Maqhoshid Jihad, Menjaga Jihad dari Ekstremitas

Foto: Syaikh Abdullah Azzam, Karya-karya beliau memberikan pandangan yang utuh tentang jihad

KIBLAT.NET Jihad di dalam Islam memiliki tujuan yang agung dan luhur, jihad juga mendapat tempat yang mulia, bahkan jihad adalah puncak amalan tertinggi, berniat untuk berjihad adalah tanda keimanan, pembeda antara muslim dan munafik, dan dan hari ini jihad menjadi kewajiban yang hilang dalam kehidupan kaum muslimin. Bukan karena tidak adanya jihad, tapi umat Islam tidak memandang jihad sebagai solusi dari masalah umat yang kehilangan kemuliaan.

Penyebabnya adalah, kabut psikologis, perang media yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam terhadap jihad. Setidaknya musuh-musuh Islam melakukan dua cara dalam menghilangkan jihad dari kamus umat Islam. Pertama adalah dengan memberikan penafsiran lain dari kata jihad dan meninggalkan makna aslinya.  Kedua adalah memunculkan wajah ekstrem dan praktek yang ghuluw dari jihad itu, sehingga umat menjadi antipati dengan kata jihad.

Padahal jihad di dalam Islam berbeda dengan perang pada aliran-aliran dan agama lainnya. Jihad di dalam Islam diikat dengan kata yang mulia yaitu, fi sabilillah (Di jalan Allah). Sehingga jihad terlepas dari kepentingan-kepentingan pribadi manusia, balas dendam, menuntaskan amarah atau mewujudkan keinginan jahat beberapa gelintir orang.  Jihad di dalam Islam disyariatkan untuk mencapai tujuan-tujuan syari nan mulia yang telah digariskan oleh Allah Sang Pembuat Syariat yang lagi Maha Bijaksana.

Tujuan-tujuan jihad yang ditetapkan dalam Islam, adalah upaya agar menjaga agar jihad ini tetap berjalan di jalur yang benar dan menutup peluang bagi orang-orang yang ingin menyelewengkan jihad dari tujuan yang telah ditetapkan Allah SWT. Di antara tujuan jihad adalah :

1. Melawan Agresi Musuh Islam

Tujuan ini pada dasarnya selaras dengan fitrah manusia, bahkan fitrah hewan sekalipun. Secara fitrah, Allah menciptakan hewan dengan sistem pertahanan diri. Sistem tersebut menjaga mereka dari serangan musuh mereka.

Melawan serangan musuh dan menjaga jiwa merupakan tujuan yang disepakati oleh semua orang. Semua pihak memaklumi perlawanan masyarakat Palestina terhadap Israel, sebagaimana kita memaklumi perlawanan Diponegoro dan Imam Bonjol terhadap para penjajah. Sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia inilah yang oleh Allah dijadikan salah satu dari tujuan jihad. Allah SWT berfirman :

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Artinya, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian dan jangan kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Baqoroh : 190)

Sejalan dengan ayat di atas, Allah menjadikan sebab pembolehan orang-orang beriman untuk berperang di jalan Allah adalah kezaliman musuh-musuh Islam terhadap umat Islam. Allah SWT berfirman :

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

Artinya, “Diizinkan (untuk berperang) kepada mereka yang diperangi karena mereka dizalimi. Dan sesungguhnya Allah mampu membantu mereka.” (Al-Hajj : 39)

Muhammad Al-Ghzali berkata, “Peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya dan adalah jenis perang yang paling mulia.  Peperangan yang dilakukan oleh Islam (di masa Rasulullah SAW dan para khalifahnya) adalah sebuah kewajiban untuk menjaga kebenaran, melawan kezaliman, membungkam musuh-musuh Islam, meluluhlantakkan kekuasaan tiran.” (Fiqhus siroh : 183)

Jadi, perang di dalam Islam bukan karena semangat genosida atau haus darah, bukan pula karena dendam, tapi karena tujuan yang agung dan luhur dan suci demi menjaga agama dan manusia.

BACA JUGA  Gempa Bumi, Ketika Manusia Mempertentangkan Sains dan Kuasa Allah

2. Membebaskan Manusia dan Menyebarkan Keadilan

Di antara tujuan mulia jihad di dalam Islam adalah menyelematkan orang-orang yang lemah dan menjaga mereka dari kezaliman para tiran di muka bumi. Para tiran yang mencegah dan melarang sampainya cahaya Allah kepada manusia, menjadi tembok besar yang memaksa dan memperbudak manusia. Oleh karenanya Islam mensyariatkan jihad untuk menuntaskan tirani dan kezaliman penguasa terhadap manusia.

Allah SWT berfirman :

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا

Artinya, “Kenapa kalian tidak berperang dijalan Allah, sedangkan orang-orang lemah dari kalangan laki-laki, perempuan dan anak-anak berkata, “Wahai Rabb kami, keluarkan kami dari tempat yang zalim penguasanya. Dan jadikanlah bagi kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” (QS An-Nisa : 75)

Membebaskan mustadh’afin (orang-orang lemah) baik wanita, orang tua dan anak-anak, menjaga mereka dari perbudakan dan kezaliman sehingga mereka menjadi hamba yang merdeka dalam beribadah kepada Allah adalah tujuan jihad yang penting. Sebagaimana disebutkan ayat di atas.

Sayid Qutub berkata, “Sesungguhnya jihad adalah penjamin bagi kemerdekaan keyakinan. Karena Islam  pada dasarnya deklarasi semesta utnuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah di muka bumi. Islam senantiasa akan berhadapan dengan para tiran (thoghut) yang berupaya menundukkan manusia untuk keinginannya. Dan Islam akan senantiasa berhadapan dengan sistem yang menghambakan manusia kepada manusia.” (Fi Dzilalil Quran : 13/1738)

Jadi pensyariatan perang dan jihad di dalam Islam berfungsi untuk menghilangkan kezaliman, dan membebaskan orang-orang lemah dari tiran dan para diktator. Jihad jugalah yang menjaga terjadinya kekacauan agama dan masyarakat.

Jika selain umat Islam berperang atas motivasi agar berkuasa di muka bumi dan berbuat kerusakan di dalamnya, sesunggunya umat Islam berperang untuk menegakkan kalimat Allah.

Syaikh As-Sa’di berkata, “Mereka paham tujuan dari perang, yaitu untuk meninggikan kalimat Allah dan memenangkan agama Allah dan membela kitab Allah.” (Tafsir As-Sa’di : 325)

Allah SWT juga telah menjelaskan bahwa dampak dari kemenangan Islam adalah tersebarnya kebenaran dan keadilan di tengah manusia, Allah SWT berfirman :

Artinya, “Yaitu orang-orang yang apabila kami berikan kedudukan, mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (Al-Hajj : 41)

Dalam lembaran sejarah para khulafaur rasyidin kita dapat menyaksikan keadilan yang merata dari Islam, hal ini karena pembebasan yang dilakukan oleh para khalifah di negeri-negeri Arab dengan jihad fi sabilillah.

Kita bisa melihat bagaimana seorang Yahudi bisa menuntut kezaliman yang dilakukan oleh gubernur kepada khalifah, dan akhirnya dimenangkan oleh khalifah Umar.

Lembaran sejarah kita juga mencatat seorang Ali bin Abi Thalib yang kalah di pengadilan ketika bersengketa dengan seorang Yahudi. Hal ini karena Ali tidak memberikan cukup bukti di pengadilan. Kemudian hal ini membuat Yahudi tadi masuk Islam.

3. Mencegah Terjadinya Fitnah dan Menjaga Akidah

Akidah islam adalah harga mati seorang muslim. Kejernihan tauhid adalah harga yang harus mereka bayarkan demi mendapat jannah Allah SWT. Untuk menjaga akidah dan kemurnian tauhid dari segala macam kesyirikan dan penyelewengan Allah SWT mensyariatkan jihad di jalan Allah.

BACA JUGA  Ternyata Ini Penyebab Dana Pembangunan Rumah Korban Gempa Tak Kunjung Cair

Allah SWT berfirman :

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

Artinya, “Dan perangilah mereka hingga tidak ada fitnah (kesyirikan) dan din hanya bagi Allah semata. Jika mereka menolak, tidak ada permusuhan kecuali pada orang-orang zalim.” (QS Al-Anfal : 39)

Syaikh As-Sa’di berkata, “Perang di jalan Allah tidaklah bertujuan untuk menumpahkan darah orang kafir, merampas harta mereka, akan tetapi tujuan utama perang adalah agar penghmbaan hanya kepada Allah semata, sehingga din Allah menang di atas seluruh agama-agama lainnya. Jihad juga bertujuan melawan segala hal yang bertentangan dengan din Allah, berupa syirik dan selainnya. Itulah yang dimaksud dengan fitnah (dalam ayat ini). Jika tujuan tersebut sudah terwujud,maka tidak ada lagi perang dan pembunuhan.” (Tafsir As-Sa’di : 89)

Ayat dan kutipan di atas dengan tegas dan jelas menggambarkan bahwa tujuan jihad adalah agar penghambaan makhluk kembali kepada Allah. Jihad menjaga peribadatan hamba kepada Allah, menjaga keberlangsungan syiar-syiar agama dan menjaga bumi agar menjadi tempat diterapkannya aturan-aturan Allah.

4. Menjaga Wibawa Negara Islam

Islam sebagai bentuk pemerintahan adalah sesuatu yang perlu dijaga, baik wilayah maupun wibawanya. Alat untuk menjaganya adalah ribat dan jihad. Ribath menjaga perbatasan negara Islam dari musuh yang akan menyerang. Sedangkan jihad menjaga wibawa dan eksistensi negara Islam. Yaitu dengan memerangi mereka yang menginkari perjanjian damai dengan umat Islam.

Hal ini dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam beberpa perang yang beliau lakukan. Sebut saja Perang Bani Quraidzoh, di mana orang-orang Yahudi yang terikat perjanjian dengan Rasul berkhianat kepada Rasul dengan membantu kekuatan Ahzab dalam perang Khandaq. Rasulullah SAW membawa pasukanya untuk mengepung perkampungan Yahudi Bani Quraidzoh. Setelah dikepun selama 25 hari, akhirnya Yahudi Bani Quraidzoh menyerah.

Hal yang sama juga terjadi ketika Fathu Makkah. Yaitu ketika Musyrikin Makkah melanggar perjanjian mereka dengan rasulullah SAW, maka seketika itu pula Rasulullah SAW menggerakkan pasuannya ke Makkah Mukarramah yang berakhir dengan pembebasan kota Makkah.

Allah SWT berfirman :

وَإِن نَّكَثُوا أَيْمَانَهُم مِّن بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ ۙ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنتَهُونَ

Artinya, “Jika mereka mengkhianati janji mereka setelah perjanjian dan mencela agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin kekufuran karena sudah tidak ada lagi perjanjian bagi mereka.” (At-Taubah : 12)

Hal ini disyariatkan agar orang-orang kafir tidak bermain-main dengan umat Islam. Pengkhianatan sekecil apapun yang mereka lakukan harus mendapat hukuman. Hal ini demi menjaga wibawa negara Islam di hadapan orang kafir. Sehingga dengan ini wujudlah kemuliaan bagi umat islam.

Setidaknya dengan diikatnya jihad dengan kata “fi sabilillah” dan memahami tujuan-tujuan mulia dari jihad, seorang muslim terjaga dari praktek-praktek jihad yang salah. Dan jika melihat maqhoshid jihad yang diuraikan di atas, maka jihad adalah sebuah perang suci yang memiliki tujuan luhur bahkan cara yang luhur pula. Wallahu a’lam bissowab.

 

Penulis: Miftahul Ihsan
Editor: Arju

 

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Protokol Zionis di Balik Hancurnya Wibawa Ulama

Manhaj - Sabtu, 20/10/2018 20:22

Dahsyatnya Dosa Pelaku LGBT

Manhaj - Kamis, 18/10/2018 20:15