Manusia, Komputer, dan Cadar

Foto: Pelarangan cadar

KIBLAT.NETWaymo, salah satu anak perusahaan Google adalah sebuah perusahaan yang menghabiskan waktunya hanya untuk mewujudkan apa yang disebut self driving car atau kendaraan tanpa pengemudi. Misi mereka adalah menciptakan lingkungan berkendara yang lebih aman, nyaman, serta mengurangi risiko kecelakaan. Ketika seseorang kelelahan, mengantuk, atau mabuk dia tak perlu lagi mempekerjakan sopir pribadi atau menelepon istrinya untuk mengantarnya pulang dengan selamat.

Proyek ini telah dimulai sejak tahun 2009, dan pada tahun 2017 lalu mereka berhasil mencapai sebuah perkembangan menakjubkan. Di mana mobil ciptaan mereka telah mampu menempuh jarak 32.188 km cukup dengan satu sentuhan intervensi manusia, artinya sejauh jarak tersebut mobil tersebut tak membutuhkan keberadaan pengemudi.

Tentu saya terkejut, kagum, sekaligus merinding. Saya mengingat kesulitan-kesulitan yang saya alami ketika memulai belajar menyetir. Begitu sulitnya menjaga fokus dan konsentrasi menyeimbangkan tekanan kaki pada gas dan kopling dalam rentang jarak tertentu. Kesulitan itu membuat saya memahami mengapa mengemudi menjadi sebuah keterampilan yang bisa dikomersialkan. Karena memang secara faktual, pengalaman mengemudi seseorang berbanding lurus dengan skill mengemudinya.

Ancaman komputer terhadap aspek kehidupan manusia bukanlah isapan jempol belaka. Hal ini telah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Ketika saya kecil, saya membaca berita bahwa Grandmaster Catur dunia dikalahkan komputer, dan di pertemuan kedua dia berhasil menahan seri komputer. Saat itu, tidak ada perenungan yang berarti dari cerita tersebut. Tetapi sekarang saya menjadi merasa konyol, permainan catur adalah seni, seni berpikir lebih tepatnya, semakin lama kita berpikir, semakin sering kita bermain semakin mahir lah kita. Dan ternyata proses panjang yang dilalui itu tak berarti apa-apa di hadapan komputer yang bahkan sekali pun tak pernah berlatih.

Tetapi saya bersyukur karena ini cuma catur, tak terlalu esensial, bapak-bapak kita bermain catur hanya karena ingin bermain, demi hiburan semata tanpa motif-motif tertentu. Hanya manusia yang “kurang kerjaan” saja yang menjadikan catur sebagai perlombaan yang harus dimenangkan.

Lain dengan mobil, mobil telah menjadi bagian tak terpisahkan hidup kita. Apa yang terjadi ketika mobil ciptaan Waymo nanti beredar di pasaran. Jika saat itu tiba, mungkin orang-orang seusia saya akan merindukan kecelakaan jalanan, karena betapa tidak menariknya jalanan yang tak lagi manusiawi. Dan tentu para ahli bahasa –jika masih belum digantikan komputer- harus bersiap menghapus kata “kemudi” dan berbagai turunannya dari kamus kehidupan manusia.

Mobil besutan Waymo

Namun di sisi lain, kita seharusnya tak perlu takut-takut amat. Ketika komputer telah “merampas” sebagian besar kehidupan kita, inilah momen yang tepat untuk merenungkan kembali apa yang membuat kita lebih istimewa ketimbang komputer.

Kita semua tahu bahwa akal adalah keistimewaan kita dibanding makhluk ciptaan Allah lainnya. Lantas kenapa kita tidak meneriakkan hal serupa di hadapan para komputer. Apakah hanya karena mereka nampak lebih cerdas dari sapi, nyali kita lantas menciut. Berbagai kecerdasan yang ditampilkan komputer seharusnya tidak menyilaukan kita untuk menyadari sebuah kenyataan bahwa baik sapi maupun komputer sekedar melakukan “apa yang harus”, sementara masing-masing perbuatan kita mempunyai tujuan.

Tujuan telah memacu manusia untuk berkembang dan terus berkembang. Manusia yang teguh pada tujuannya tidak akan mudah menyerah pada rintangan yang dihadapinya, berbeda dengan komputer yang sampai detik ini masih tanpa tujuan, bekerja berdasarkan intruksi tuannya, dan tak mampu mengatasi problem kehabisan daya dengan sendirinya.

Insting survive (bertahan hidup) yang kita miliki inilah yang mungkin bisa membuat kita tetap menjadi makhluk yang paling unggul di masa mendatang, sekalipun komputer telah merampas seluruh kehidupan kita. Namun yang membuat saya merinding adalah ketika menyaksikan manusia yang mulai malas ber-survive ria di masa kini, mau jadi apa mereka di masa mendatang, jika komputer benar-benar telah menguasai kita.

Dalam kasus pelarangan cadar di kampus baru-baru ini misalnya. Saya pribadi memandang bahwa cadar adalah bentuk survival terbaik seorang muslimah. Pemahamannya mengenai batasan aurat tidak lantas menjadikan hidupnya terkekang, namun justru membuatnya berpikir tentang bagaimana agar bisa tetap menuntut ilmu tanpa harus merusak keyakinannya.

Sebaliknya yang melakukan pelarangan menurut saya adalah manusia-manusia malas tadi. Tidakkah mereka menyadari jauh sebelum ditemukannya huruf braille orang-orang buta tak mempunyai kesempatan membaca. Kini mereka malah melewatkan kesempatan untuk menjadi the next Braille, kesulitan dalam absensi serta komunikasi malah menjadi hambatan bukan tantangan.

Bukankah seharusnya ini menjadi momen untuk memikirkan sistem absensi yang lebih mutakhir, toh jauh sebelum ada mahasiswi bercadar sistem absensi konvensional sebenarnya juga sudah tidak relevan, karena rawan adanya mahasiswa titip absen. Bukankah momen ini seharusnya menjadi ajang berpikir para dosen untuk menemukan metode pengajaran baru yang mampu mengayomi seluruh peserta didik. Atau jangan-jangan pelarangan ini cuma kambing hitam saja, untuk menutupi kemampuan berkomunikasi yang buruk serta skill mengajar yang pas-pasan.

Bukan bermaksud mengolok-olok, tetapi saya justru semakin tak mengerti ketika larangan tersebut dicabut. Ketika melihat alasan pencabutannya adalah demi menjaga iklim akademik yang kondusif. Saya menjadi bertanya-tanya apakah “masalah-masalah” yang ditimbulkan oleh cadar sudah terselesaikan, atau memang masalah tersebut hanya mengada-ada. Atau jangan-jangan larangan tersebut lah yang menjadikan iklim akademik tidak kondusif.

Yah tapi mari kita lupakan peristiwa ini dengan segera. Cukuplah kita mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Dan di akhir paragraf ini saya menyadari sesuatu, bahwa sampai kapan pun komputer tak akan pernah mengungguli manusia. Karena ternyata manusia dapat berperilaku layaknya komputer, sedangkan komputer tak mampu melakukan kebalikannya.

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

10 Negara Eropa yang Melarang Busana Muslimah

Eropa - Jum'at, 03/08/2018 15:05