Ada Upaya Adu Domba NU-Persis Usai Serangan Orang Gila di Bandung

Foto: Keluarga Kyai Umar Basri tunjukkan bekas darah akibat serangan orang gila di masjid lingkungan Ponpes Al-Hidayah Santiong Cicalenga, Jawa Barat.

KIBLAT.NET, Bandung – Setelah diserang dan dianiaya orang gila, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayah Santiong Cicalengka KH Umar Basri menderita trauma hebat. Keluarga pun mengalami kesedihan yang mendalam. Apalagi kemudian beredar isu bahwa akibat teror itu, Kyai Basri dikabarkan wafat. Berita itu pun tersebar di kalangan para ulama dan tokoh Islam di Jawa Barat.

Sontak, mendengar kabar itu, sejumlah ormas dan keluarga kyai di Bandung maupun di luar Bandung jadi panik. Mereka segera menanyakan kabar hingga langsung mendatangi Rumah Sakit Al-Islam Kota Bandung, tempat kyai dirawat. Pondok Pesantren Al Hidayah pun kebanjiran tamu yang hendak memastikan kabar itu kepada keluarga.

Baca juga: Kyai Umar Basri, Korban Teror Orang Gila Alami Trauma

Dadang Iskandar, salah satu pengasuh pesantren yang turut menjamu tim Kiblat.net di kediaman Kyai Umar Basri mengatakan pasca musibah yang menimpa kyai banyak beredar isu tak sedap. Antara lain, dikabarkan bahwa Kyai telah meninggal dunia. Apalagi ditambah dengan adanya peristiwa kedua berupa penganiayaan serupa di Cigondewah yang menewaskan Ketua Brigade Persis, KH Prawoto. Dadang menilai ada upaya memanas-manasi dua ormas besar di Jawa Barat, NU dan Persis.

“Pasca dua peristiwa itu banyak ormas-ormas bahkan Cawagub maupun Bupati berdatangan menjenguk KH Umar Basri. Kedatangan mereka untuk memastikan kondisi Akang juga hendak membentuk tim pencari fakta. Tetapi kearifan ulama luarbiasa, menahan para ormas untuk tidak melakukan hal itu dan meminta ormas-ormas itu untuk pulang, padahal kita keluarga malah ikut terpancing dipanas-panasin,” katanya kepada Kiblat.net di kediamannya, Rabu, (7/2/2018).

Pondok Pesantren Al-Hidayah Santiong, Cicalengka, Bandung.

Dia melanjutkan, Kang Aceng sapaan akrab Kyai Umar Basri menilai apa yang menimpanya adalah musibah dan memaafkan si pelaku dengan menyerahkan proses hukum kepada aparat. Keluarga pesantren Al Hidayah pun menganggap bahwa kejadian itu murni musibah. Tetapi ia heran, ketika setelah kejadiaan naas itu terjadi terhembus isu bahwa ada yang coba mengaitkan dua kejadian itu dan membenturkan antara NU dan Persis.

BACA JUGA  Dituduh Radikal, Dikeluarkan dari Kampus, Mahasiswa Ini Malah Dibanjiri Tawaran Kerja

“Katanya, penganiayaan Ketua Brigade Persis adalah bentuk balas dendam atas penganiayaan KH Umar Basri. Astagfirullah, sampai sejahat itu ingin mengadu-domba umat Islam,” ujarnya.

Pihak keluarga pelaku penyerang pun turut menjenguk kyai saat di rumah sakit. Sekaligus menjelaskan latar belakang pelaku dan menghaturkan maaf sedalam-dalamnya.

Baca juga: Fenomena Orang Gila Aniaya 2 Ulama, PKS Mulai Curiga

Anak kedua Kang Aceng, Dedeng Junaidi mengungkapkan bahwa Kyai tidak pernah mempunyai musuh. Beliau hanya mengelola pesantren Al Hidayah ini yang sudah turun menurun hingga generasi ke tiga sejak tahun 1936. Kegiatannya sehari-hari hanyalah berdakwah. Bahkan kyai pun tidak pernah turut serta dalam badan pengurus suatu ormas apapun. Sehingga sedih rasanya bila kyai yang dihormati di Kabupaten Bandung ini dianiaya.

“Keseharian beliau hanya di lingkungan pesantren tetapi murid beliau banyak. Keluarga besar mendirikan pesantren ini murni untuk pendidikan bahkan sejak awal berdiri digratiskan. Hingga kini pesantren Al Hidayah telah meluluskan ratusan santri dan yang saat ini belajar ada 150 santri,” ujarnya.

Reporter: Hafiz Syarif dan Qoid
Editor: Fajar Shadiq

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga