajari anak permainan ini.

Rasulullah S.A.W. bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Akhir-akhir ini mulai bermunculan kesadaran di tubuh umat Islam. Alih-alih mencari hiburan yang laghwun (sia-sia), beberapa komunitas kaum muslimin mulai menghidupkan kembali hiburan dan permainan yang dianjurkan Rasulullah. Selain sebagai hiburan, memanah bermanfaat melatih kepercayaan diri serta jiwa kepemimpinan seseorang sejak dini. Juga bermanfaat melatih emosi dan fisik untuk meletakkan target pada sasaran. Begitu pula berkuda, bermanfaat membentuk karakter kepemimpinan, kepercayaan diri, jiwa pemberani, ketangkasan, pengendalian diri, dan menyayangi makhluk Allah lainnya yaitu kuda.

Juga berenang berguna bagi ketahanan fisik. Seseorang yang mahir berenang akan kuat pernapasannya, dan akan berpengaruh terhadap kecerdasan ketika asupan oksigen ke otak terdistribusi dengan cukup.

Masih banyak sebenarnya beberapa permainan mubah yang pernah dilakukan Rasulullah. Rasul pernah berlomba lari dengan istrinya, Aisyah sebagai hiburan dan pengajaran bagi para shahabatnya. Aisyah menceritakan kejadian ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud.

سَابَقَنِيْ  رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَقَتُهُ ٬ فَلَبِثَ حَتَّى إِذَا أَرْهَقَنِيْ اللَّحْمُ  ﴿أَيْ سَمِنْتُ﴾ سَابَقَنِيْ فَسَبَقَنِيْ ٬ فَقَالَ ׃ هَذِهِ بِتِلْكَ أَيْ وَاحِدَةٌ بِوَاحِدَةٍ ٠

“Rasulullah saw. mengejarku, maka aku kejar beliau. Dan dalam beberapa lama saya terus unggul dalam setiap kali berlomba, sehingga ketika badanku jadi gemuk, lantas kami berlomba lari lalu beliau dapat mengungguliku. Maka beliau berkata, ‘satu-satu'”.

Dalam sirah nabawiyah disebutkan bahwa Rasulullah pernah bergulat dengan seseorang yang bernama Ruqanah. Dalam pertandingan itu Rasulullah mampu mengalahkannya beberapa kali.

Semua hiburan dan permainan yang diajarkan Rasulullah adalah baik dan mendidik. Untuk menyegarkan suasana, terkadang Raslullah bercanda dengan para shahabatnya. Suatu ketika ada seorang nenek tua yang datang dan berkata, “Doakan aku kepada Allah agar Allah memasukkan aku ke surga “. Maka, Rasul bersabda padanya, ““Wahai Ummu Fulan! Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki orang yang sudah tua”.

Mendengar sabda Rasul itu, nenek tua itu menangis sejadi-jadinya karena memahami apa yang dikatakan Rasul apa adanya. Maka, Rasul pun segera memahamkannya bahwa ketika dia masuk surga, dia akan berubah menjadi muda dan belia dan tidak ada orang tua di surga nanti. Kemudian Rasul membacakan firman Allah

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita-wanita surga) itu dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al Waqi’ah: 35-37)

Juga candaan Rasul kepada shahabat Ali yang diriwayatkan oleh Bukhari. Ketika Nabi dan sahabatnya berbuka puasa salah satu makanan yang tersaji adalah kurma. Merasa biji kurma yang ada didepannya paling banyak, Ali yang masih kecil saat itu memindahkan biji-biji itu di hadapan Nabi dan kemudian berkata,

Wahai Nabi, Engkau memakan kurma lebih banyak daripada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang menumpuk di tempatmu.”

Nabi pun tertawa dan menjawab, “Ali, kamulah yang makan lebih banyak kurma. Aku hanya memakan kurma dan masih menyisakan biji-bijinya. Sedangkan engkau memakan kurma dengan biji-bijinya.”

Candaan dan bentuk-bentuk permainan yang dicontohkan Rasulullah adalah contoh bagi umatnya yang ingin berhibur diri. Namun, yang perlu diingat adalah berhibur dan bercanda ala kadarnya itu mubah untuk menyegarkan suasana, tetapi hal itu akan menjadi tidak baik jika dilakukan di luar batas dan terlalu sering dilakukan. Jangan sampai bercanda hingga tertawa terpingkal-pingkal yang menyebabkan seseorang kehilangan wibawanya. Karena banyak tertawa dapat mematikan hati

وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ, فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR Tirmidzi)

Juga permainan-permainan di atas harus diatur dalam pelaksanaanya. Jangan sampai sibuk dalam suatu hal yang mubah hingga lalai dari suatu hal yang wajib atau sunnah. Maka, sebagai orang beriman yang berilmu hendaknya mampu memosisikan dan mengatur porsi yang tepat untuk dirinya sendiri dalam hal ini. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis : Dhani El_Ashim

 

... shares

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Lelucon Berbahaya Komika Ge dan Joshua

Artikel - Senin, 15/01/2018 01:00

Tantangan Umat Islam Indonesia di Tahun 2018

Artikel - Rabu, 03/01/2018 16:13