Turki Ulitimatum Jerman Soal Serangan Terhadap Masjid

Foto: Juru bicara Menteri Luar Negeri Turki, Bekir Bozdag.

KIBLAT.NET, Ankara – Turki mengirimi Jerman sebuah catatan diplomatik mengenai serangan baru-baru ini yang menargetkan masjid dan asosiasi budaya Turki.

“Hari ini Kementerian Luar Negeri kami memanggil duta besar Jerman untuk Ankara. Peringatan yang diperlukan disampaikan kepadanya dan sebuah catatan dikirim,” kata Wakil Perdana Menteri dan juru bicara pemerintah Bekir Bozdag setelah sebuah pertemuan kabinet di Ankara.

Bozdag menambahkan bahwa Turki akan terus memantau perkembangan di Jerman. Dia juga meminta pihak berwenang Jerman untuk segera melakukan upaya melawan serangan teroris yang menargetkan komunitas Turki.

“Pemerintah Jerman dan pasukan keamanannya memiliki tanggung jawab utama untuk keselamatan warga Turki dan Muslim lainnya yang tinggal di Jerman,” tambahnya seperti dilaporkan media Turki, Hurriyet.

Setidaknya dua masjid dan asosiasi budaya di Jerman telah dikebiri sejak 9 Maret. Sebuah masjid di Berlin juga telah dibakar oleh penyerang bertopeng pada dini hari Ahad (11/03/2018) pagi.

Sebuah laporan pemerintah mengungkapkan, terdapat 950 serangan terhadap muslim dan masjid di Jerman pada 2017. Kementerian Luar Negeri mencatat setidaknya 60 serangan tahun lalu menargetkan masjid dan institusi muslim lainnya. Pelakunya mayoritas dari ekstremis sayap kanan.

Pada Januari lalu, pihak berwenang Jerman mulai mendata kejahatan islamofobia pada catatan khusus. Hal itu dilakukan setelah muncul desakan dari komunitas muslim di negara itu untuk mengambil tindakan yang lebih serius terhadap meningkatnya jumlah kekerasan terhadap muslim.

BACA JUGA  Masjid Bakal Ditutup Jika Imam Katakan Homoseksual adalah Kejahatan

Jerman, sebuah negara dengan 81,8 juta orang, memiliki penduduk muslim terbesar kedua di Eropa Barat setelah Perancis. Dari 700 juta muslim di negara ini, 3 juta berasal dari Turki. Banyak dari mereka adalah generasi kedua atau ketiga keluarga Turki yang bermigrasi ke Jerman pada tahun 1960an dan terintegrasi dengan baik.

Sumber: Hurriyet, World Bulletin
Redaktur: Ibas Fuadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga