Jalan Terjal Dakwah Para Ulama

Foto: Ulama dan pejuang dakwah di Indonesia
... shares

KIBLAT.NET – Belakangan ini, aksi teror yang dilakukan “orang gila” menjadi perbincangan hangat di kalangan aktivis Islam. Kasus penganiyaan para ulama sepertinya menjadi ancaman baru yang sampai hari ini masih terus terjadi. Jatuhnya korban Ustad Prawoto yang dianiaya hingga meninggal, Kamis (1/2/2018) semakin memperpanjang daftar ulama dan ustad yang mengalami penganiayaan.

Sebelumnya, pada Sabtu (27/1), Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung KH. Emon Umar Basyri juga harus mendapat perawatan karena dianiayai pria tak dikenal saat berzikir seusai melaksanakan Shalat Subuh berjamaah.

Entah benar atau tidak, tapi massifnya BC mengindikasikan bahwa ada pihak yang bermain untuk membuat kisruh suasana. Secara tidak langsung BC yang menyebar memberikan teror psikologis kepada para aktifis dan ulama.

Pasca aksi 212, rentetan kezaliman yang menimpa para ulama dan ustadz sepertinya semakin gencar dilakukan oleh mereka yang terganggu kebebasannya. Sebelum teror psikologis ini, ada kasus kriminalisasi, fitnah dan sebagainya.

Karakter Dahwah yang Dibawakan Para Nabi

Di balik kasus itu semua, ada satu hal yang patut kita sadari bersama. Bahwa upaya penggembosan terhadap penyampai pesan kebenaran bukanlah hal baru dalam perjuangan umat Islam. Sejak awal risalah Islam, upaya permusuhan selalu dimunculkan oleh musuh-musuh Islam.  Berbagai cara dilakukan, siapa pun yang bergabung dalam penyebaran agama Islam akan dihadang dan dianiaya oleh kafir Quraisy. Beratnya tantangan itu, tidak menyebabkan Rasulullah dan para pengikutnya merasa takut dan meninggalkan tugas mulia ini.

Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika mencapai pada puncak penindasan, Abu Thalib membujuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar meninggalkan dakwahnya. Saat itu, muncul sebuah kalimat agung dari lisan beliau SAW, “Demi Allah, seandainya mereka sanggup meletakkan matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku agar aku mau meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan dakwah ini atau aku hancur karenanya,”

Terbukti, selama dua puluh tiga tahun berdakwah, Rasulullah tidak pernah bergeser sedikit pun dari prinsip yang diperjuangkannya. Walaupun dalam perjalanannya beliau seringkali dihina, difitnah, diboikot, bahkan berulang kali diteror dengan upaya pembunuhan. Sebab, beliau paham bahwa risalah yang diembannya itu memang harus siap dimusuhi oleh kaumnya. Sejak pertama kali mendapatkan wahyu, beliau telah diwanti-wanti oleh Waraqah bin Naufal, “Tidak ada seorang pun yang datang membawa kebenaran seperti yang kamu bawa, melainkan pasti akan dimusuhi.” (HR. Bukhari)

Demikianlah karakter dakwah yang harus dipahami oleh para da’i. Perjuangan menegakkan Kalimat Allah bukanlah perkara yang mudah. Ia bukanlah jalan yang mulus dan dipenuhi oleh pujian manusia. Tetapi ia adalah jalan yang sulit penuh dengan perangkap dan cobaan. Jalan yang selalu dihadang dan dimusuhi. Baik secara mental maupun fisik. Laksana kata, dakwah yang haq tanpa dibarengi ujian dan rintangan, seperti sebuah usaha yang patut dipertanyakan; dakwah seperti apakah itu?

Jalan menuju Allah adalah jalan di mana, Adam kelelahan, Nuh mengeluh, Ibrahim dilempar ke dalam api, Ismail ditelentangkan untuk disembelih, Yusuf dijual dengan harga murah dan dipenjara selama bertahun-tahun, Zakaria digergaji, Yahya disembelih, Ayyub menderita penyakit kulit. Daud menangis melebihi kadar semestinya. Isa berjalan sendirian. Dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam mendapatkan kefakiran dan berbagai gangguan. Sementara kalian ingin menempuhnya dengan bersantai ria dan bermain-main? Demi Allah takkan pernah bisa terjadi.”

 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah’ lalu mereka istiqamah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan tidaklah mereka merasa sedih. Mereka itulah para penguhi surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (al-Ahqaf: 13-14)

Sosok Teladan Dalam Berdakwah

Sebagai pewaris para nabi, selain ilmu, para ulama juga mewarisi jiwa keteguhan dalam memegang prinsip. Jiwa yang merdeka dalam menyampaikan kebenaran. Tidak pernah takut dengan celaan ataupun ancaman. Apa pun rela mereka korbankan asalkan dakwah tersampaikan dengan benar. Jiwa seperti ini terus diwarisi oleh para ulama dalam lintas generasi. Baik dari kalangan sahabat, tabiin, tabiut tabiin dan ulama-ulama setelah mereka. Kisah keteguhan prinsip yang mereka perjuangkan banyak tercatat dalam lembaran sejarah.

Dalam salah satu kitabnya, Imam Adz-Zahabi merekam sepenggal jejak pengorbanan sahabat Ibnu Umar dalam berdakwah. Beliau menulis, “Ketika Ibnu Umar menyaksikan kezaliman yang dilakukan oleh gubernur al-Hajjaj, beliau mendatangi al-Hajjaj yang saat itu sedang berpidato, Ibnu Umar dengan lantang berkata, ‘Wahai musuh Allah! Engkau menghalalkan apa yang diharamkan Allah, engkau menghancurkan rumah Allah.’

Lalu Al-Hajjaj mengatakan, ‘Hai orang tua pikun!’ lalu saat manusia mulai pergi, ia memanggil seorang prajuritnya. Dia mengambil tombak beracun dan menusuk kaki Ibnu Umar. Akibatnya, ia jatuh sakit dan meninggal. Ketika Al-Hajjaj menjenguknya dan mengucapkan salam, beliau tidak membalasnya dan ketika Al-Hajjaj mengajaknya berbicara, beliau tidak menjawabnya’,” (Siyaru A`lam An-Nubala, 3/230)

Hal serupa juga dialami oleh salah satu ulama seinor dari kalangan tabi’in, Sa`id bin al-Musayyib. Ketika beliau bersikeras menolak baiat kepada putra Abdul Malik (al-Walid dan Sulaiman) sebagai ganti dari Abdul Aziz bin Marwan, akibatnya ia diganjar 60 kali cambukan oleh Gubernur Madinah, Hisyam bin Ismail, bahkan setelah itu beliau juga dipenjara. (Siyaru A`lam An-Nubala, 5/130)

Lebih sadis dari itu, penganiyaan yang menimpa Sa`id bin Jubair, seorang tokoh tabi`in yang dipenggal kepalanya oleh Hajjaj bin Yusuf As-Tsaqafi, seorang panglima bertangan besi dari Kekhilafaan Umayyah, gara-gara menentang pemerintahannya yang zalim (Siyaru A`lam An-Nubala, 4/338)

Berikutnya para sejarawan Islam juga banyak mencatat beragam kejadian yang tak kalah sadisnya dibandingkan dengan kisah di atas. Sebut saja misalnya Imam Abu Hanifah yang rela dicambuk gegara menolak tawaran khalifah al-Manshur untuk dijadikan qadhi, Imam Malik juga pernah dicambuk oleh penguasa pada zamannya karena tidak mau menuruti titah penguasa, Imam Syafi`i dituduh sebagai pendukung Syiah oleh pendengkinya, Mutharrif bin Mazin. Bahkan dia memprovokasi Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk menangkap Imam Syafi`i dan orang-orang alawiyin. Diutuslah Hammad al-Barbari untuk menangkap Imam Syafi`i dan orang-orang alawiyin. Ia dirantai dengan besi bersama orang alawiyin dari Yaman hingga Raqqah, kediaman Harun Ar-Rasyid (Siyaru A`lam An-Nubala, 8/273]

Imam Ahli Hadits, Ahmad bin Hanbal juga pernah mengalami nasib yang lebih menyakitkan dengan penguasa. Ia dicambuk, dipenjara selama 30 bulan oleh Ma`mun gara-gara tidak mengakui kemakhlukan al-Qur`an sebagaimana yang diyakini kelompok mu`tazilah (al-Kamil Fi Tarikh, 3/180].

