Milad ke-6 JITU: Perjuangan dan Harapan untuk Jurnalis Muslim

Foto: Anngota JITU berfoto bersama dalam Kongres JITU IV

KIBLAT.NET, Jakarta – Memasuki Milad Jurnalis Islam Bersatu (JITU) ke-6, peran jurnalis Muslim dalam kancah media menjadi harapan besar bagi umat di tengah derasnya arus media mainstream.

Terbilang terlambat, di tengah media mainstream dengan kuasanya memframing berita dan memainkan isu-isu negeri ini. Sementara umat Islam hanya bisa mengelus dada diserang dengan isu-isu miring yang mendiskreditkan citra Islam, kala media Islam bermain sendiri-sendiri.

Namun, setidaknya lima tahun belakangan sedikit-demi sedikit kesadaran dalam totalitas membangun media Islam mulai terbangun, ditambah kobaran semangat Aksi Bela Islam 212 di tahun 2016. Beralih dari era buletin dan majalah menjadi media masif. Pasalnya, umat Indonesia membutuhkaan kiblat media yang memiliki isi dakwah dan nilai-nilai keislaman per-setiap hari bahkan per-jamnya.

Keseriusan itu dikuatkan dengan ikatan persatuan yang melaraskan komitmen dan tujuan, berbagai media Islam dengan didirikannya organisasi jurnalis muslim. Salahsatunya ada aliansi Jurnalis Islam Bersatu (JITU) yang telah berkiprah sejak 14 Februari tahun 2012, diresmikam di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta.

Ketua Jurnalis Islam Bersatu, Muhammad Pizaro, mengatakan JITU berdiri dengan landasan sebagai wadah ukhuwah jurnalis Muslim untuk memperkuat satu sama lain. Wadah ini sangatlah penting dibutuhkan oleh jurnalis Muslim dalam mengembangkan ilmu jurnalisnya dengan membawa peran dakwah bagi umat.

“Membawa tugas Jurnalis Muslim selain mengemban peran sebagai umat Islam, kita juga dituntut untuk profesional dalam menjalankan tugasnya. Untuk itu JITU berharap dukungan para ulama dan umat kepada mereka yang mengambil bagian di bidang Jurnalistik ini,” ujarnya saat berbincang santai dengan Kiblat.net di warung Sate Tegal, Jakarta Timur, Sabtu, (10/3/2018).

BACA JUGA  Kemajuan Taliban, Kemunduran Amerika

Jurnalis kantor berita internasional Anadolu Agency itu mengatakan perbedaan antara Jurnalis Muslim dengan Jurnalis pada umumnya adalah terikatnya jurnalis Muslim dengan kode etik yang lebih ketat dari jurnalis umumnya. Kode etik itu antara lain, dilarang membuat berita bohong, wajib klarifikasi, meminta maaf kala salah, dilarang menulis fahisah dan dilarang menerima amplop.

“Kode etik ini cukup berat dijalani, salah satunya dilarang menerima amplop sebab hal itu selalu melekat dengan wartawan. Akantetapi bagi saya dengan menjalankan kode etik itu, justru menumbuhkan semangat wartawan untuk tidak memilah-milih dalam liputan atau narasumber. Senjata besar kita adalah semangat keimanan dan jiwa spiritual,” tuturnya.

Dalam kiprahnya, JITU turut serta mengawal problematika umat, baik mengawal aksi-aksi Umat Islam maupun aksi kemanusiaan di wilayah konflik. Pizaro mengutip pernyataan Ustadz Arifin Ilham yang mendukung perjuangan JITU saat mengawal Aksi Bela Islam. “Beliau menuturkan JITU dikenal umat melalui karya tulisannya yang diviralkan dengan pembelaan atas agama Islam dan umat,” ungkapnya.

Tentunya dalam perjuangan sebagai wartawan JITU, juga kerap mendapatkan kesulitan dan ancaman. Tantangan tersulit adalah mengungkap sisi berbeda dari arus framing media-media mainstream yang kerap menyudutkan Islam.

Begitu pula dalam mengungkap kemaksiatan-kemaksiatan di mana wartawan JITU kala itu turun meliput swepping tempat prostitusi di Solo justru dipidanakan. Meskipun pada akhirnya dibebaskan atas pembelaan umat melalui, #BebaskanRanu dan upaya pembelaan lainnya.

BACA JUGA  Menyudutkan Islam atas Nama Toleransi

Bahkan, tantangan lainnya adalah fitnah yang disudutkan kepada JITU akhir-akhir ini. Di mana JITU dituding sebagai penyebar hoaks dan media bayaran partai politik tertentu. “Saya tegaskan JITU sama sekali tidak mengafiliasikan dirinya mendukung partai politik manapun,” ujarnya.

“Kita berharap JITU kedepannya menjadi acuan panduan refrensi bagi jurnalis Muslim. Keyakinan itu melihat JITU memiliki wartawan-wartawan senior, mantan Pimpinan Redaksi Majalah Sabili, wartawan senior Al Jazeera dan wartawan senior di Solo. Kita harus berbuat yang terbaik untuk umat dengan memegang amanah umat,” katanya.

Dalam kurun waktu keanggotaan JITU terus berkembang, hingga saat ini sekitar 70 orang telah bergabung di JITU. Mereka wartawan yang terdiri dari berbagai media baik cetak, tv, online baik mainstream maupun media Islam.

“Banyak kawan-kawan wartawan berkata kepada saya hendak mempelajari agama Islam. Kita ajak mereka mari bergabung di wadah JITU ini. Di sini kita bisa saling berbagi informasi terkait dunia keislaman,” serunya.

Dewan Syuro JITU, Mahladi mengatakan kelembagaan JITU masih dalam proses melengkapi persyaratan sebagai aliansi Jurnalis resmi. Salah satu syaratnya adalah memiliki beberapa perwakilan cabang di berbagai daerah. Adapun AD/ART dan kode etiknya JITU sudah dimilikinya dan menjadi acuan JITU.

“Kode etik ini menjadi pedoman Jurnalis Muslim. Salah satu yang ditekankan adalah tidak memberitakan berita bohong apalagi menyebarkan hoaks. Kita akan terus berupaya meningkatkan profesionalisme organisasi JITU ini dan keanggotaannya,” ujarnya dalam memperingati Milad JITU ke-6.

Penulis: Hafidz Salman
Editor: Hunef Ibrahim

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

JITU Seru Bentuk Jaringan Informasi Palestina

Indonesia - Sabtu, 24/11/2018 22:29