Warga Akui Proses Pemakaman Muhammad Jefri Tak Lumrah

Foto: Makam Muhammad Jefri.

KIBLAT.NET, Tanggamus – Tempat pemakaman umum Kapuran berada tepat di bibir pantai. Sehingga tanah pemakaman ini berupa pasir pantai, bukan tanah liat pada umumnya. Tidak ada yang membedakan antara makam Muhammad Jefri (MJ), terduga teroris yang tewas sehari setelah ditangkap oleh Densus 88 dengan makam lainnya.

Hidayat, warga yang tinggal tepat di samping TPU Kapuran mengatakan sudah jadi hal umum setiap makam baru tidak mesti dicantumkan nama dan tanggal wafat. Penamaan makam biasanya dilakukan setelah tiga hingga lima tahun pasca dikuburkan. Hal sama yang dilakukan terhadap makam MJ.

“Kami warga Kapuran kaget dan tidak percaya bahwa ada warga Kapuran yang diduga teroris. Meski saya tak mengenal lebih jauh MJ, namun MJ terlihat ramah saat berkunjung ke Kapuran. Lebih kaget lagi kenapa pemakamannya berlangsung cepat,” ungkapnya kepada Kiblat.net di halaman rumahnya, Selasa (13/02/2018).

Dia melanjutkan dirinya mengetahui kabar duka MJ sejak Jumat sore (09/02/2018), di mana rumah Mukri, ayah MJ sudah ramai dengan anggota kepolisian. Akan tetapi dirinya terkejut saat pagi sepulang melaut ternyata MJ sudah dikuburkan.

“Biasanya warga akan bergotong royong melayat jenazah di desa Kapuran, sebab di TPU ini tidak ada penjaga kuburan atau profesi penggali kuburan. Nah pemakaman MJ justru tidak banyak diketahui warga, tiba-tiba pagi kuburan itu sudah ada,” ujarnya.

Senada dengan Hidayat, warga sekitar TPU Kapuran bernama Asnah juga mengungkapkan, bahwa pemakaman tersebut berlangsung begitu pagi, bahkan pemakaman menggunakan lampu penerang. Berdasarkan info yang didapat warga, penggali kuburan MJ ada tiga orang dari RT sebelah yang masing-masing mendapatkan bayaran.

“Baru ini ada yang dimakamkan pagi-pagi sekali. Kita juga tidak sempat melayat ke kuburan tahu-tahunya kuburan itu sudah jadi. Sebab mana ada yang mau menggali kuburan pagi-pagi sekali kalau tidak dibayar, meski pada umumnya di sini pemakaman dilakukan bergotong-royong,” ujar Asnah.

Dia menjelaskan aktifitas warga sehari-hari adalah mencari ikan dan berdagang. Sehingga sore melaut pagi baru pulang dan ke pasar menjual hasil tangkapan. Pemakaman MJ di pagi hari yang terlewatkan begitu saja menyisakan tanda tanya di lingkungan sekitar.

Sementara itu Sumiyati, mengatakan dirinya juga terkejut mendengar kabar tewasnya MJ. MJ dikenal oleh tetangganya seorang yang baik, biasa membantu sang ayah memancing ikan di laut sejak kecil hingga sesudah berkeluarga saat berkunjung ke Lampung.

“Kita sangat kaget dan tak percaya Jefri tewas dalam status terduga teroris. Padahal ia terlihat baik dan biasa-biasa saja tidak banyak tingkah,” tukasnya.

Reporter: Hafidz Syarif
Editor: M. Rudy

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Muhammadiyah Akan Praperadilankan Kasus Siyono

Indonesia - Jum'at, 16/03/2018 19:37