Bukan Fiksi, Al-Qur’an Otentik Hingga Akhir Zaman

Foto: Mushaf Al-Qur'an
... shares

KIBLAT.NET – Seiring dengan panasnya isu politik, muncullah beberapa istilah menjadi polemik lantaran untuk meningkatkan popularitas tokoh atau menjatuhkannya. Diantara yang istilah yang menjadi polemik tersebut adalah kata fiksi yang disandingkan pada Kitab Suci saat acara ILC. Karena belum adanya kesepakatan sudut pandang dalam pemberian makna fiksi, sehingga polemik Kitab Suci itu Fiksi berlanjut di luar acara. Timbullah pertanyaan, apakah al-Qur’an termasuk fiksi?

Umat Islam meyakini Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Bagi umat Islam, al-Qur`an berfungsi menjadi pegangan hidup sampai Hari Kiamat. Karena itulah, Allah akan senantiasa menjaga ke-orisinil-an al-Qur’an :

إنَّا نَحْنُ نَزَّلْناَ الذِّكْرَ وَإنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Qur`an dan Kami sendiri yang akan menjaganya.” (Qs. Al-Hijr : 9)

Dengan demikian, al-Qur`an terjamin keotentikannya hingga Kiamat nanti. Tentu hal ini berbeda dengan kitab-kitab yang lain, termasuk kitab Samawi yang lain seperti Taurat, Zabur dan Injil yang tidak terjamin keasliannya.

Skenario Allah Menjaga Al-Qur’an

Dalam kitab-kitab ‘Ulum al-Qur’an, proses penjagaan al-Qur’an pada masa dahulu disebut dengan Jam’u (menghimpun), seperti Jam’ul Qur’an masa Abu Bakar yaitu menghimpun teks-teks al-Qur’an yang berserakan pada satu tempat. Kata Jam’u sendiri memiliki arti mengumpulkan di dalam hati dengan jalan menghafal dan memperlihatkan dan mengumpulkan berbentuk tulisan dengan cara penulisan dan ukiran. (At-Tibyan fi Ulum al-Qur`an, hlm. 49). Manna’ al-Qathan menambahkan dengan membedakan ayat-ayat dan surah-surah, menyusun ayat-ayat serta menyusun urutan surah-surah. (Mabahits fi Ulum al-Qur’an, hlm. 118)

Pada masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, proses pengumpulan al-Qur’an ada pada hafalan. Sebagaimana Allah berfirman :

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ

“Sesungguhnya Kamilah yang akan mengumpulkannya (menanamkannya dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (Qs. Al-Qiyamah : 17)

Hal ini lebih pada karena masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam banyak shahabat dan Nabi sendiri yang tidak bisa baca dan tulis. Namun demikian, bangsa Arab sangat dikenal dengan kuatnya hafalan.

Maka, ketika wahyu turun, baik satu ayat atau lebih, Nabi langsung mengajarkannya pada para shahabat. Para sahabat juga langsung menghafalnya dan mengulang-ulangi hafalan mereka sampai benar-benar hafal. Setelah mendapat ajaran dari Nabi, mereka pulang ke rumah dan mengajarkannya kepada keluarga yang dirumah. (At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, hlm. 50)

Diantara shahabat yang hafal al-Qur’an adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qal Mawla Abi Hudaifah, Mu’adz bin Jabal, Abu Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin al-Sakkan dan Abu al-Darda’. (Mabahitsul Qur’an, hlm. 119)

Nabi juga menyuruh sebagian para sahabat yang terpilih untuk mengumpulkan al-Qur’an dalam bentuk tulisan. Dan Nabi juga mengajarkan mereka meletakkan ayat-ayat sesuai dengan surah-surahnya. Sahabat yang terpilih adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan keempat sahabat yang menjadi Khulafa’ al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali Radhiyallohu ‘Anhum. (At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, hlm. 52)

BACA JUGA  Pelecehan Cadar, Pemicu Perang Bani Qainuqa'

Penulisan Al-Qur’an dalam Bentuk Mushaf

Setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kepemimpinan digantikan oleh Abu Bakar ash-Shidiq. Karena khawatir akan lenyapnya al-Qur’an, Umar bin Khattab memberikan usulan kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Qur’an yang berserakan. Abu Bakar menyuruh Zaid bin Tsabit untuk mengerjakannya. (At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, hlm. 54). Hingga akhirnya al-Qur’an terkumpul dalam satu mushaf.

Pada masa Utsman bin Affan, tepatnya pada saat perang Armenia dan Azerbeijan. Hudzaifah bin Yaman yang ikut dalam dua perang tersebut melihat banyak sekali perbedaan dalam jenis-jenis bacaan al-Qur’an. Bahkan ada yang mengkafirkan satu sama lain. Perbedaan ini mungkin dipengaruhi oleh perbedaan wilayah, karena saat itu wilayah Islam telah meluas.

