Peneliti Timteng: Trump Berikan Harapan Palsu kepada Rakyat Suriah

Foto: Donald Trump dan Suriah.
... shares

KIBLAT.NET, Jakarta – Trump bukan sahabat rakyat Suriah. Demikian pernyataan peneliti Timur Tengah Malak Chabkoun yang dimuat Al-Jazeera ketika merespon serangan koalisi AS di Suriah pada Sabtu (14/04/2018).

“Salah satu konsekuensi terbesar dari janji-janji kosong Trump di Twitter telah menjadi harapan palsu yang diberikan kepada orang-orang (Suriah) yang hidup dalam kekejaman Assad dan sekutunya,” kata Chabkoun yang menjadi penulis independen dalam artikelnya berjudul “No, US strikes on Syria will not start World War III”.

Ia menjelaskan banyak yang menyambut serangan AS ke Suriah. Namun, mereka dengan cepat kecewa ketika Menteri Pertahanan AS James Mattis menyatakan bahwa, “Sekarang ini adalah satu kali tembakan, dan saya percaya ini telah menjadi pesan yang sangat kuat untuk menghalangi (Assad) menggunakan senjata kimia lagi.”

“(Serangan) ini hanya sebuah bentuk penyegaran, seseorang yang melarang warga Suriah memasuki negaranya tidak mungkin peduli dengan mereka yang mati di tempat yang jaraknya ribuan mil jauhnya,” ujar Chabkoun sembari mengingatkan larangan ‘travel ban’ yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump.

Chabkoun juga mengingatkan tentang tulisan Trump di Twitter pada 2013 silam yang mencurigai orang-orang yang bangkit melawan Bashar Assad.

“Ingat, semua ‘pejuang revolusi’ di Suriah ingin menerbangkan pesawat ke bangunan kami,” kata Trump sembari menuding banyak pejuang revolusi sebagai seorang yang radikal. “Mengapa kita harus bertarung dengan mereka?” lanjut Trump.

BACA JUGA  Rusia Munculkan Konspirasi terkait Pelaku Serangan Kimia di Douma

Rusia telah menjadi pendukung kuat Bashar Assad di Suriah. Banyak yang berharap bahwa AS akan lebih jauh melakukan konfrontasi dengan Rusia. Terkait hal itu, Chabkoun menyatakan bahwa hal itu sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

“Konfrontasi militer AS-Rusia tidak mungkin di Suriah, karena Washington dan Moskow telah berkoordinasi secara militer sejak intervensi Rusia pada 2015. Apa pun yang terjadi di Suriah di masa depan pasti akan melibatkan penyelesaian antara AS dan Rusia,” kata perempuan yang pernah menjadi peneliti di Qatar selama tiga tahun itu.

Reporter: Ibas Fuadi
Editor: M. Rudy

... shares

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga