Peran Jurnalis Muslim: Wujudkan Maqosidu Syari’ah, Lawan Kebatilan dengan Fakta

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET, Jakarta – Kiprah Jurnalis Islam Bersatu (JITU) diharapkan untuk terus berjuang mencerahkan umat. Dukungan itu disampaikan oleh Guru Besar Ilmu Komunikasi, Prof. Ibnu Hamad dalam ucapan Milad JITU ke-6.

Dia berpesan umat Islam harus terus mengembangkan media sebagai pencerah umat dengan menyuarakan kepentingan umat Islam. Satu sisi Jurnalis Muslim harus memegang kaidah-kaidah jurnalistik dalam Islam.

“Terpenting adalah profesionalisme kaidah jurnalis harus dipatuhi dan diamalkan lebih-lebih memegang konsep Muslim yang tidak diperbolehkan memberitakan berita bohong, kotor atau kekerasan,” katanya kepada Kiblat.net di Masjid Abu Bakar as Shiddiq, Jakarta Timur, Sabtu, (10/3/2018).

Ibnu Hamad menjelaskan JITU atau Jurnalis Muslim lainnya harus memegang prinsip terwujudnya Maqosidu Syari’ah. Pertama, Hifdzud Din sehingga Jurnalis Muslim melalui pemberitannya yang menyelamatkan agama. Sebagai contoh mengingatkan umat dari pemikiran yang menyimpang, memberikan pembelaan agama atas orang yang melecehkan agama.

“Selanjutnya, Hifdzul Mal. Mempromosikan berita-berita tentang ekonomi umat, cara yang memperoleh harta yang halal, anti korupsi dan lainnya,” imbuhnya.

Ke tiga, Hifdzul Aql yakni mempromosikan berita-berita yang mencerdaskan akal umat atau menjaga umat dari perusak akal. Seperti menghajar minuman keras, narkoba dan lainnya yang merusak akal.

“Ada lagi, Hifdzun Nasl yakni berita-berota yang mempromosikan pentingnya penjagaan keturunan. Seperti promosi pentingnya pernikahan atau tidak memberi tempat dan mengkritisi fenomena perzinahan, LGBT dan sebagainya,” tuturnya.

BACA JUGA  Temuan Narkoba di Penjara, MUI: Petugas Lapas Harus Ditindak Tegas

Profesor berharap media Islam dapat melawan framing media mainstream yang mendiskriditkan Islam. Adapun caranya, informasi harus dilawan dengan informasi.

“Kita lawan dengan mengimbanginya dengan kekuatan informasi. Jikalau mereka memiliki fakta Lima (5) kita punya fakta sepuluh (10), apabila logika mereka sepotong, kita logikanya tuntas. Jadi jangan dilawan dengan emosi, ibaratkan kita sebagai pemadam kebakaran,” tegasnya.

Dia mencontohkan misalkan ada sebuah peristiwa di lapangan, media mainstream memberitakan yang menyudutkan Islam maka peran Jurnalis Muslim di sini harus mengungkap fakta lain melawan fakta buruk itu.

“Saya berharap dari aspek kelembagaan JITU untuk segera melengkapi persyaratan keorganisasian nya. Sehingga JITU dapat merangkul para tokoh-tokoh Muslim dan sambil mempromosikan keluar dengan agenda-agendanya. Semua itu agar JITU dikenal dan mendapatkan banyak dukungan umat,” pungkasnya.

Reporter : Hafidz Syarif
Editor: Hunef Ibrahim

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

JITU Gelar Daurah Penerimaan Anggota Baru di Bandung

Indonesia - Sabtu, 05/05/2018 10:48