Pemerintah Tak Ingin Ada Definisi yang Jelas dalam RUU Terorisme

Foto: Suasana Rapat Paripurna DPR RI
... shares

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Pansus RUU Terorisme ‘Romo’ Muhammad Syafii menyatakan sebenarnya pembahasan rancangan undang-undang tersebut sudah selesai. Bahkan tim Panja DPR sudah menjadwalkan agar RUU ini bisa diparipurnakan sebelum masa reses pada masa sidang lalu pada 2017.

“Tetapi kemudian pemerintah yang menunda sehingga pembahasan ini belum selesai,” tukas Romo Syafii kepada Kiblat.net belum lama ini.

Menurut dia, pihak pemerintah terus menunda RUU Terorisme ini diketok palu karena pemerintah pada dasarnya tidak menginginkan adanya definisi tentang terorisme dalam Undang-Undang.

“Karena kita terus bertahan dari DPR, pemerintah kemudian mengajukan usulan yang ukurannya sama sekali tidak relevan dengan definisi terorisme yang seharusnya,” kata dia.

Anggota Komisi III DPR RI ini mengungkapkan sejumlah anggota Pansus RUU Terorisme melihat definisi terorisme itu secara standar sudah ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan Poerwadarminta, di situ dijelaskan bahwa kejahatan terorisme itu punya motif dan tujuan.

Perumusan definisi terorisme juga diusulkan oleh Kapolri dan Panglima TNI, baik sejak zaman Gatot Nurmantyo maupun Panglima TNI yang baru dan Menteri Pertahanan.

Dilanjutkannya, pemerintah yang pada dasarnya tidak setuju ada definisi kemudian mengajukan rancangan definisi terorisme. Tetapi di dalamnya sama sekali tidak memuat motif dan tujuan.

“Kita pun bertanya apa yang membedakan antara teroris dan tindak pidana biasa? Pemerintah memang tidak bisa memberikan jawaban itu,” kata Romo Syafii.

BACA JUGA  ICJR Minta Pemerintah dan DPR Tak Buru-buru Sahkan RUU Terorisme

Ia menduga pemerintah sebenarnya ingin diberi kebebasan untuk menetapkan siapa teroris dan siapa yang bukan teroris sesuka hatinya.

“Kita ingin Ingatkan bahwa di negara hukum sejatinya aparat di negara hukum tidak memiliki kewenangan apapun kecuali yang diamanahkan oleh hukum itu sendiri,” pungkas politisi Partai Gerindra ini.

Reporter: Muhammad Jundii, Taufiq Izhar
Editor: Fajar Shadiq

... shares

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga