Salah Kaprah “Kebangsaan Dalam Ancaman Islamisme”

Foto: Ketua Front Mahasiswa Islam (FMI) Ali Alatas saat ditemui Kiblat.net di area Monas pada Sabtu (02/12/2017).

KIBLAT.NET, – Artikel ini berjudul “Kebangsaan Dalam Ancaman Liberalisme” (Judul sebenarnya yang dipilih penulis. Judul penayangan diubah karena pertimbangan redaksi -edt) terinspirasi dari meme yang tersebar—setidak-tidaknya diterima oleh penulis—, di mana terdapat undangan seminar yang diadakan oleh salah satu ormas Syiah mengusung tema “Kebangsaan Dalam Ancaman Islamisme.” Penulis menilai judul tersebut salah kaprah, karena sebenarnya yang mengancam realitas kehidupan kebangsaan kita hari ini adalah paham Liberalisme, yang diusung oleh sekelompok orang dan didukung penuh oleh lembaga funding asing, yang entah apa kepentingannya. Maka dari itu, perlu kembali permasalahan ini diangkat agar orang-orang tidak mislead (tersesat –edt) dengan upaya kaum liberal yang melakukan demonisasi gerakan umat Islam.

Meme undangan seminar bertema “Kebangsaan Dalam Ancaman Islamisasi” yang akan digelar pengikut Syiah IJABI

Suatu bangsa dalam perjalanan sejarah kehidupannya, pasti akan menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, baik dari luar maupun dari dalam. Oleh karena itu dikenal konsep bernama Ketahanan Nasional. Ketahanan Nasional adalah kondisi dinamis yang terintegrasi dari kondisi tiap aspek kehidupan bangsa dan negara. Pada hakikatnya, Ketahanan Nasional adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk menjamin kelangsungan hidup menuju kejayaan bangsa dan negara.

Antara Ketahanan Nasional dan Pembangunan Nasional memiliki hubungan saling mengisi satu sama lain. Berhasilnya Pembangunan Nasional akan meningkatkan Ketahanan Nasional, selanjutnya Ketahanan Nasional yang tangguh akan mendorong Pembangunan Nasional. Sehingga, Pembangunan Nasional dengan Ketahanan Nasional tidak bisa dipisahkan. Ketahanan Nasional berbicara tentang bagaimana suatu bangsa menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang senantiasa mengancam, sedangkan Pembangunan Nasional dibicarakan bagaimana suatu bangsa berusaha mewujudkan tujuan nasional.

Salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia sebagaimana termaktub dalam mukadimah UUD 1945 adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Karenanya, pembangunan manusia Indonesia merupakan hal penting dalam konsep Pembangunan Nasional kita dan merupakan salah satu pilar dalam mewujudkan ketahanan nasional yang kokoh. Di situlah peran pendidikan menjadi sangat sentral. Dalam Pasal 3 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan di Indonesia secara jelas bertujuan membangun manusia yang “…beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Namun dalam penerapannya, tujuan pendidikan yang sudah sangat baik, yakni mendidik manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki akhlakul karimah, tidaklah berjalan semulus yang dipikirkan. Ini diakibatkan ulah segelintir kaum pseudo-intellectual yang membawa paham, yang memiliki daya rusak luar biasa pada keimanan dan ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa, begitu pula menghadang terbinanya akhlakul karimah dari Manusia Indonesia. Paham yang dibawa kaum pseudo-intellectual tersebut adalah paham Liberalisme!

BACA JUGA  Kasus Ratna Sarumpaet Tak Dapat Diperluas, Pelaporan Prabowo dkk Dipertanyakan

Mereka yang terjangkit virus Liberalisme, umumnya hanya berkeinginan menghargai pemikiran bebas, bebas dari kepercayaan yang dianggap membelenggu kebebasan. Demi agenda tersebut, mereka tidak segan-segan menggugat ajaran syariat agama bahkan tidak pula segan menolak keyakinan teologis (baca: Aqidah), yang menurut mereka bertentangan dengan kebebasaan manusia. Manusia dijadikan ukuran semata (man is a measure of everything) tidak peduli nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, yang terpenting baik menurut kepentingan dirinya.

Belum lama ini, seorang dosen sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup besar di Jakarta melecehkan hadits, yang merupakan sumber kedua dari ajaran Islam. Dia mengatakan, hadits tidak suci. Lebih dari itu, ia berpandangan jika Al-Qur’an yang merupakan sumber utama ajaran Islam tidak sesuai dengan kepentingan dirinya dan “dirasa” tidak menghargai kebebasan manusia, dengan mudah dia akan mengatakan Al-Qur’an tidak suci lagi. Karena, bagi mereka kaum liberal, yang sakral itu manusia. Selama Al-Qur’an mengakomodir kepentingan mereka maka mereka pun mengaminkan, tapi bila sebaliknya, kalau perlu, ajaran Al-Qur’an diinjak-injaknya.

Mereka (kaum liberal) mengatakan, Al-Qur’an produk budaya yang tidak lepas dari pengaruh sosio-kultural masa ketika Al-Qur’an diturunkan. Sehingga, bila bertentangan dengan kepentingan manusia saat ini, Al-Qur’an bisa direvisi. Inilah dalil yang mereka gunakan untuk membolehkan praktik LGBT. Mereka mengatakan, manusia bebas menentukan orientasi seksual. Syariat Islam lainnya juga menjadi korban “kebrutalan” kaum liberal ini, seperti jilbab, yang dianggap membelenggu hak wanita dalam berekspresi, agar supaya wanita dapat dengan bebas mengumbar auratnya.

Bahkan lebih ekstrem lagi, institusi perkawinan pun mereka gugat. Mereka mengatakan perkawinan adalah bagian dari kemerdekaan seseorang dalam menentukan untuk apa alat kelaminnya digunakan, apakah untuk bebas mencari kenikmatan maupun dijualnya demi mencari kekayaan. Singkatnya kembali lagi kepada kepentingan manusia selalu diatas kepentingan ajaran agama. Karena inti pemikiran Liberalisme adalah Individualisme yang dibangun oleh semangat Antroposentris, yang diambil dari sejarah Barat untuk menentang institusi gereja yang mewakili kekristenan pada masa reinassance.

Sungguh begitu banyak contoh-contoh kerusakan yang terjadi yang ditimbulkan paham liberalise, namun tidaklah mungkin dapat terangkum semuanya dalam artikel ini. Setidaknya contoh di atas dapat dijadikan sample bahwa kerusakan yang dibawa kaum pseudo-intellectual, yang mengusung liberalisme sangat merusak dan berbahaya serta merupakan ancaman bagi pembangunan manusia Indonesia, yang diharapkan memiliki kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlakul karimah. Lebih-lebih jika kita kaitkan dengan Dasar Negara Indonesia yakni Pancasila, yang sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa. Ini menandakan bahwa sesungguhnya Indonesia sangat menjunjung tinggi ajaran agama, berbanding terbalik dengan kelakuan kaum liberal yang merendahkan agama.

BACA JUGA  Gara-gara Algoritma

Dapatlah dikatakan bahwa Liberalisme merupakan ancaman dari usaha Pembangunan Nasional. Bila dia adalah ancaman dari Pembangunan Nasional maka begitu pula dengan Ketahanan Nasional. Karena jika Pembangunan Nasional terhambat atau tidak tercapai maka dengan sendirinya Ketahanan Nasional pun akan melemah sehingga dengan mudahnya Indonesia menjadi bulan-bulanan kepentingan asing. Belum lagi realitas selama ini LSM-LSM yang mengkampanyekan paham Liberalisme biasanya selalu diguyur pendanaan asing, yang patut diwaspadai tujuan di baliknya. Maka tidaklah salah jika dikatakan kalau realitas kebangsaan kita saat ini dalam ancaman Liberlisme.

Umat Islam dan Ketahanan Nasional

Justru gerakan umat Islam, yang selama ini dituduh sebagai ancaman bangsa, ikut membantu mewujudkan program pembangunan nasional bahkan ikut aktif memperkuat ketahanan nasional. Bila ketahanan nasional berbicara tentang bagaimana suatu bangsa menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang senantiasa dapat mendatanginya, dalam hal moralitas maka ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan ditimbulkan oleh tindakan-tindakan maksiat atau penyakit masyarakat seperti narkoba, minuman keras, pornografi, perjudian, aliran sesat dan lainnya.

Dalam Islam sendiri, Allah SWT menjelaskan kepada kita lewat Al Qur’an tentang konsep ketahanan nasional dalam Islam, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah….” (QS Ali ‘Imran; 110)

Allah SWT dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa suatu bangsa yang besar, hebat, kuat dsb, yang Allah SWT bahasakan sebagai “Khairu Ummah” atau “umat yang terbaik” itu dibangun di atas dasar komponen bangsa yang selalu menyerukan kebenaran, dan mencegah segala bentuk kemunkaran dan yang paling penting adalah munculnya kesadaran ideologis yang selalu mengusahakan diri untuk selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Inilah konsep ketahanan nasional yang Allah SWT terangkan secara singkat jelas dan padat. Inilah syarat suatu bangsa dapat menjadi bangsa yang kuat. Sehingga tidak mungkin umat Islam menjadi ancaman bagi bangsa, justru sebaliknya memperkuat Ketahanan Nasional bangsa Indonesia. Wallahu a’lam bisshowab

Penulis: Ali Alatas, SH (Ketua Umum PP Front Mahasiswa Islam)
Editor: Hunef Ibrahim

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Din Syamsuddin: Liberalisme Ancam Kedaulatan Negara

Indonesia - Kamis, 22/03/2018 00:03

Cegah Paham Syiah, Annas Kabupaten Pangkep Terbentuk

Indonesia - Kamis, 11/01/2018 09:11