Demikian juga dengan Imam Bukhari, beliau terpaksa pergi dari negerinya karena “berusaha disingkirkan” oleh Penguasa Dhahiriyah di Bukhara saat itu, Khalid bin Ahmad al-Dzuhali. Penyebabnya, Imam Bukhari menolak permintaan Khalid untuk mengajar kitab “Al-Jami`” dan “al-Tarikh” di rumahnya. Bukhari beralasan, seharusnya yang butuh ilmulah yang mendatanginya, bukan ulama yang mendatangi yang butuh. Pada akhirnya, Bukhari pergi meninggalkan negerinya tersebut. (Tarikh Baghdad, 2/33)

Nasib yang sama atau bahkan lebih parah dari para ulama di atas, dialami juga oleh Imam Abu Bakar An-Nabulusi. Disebutkan pada masa Mu’iz Lidinillah menduduki tahta kerajaan Dinasti Daulah Fathimiyah, tahun 362 H, kerusakan moral penguasa berada di atas puncaknya. Mu’iz terkenal sebagai penguasa zalim yang suka menumpahkan darah.

Suatu ketika Imam An-Nablusi dihadapkan kepada Mu’iz lalu ditanya, “Aku dapat kabar bahwa kamu yang berkata bahwa: ‘Jika aku memiliki sepuluh panah, maka sepuluh panah akan kulesatkan ke Romawi, dan satunya ke orang-orang Mesir (Syiah Fathimiyah)’?” Beliau menjawab, “Aku tidak mengatakan itu!” Mendangar jawaban ini, Mu’iz mengira bahwa An-Nabulusi sudah rujuk dari pendapatnya.

Ternyata, ulama yang terkenal zuhud ini, justru dengan tegas mengatakan, “(Justru) kami harus melesatkan sembilan panah kepada kalian, dan yang kesepuluh juga kepada kalian.” Sang penguasa kaget dan menanyakan alasannya.  Lalu dijawab dengan tegas oleh An-Nabulusi, “Sebab, Kau telah merubah agama umat Islam, Kau membunuh orang-orang saleh. Kau mengusir ulama, memadamkan cahaya Ilahi. Dan kau merebut apa yang bukan milikmu.”

Penguasa Fatimiyah tersebut lalu memerintahkan penjaga membawa An-Nabulsi ke depan publik. Keesokan harinya, ia dicambuk dengan hebat. Pada hari ketiga, An-Nabulsi dipaku dan disalib, kemudian tukang daging Yahudi dibawa untuk menguliti dagingnya –karena tukang daging Muslim menolak untuk melakukannya. Pada saat daging itu dikupas dari atas kepala ke wajahnya, beliau masih mengingat Allah dan mengulang-ulang ayat Al-Qur’an, “… Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)” (QS. Al-Isra’: 58)

Ketika pengulitan sudah sampai dada (hati), Si Yahudi tidak tega akhirnya hatinya ditusuk hingga An-Nabulusi gugur di jalan Allah. Kemudian, banyak saksi mata melaporkan bahwa ketika jenazah An-Nabulsi masih berada di tiang salib, bacaan Al-Qur’an masih bisa didengar dari jenazah tersebut.

Menariknya, Ibnu Ash-Sha’sha Al-Misri meriwayatkan bahwa ia melihat An-Nabulsi dalam mimpi setelah terbunuh. Mimpi itu sungguh indah dan dipenuhi kegembiraan. Ia bertanya, “Apa yang telah Allah berikan kepada engkau?”

An-Nabulsi menjawab: Allah mencintaiku dengan kemuliaan yang abadi. Dia menjanjikanku kedekatan dan persahabatan kepada-Nya. Dia membawaku sangat dekat kepada-Nya. Dia berkata, “Bersenang-senanglah dalam kehidupan abadi di sisi-Ku.” (Siyar A’lam al-Nubala, 7/220-221)

Kisah-kisah di atas menunjukkan bahwa sudah biasa para ulama dihadang dan dianiaya saat menyampaikan kebenaran. Dan yang menakjubkan adalah tidak ada satu pun dari mereka yang takut lalu mundur meninggalkan jalan dakwah tersebut. Bagaimana pun perlakuan musuh, mereka tetap tegar di atas jalur perjuangan. Mereka cukup memahami bahwa sudah menjadi sunnatullah jika penegak kebenaran akan selalu dimusuhi. Hanya saja, yang menjadi persoalan mendasar bagi umat saat ini adalah sikap terbaik apa yang harus dilakukan ketika ulama dikriminalisasi. Apa hanya diam saja, atau bergerak membantu jalan perjuangan para ulama. Wallahu a’lamu bissowab

Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju

 

... shares

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Pembebasan Roma, Nubuat Nabi yang Belum Terwujud

Manhaj - Ahad, 28/01/2018 05:30

Mendudukkan Hadits Akhir Zaman dengan Realita

Manhaj - Sabtu, 27/01/2018 13:59