Hingga Hudzaifah mengusulkan pada Utsman agar menghimpun mushaf yang ada pada masa Abu Bakar, menyalin dan memperbanyaknya untuk dikirim di wilayah-wilayah Islam. Hal ini supaya perselisihan yang terjadi tidak berlarut-larut sebagaimana yang terjadi pada umat Yahudi dan Nasrani yang berujung pada tahrif dan tabdil.

Kemudian Utsman mengirimkannya pada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al-Ash, Abdurrahman bin Harits dan memerintahkannya untuk mengganti mushaf tersebut sesuai dengan lisan Quraisy, karena al-Qur’an turun dengan lisan Quraisy. (Mabahits fi Ulum al-Qur’an, hlm. 128). Dari sinilah ada istilah al-Qur’an Rasm Utsmani.

Mengukur Keotentikan al-Qur’an

Bukti paling otentik bahwa al-Qur’an itu kalamullah (firman Allah) yang terjaga hingga saat ini adalah I’jazul Qur’an. Bahwa Allah telah menantang manusia dan jin untuk membuat yang serupa dengannya, namun mereka tidak mampu. Allah berfirman :

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

“Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’ân ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Qs. al-Isrâ’: 88)

Kemudian Allah menantang untuk membuat sepuluh surat saja yang semisal dengan al-Qur’an. Allah berfirman :

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴿١٣﴾فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Bahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’ân itu!” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allâh, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allâh, dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah).” (Qs. Hûd : 13-14)

Walaupun Allah telah meringankan tantangannya, namun tidak ada manusia dan jin yang mampu melakuannya. Kemudian Allah menantang untuk membuat satu surat saja yang semisalnya. Allah berfirman :

BACA JUGA  Menganalisa Faktor Kemunduran Umat Islam

وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَىٰ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِين ﴿٣٧﴾ أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Tidaklah mungkin al-Qur’ân ini dibuat oleh selain Allâh ; akan tetapi (al-Qur’ân itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat semisalnya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (Qs. Yûnus : 37- 38)

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين ﴿٢٣﴾فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir.” (Qs. al-Baqarah : 23-24)

Semua Isi Al-Qur’an Otentik

Dari keterangan ini kita mengetahui bahwa al-Qur’ân bukan fiksi. Semua isi al-Qur’an adalah kebenaran yang dijamin keasliannya, tidak ada campur tangan jin dan manusia. Tidak sebagaimana karangan manusia yang bisa benar dan bisa salah, sehingga ada penggolongan karangan fiksi dan non fiksi.

Imam Ash-Shan’âni rahimahullah berkata, “Telah diketahui bahwa termasuk kepastian agama ini, yaitu semua isi al-Qur’ân adalah haq, tidak ada kebatilan (kesalahan/kepalsuan) di dalamnya, beritanya benar, tidak ada kedustaan; petunjuk, tidak ada kesesatan; ilmu, tidak ada kebodohan; keyakinan, tidak ada keraguan. Ini merupakan hal prinsip. Keislaman dan keimanan seseorang tidak sah kecuali dengan mengakuinya. Ini merupakan perkara yang disepakati, tidak ada perselisihan padanya”. (Thathîrul I’tiqâd ‘an Adrânil Ilhâd, hlm. 2)

Tantangan Allâh Azza wa Jalla yang turun bertubi-tubi kepada orang-orang kafir, diakhiri dengan ketetapan bahwa mereka tidak akan mempu membuatnya. Padahal mereka sangat membenci dan memusuhi Islam dan al-Qur’an, menghalang-halangi manusia dari hidayah. Bahkan diantara mereka ada yang menjadi pakar bahasa dan sastra yang jumlahnya tidak sedikit. Dan tantangan ini sejah 14 abad yang lalu. Namun, semuanya bungkam.

Hal ini menguatkan bahwa al-Qur’an itu otentik, asli dari Allah ta’ala. Tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Tidak bisa disamakan dengan fiksi yang merupakan hasil karya manusia, yang mengandung unsur kebenaran dan kesalahan. Wallahu a’lam bis showab..

Penulis : Zamroni

... shares

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Menganalisa Faktor Kemunduran Umat Islam

Manhaj - Selasa, 10/04/2018 05:10

Pelecehan Cadar, Pemicu Perang Bani Qainuqa’

Manhaj - Senin, 09/04/2018 11:30

Penerapan Fikih Istidh’af di Masa Kenabian

Manhaj - Rabu, 04/04/2018 14:30