Suliyono dan Mitos Radikalisasi

Foto: Suliyono, pelaku penyerang gereja di Sleman.
... shares

KIBLAT.NET – Akhir pekan kemarin, publik digemparkan dengan penyerangan Gereja Katolik Santo Lidwina, Sleman. Pelaku yang diidentifikasi bernama Suliyono, beraksi seorang diri. Empat orang mengalami luka serius karena tebasan senjata tajam, entah parang atau sejenisnya, milik pelaku.

Kejadian ini membuat banyak pihak bereaksi. Banyak pihak mengutuk aksi kekerasan tersebut. Apalagi, aksi Suliyono tersebut dilakukan di tengah acara ibadah Misa Pagi. Tak heran, banyak pihak yang bertanya-tanya tentang motif pelaku.

Berbagai spekulasi muncul, meski penyelidikan mendalam masih dilakukan. Salah satu pernyataan datang dari orang nomor satu di Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Dilansir dari Republika online, Tito Karnavian, sang Tribrata 1, mengatakan bahwa Suliyono terindikasi terpapar paham radikal. “Dia pernah tinggal di Poso, Sulawesi Tengah dan Magelang. Ada indikasi kuat yang bersangkutan ini mendapat paham radikal yang prokekerasan,” kata Tito di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (12/2). Selain itu, Tito juga menambahkan bahwa Suliyono pernah berusaha untuk berangkat ke Suriah, tetapi gagal.

Radikal, radikalisasi, radikalisme. Kata-kata ini merupakan kata yang cukup kontroversial. Tak ada definisi mengenai “radikal” yang disepakati. Populernya istilah tersebut berkaitan erat dengan serangan 11 September 2001. Seseorang diklaim menjadi radikal karena proses radikalisasi. Pasca peristiwa 9/11, di Barat berkembang sebuah teori bahwa seseorang yang telah terpapar paham radikal, berpotensi melakukan tindakan kekerasan dan terorisme.

Dalam Jurnal berjudul “Mitos Radikalisasi” yang dirilis oleh Lembaga Kajian Syamina, disebutkan bahwa penggunaan istilah ‘radikalisasi’ dan segala yang berhubungan dengannya adalah produk dari penelitian pasca 11 September.

Sebelumnya, para ahli terorisme tidak menggunakan konsep tersebut dalam usaha mereka untuk merumuskan model penyebab terjadinya terorisme. Sebagai contoh, studi akademik tentang penyebab terorisme yang paling berpengaruh sebelum serangan 11 September adalah makalah dari Martha Crenshaw yang berjudul The Cause of Terrorism. Dalam makalah tersebut, Martha menjelaskan tentang tiga faktor yang menyebabkan terorisme, yaitu:

  • Motivasi individu dan sistem kepercayaan
  • Pembuatan keputusan dan strategi dalam sebuah gerakan teroris
  • Konteks politik dan sosial yang lebih luas di mana gerakan teroris berinteraksi
BACA JUGA  Mencari Identitas Muslim: Antara Ikatan Kebangsaan dan Ideologi

Hari ini, segala jenis penelitian tentang radikalisasi telah mengesampingkan faktor kedua dan ketiga dan memfokuskan seluruh perhatiannya pada level individu. Apa agamanya, bagaimana pemahaman keagamaannya, bagaimana interaksi dengan masyarakat sekitarnya, dan hal-hal lain seputar individu pelaku. Padahal, faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan kekerasan dan terorisme sangatlah kompleks dan tidak dapat dikurangi hanya pada sebatas berpegang pada seperangkat nilai-nilai yang dianggap radikal.

Mestinya, radikalisasi harus dipahami sebagai sebuah proses yang bersifat saling berkaitan dan memiliki hubungan kausalitas. Dengan demikian, ia adalah sebuah proses yang tidak hanya melibatkan keyakinan dan aksi dari orang atau kelompok yang melakukan tindakan teror namun juga pihak lain yang terlibat konflik dengannya. Kekerasan yang muncul adalah hasil dari interaksi antara dua pihak dan persepsi yang mereka bangun atas tindakan satu sama lain, bukan sekadar produk dari ideologi salah satu pihak.

Mengapa Poso dan Suriah disebut oleh Jenderal Tito? Jelas, keduanya memiliki kesamaan nasib. Di Poso, medio awal 2000, sebuah Pesantren bernama Walisongo dibumihanguskan. Kyai dan santri dibantai. Aksi pembantaian ini memicu konflik horizontal antara masyarakat Muslim dengan massa Kristen. Sedangkan di Suriah, ummat Islam yang menuntut mundurnya Penguasa, justru dilawan dengan peluru dan bom.  Keduanya merasakan satu hal yang sama: kezaliman terhadap umat Islam.

Konteks politik dan sosial juga harus dilibatkan sebagai unsur pembentuk pemahaman “radikal”.  Kalau pun benar, Suliyono pernah tinggal di Poso lalu terpapar ideologi radikal di sana, mestinya ada refleksi dari Polri dan pemerintah, apakah penegakan hukum di Poso, terkait konflik horizontal yang melibatkan masyarakat Muslim dan Kristen, telah dirasa adil, atau masih berat sebelah?

BACA JUGA  Ketika Istilah Terorisme Jadi Alat Negara

Bagaimana seseorang bisa disebut memiliki paham radikal? Apa sebenarnya definisi “radikal”? Tidak ada orang yang bisa memberikan definisi secara jelas. Radikal menurut satu pihak, belum tentu menurut pihak lain. Akhirnya, sematan “radikal” bisa dengan mudah dilabelkan untuk pihak lain, tanpa indikator yang jelas dan bisa digunakan bersama.

Lalu, mengapa dalam setiap analisis serangan terorisme, standar prosedur di media massa selalu fokus pada agama teroris, bukan soal latar belakang kondisi sosial-politik,?

Seorang pakar kontraterorisme, CJ Werleman, menjawab bahwa itu semua dilakukan “karena mudah dan menentramkan hati. Mencirikan pelaku sebagai seseorang yang fanatik dalam beragama memberi kita narasi yang menentramkan, yaitu bahwa kekerasan yang mereka lakukan berakar dari ekstrimisme agama dan tidak memiliki konteks politik yang lebih luas yang membutuhkan investigasi atau pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.

Insiden penyerangan terhadap ulama yang terjadi akhir-akhir ini juga menimbulkan keresahan bagi umat Islam. Serangan dari “orang gila” bahkan membuat Ustadz Prawoto, salah satu pengurus PERSIS (Persatuan Islam) meninggal dunia. Pengusutan kasus masih dirasa sangat kurang. Sebab, dalam beberapa kasus penganiayaan terhadap ulama, pihak kepolisian memvonis pelaku sebagai orang gila.

Beda dengan kasus penyerangan Gereja Santo Lidwina ini. Tak tanggung-tanggung, Polri bahkan mengerahkan Satuan Burung Hantu, Detasemen Khusus Anti Teror, untuk ikut mengusut kasus ini. Ketimpangan perlakuan antara dua kejadian ini, penyerangan ulama dan penyerangan gereja, kelak juga berpotensi menjadi bahan bakar “radikalisasi”, jika benar-benar ada.

Penulis: Multazim Jamil

... shares

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Fahmi Salim Ajak Umat Kritis Lihat Kasus Terorisme

Indonesia - Sabtu, 19/05/2018 07:59