×

Meneladani Karakter Generasi Terbaik (Bagian 2)

Foto: Generasi terbaik (Ilustrasi)

KIBLAT.NET – Pada tulisan sebelumnya sudah diulas dua karakter umum pada diri para sahabat. menurut Muhammad Qutub, karakter tersebut adalah karakter utama yang membuat para sahabat berhak mendapat gelar generasi terbaik.

3. Menegakkan Keadilan Sesuai dengan Manhaj Rabbani

Di antara tuntutan utama yang diperintahkan Allah kepada kaum muslimin adalah menegakkan keadilan di muka bumi. Allah menggandingkan perintah ini dengan hakikat iman seorang muslim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا ۚ وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 135)

Dalam ayat di atas Allah mengaitkan antara perintah menegakkan keadilan dengan ikatan aqidah. Lalu Allah menjadikannya sebagai karakter yang selalu menempel pada umat Islam. Sehingga ketika terjadi suatu masalah, umat Islam harus senantiasa adil dalam melihatnya. Tidak boleh ada unsur hawa nafsu dalam memutuskannya.

Suatu ketika Ummul Mukminin Aisyah ra menuturkan, ”Bahwasanya bangsawan Quraisy mau memberi ampunan kepada salah seorang perempuan dari bangsawan Quraisy bani Mahzum yang kedapatan mencuri, lantas mereka berkata: Siapa yang bisa dijadikan perantara untuk menghadap Nabi saw?, maka sebagian dari mereka menjawab: Siapa lagi yang mampu untuk itu selain orang yang paling Nabi SAW cintai yaitu Usamah bin Zaid.

Kemudian Usamah menghadap Nabi SAW, lalu Nabi SAW bersabda: Apakah anda akan meminta ampunan berkenaan degan salah satu dari had Allah?”,

kemudian Nabi saw berdiri dan berpidato: Sesungguhnya kehancuran umat-umat terdahulu adalah disebabkan (oleh ketidakadilan); jika salah seorang dari bangsawan mereka mencuri, maka mereka memberi ampunan, namun jika yang mencuri itu orang biasa (bukan bangsawan), maka mereka menegakan had. Dan demi Allah! Jika Fatimah binti Muhammad saw itu mencuri, maka aku akan tetap memotong tangannya,” (HR. Bukhari)

Para sahabat berhasil mewujudkan prinsip ini sebagai asas utama dalam kepimpinan mereka. Mereka sangat hati-hati dalam memutuskan perkara. Petunjuk wahyu dari Al-Quran dan Hadis selalu mereka utamakan. Tidak keinginan pribadi yang mereka harapkan. Yang mereka tahu bagaimana setiap keputusan yang dilahirkan tidak bertentangan dengan petunjuk wahyu.

Perhatikan bagaimana keputusan Umar bin Khatab ketika menerima aduan salah seorang yahudi dari Mesir yang tidak terima rumahnya digusur untuk pelebaran masjid.  Setelah menceritakan masalahnya, Umar mengambil sebuah tulang unta kemudian menorehkan garis lurus dari atas ke bawah kemudian dari kiri ke kanan sehingga berbentuk silang. Oleh Umar, tulang itu diserahkan kepada orang Yahudi tersebut.

BACA JUGA  Karakteristik Umat Pilihan: Hidup Berjiwakan Al-Quran

Bawalah tulang ini dan berikan kepada Gubernur Mesir, Amr bin Ash. Katakan ini dari Umar bin Khathab,” begitu kata Umar ra.

Orang Yahudi itu meski merasa aneh, namun memberikan tulang itu kepada Amr bin Ash. Seketika Muka Amr bin Ash pucat pasi begitu melihat tulang yang digaris dengan pedang itu. Dia segera mengembalikan rumah orang Yahudi tersebut tanpa pikir panjang.

Orang Yahudi itu bertanya mengapa Amr begitu ketakutan dan segera mengembalikan rumahnya?

Amr bin Ash menjawab, “Ini adalah peringatan dari Umar bin Khathab agar aku selalu berlaku lurus (adil) seperti garis vertikal pada tulang ini. Jika aku tidak bertindak lurus, maka Umar akan memenggal leherku sebagaimana garis horisontal di tulang ini.”

4. Hidup Berjiwakan al-Quran

Para sahabat adalah generasi yang paling sempurna dalam meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak hanya dalam urusan ibadah, dalam aspek yang lain pun seluruhnya mereka contoh dari beliau, terlebih dalam urusan akhlak ketika bermuamalah antara satu dengan yang lainnya. Cerminan ini lahir dari prinsip-prinsip agung yang tercantum dalam al-Qur’an.

Tentang sosok teladan, suatu ketika ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya tentang akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menjawab, “Akhlaknya adalah al-Qur’an,” artinya beliau adalah sosok yang paling sempurna dalam mengamalkan perintah dalam al-Quran dan meninggalkan larangan yang terdapat di dalamnya. Beliau mengimplementasikan seluruh isi al-Quran dalam kehidupannya. Karena itu, beliau disebut seperti al-Quran yang berjalan.

Akhlak mulia ini kemudian diwariskan oleh para sahabat. Maka tidak heran ketika sahabat Abu Bakar pertama kali dipilih sebagai khalifah, pidato pertama kali yang muncul dari lisan beliau adalah, “Amma ba’du, wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian meski aku bukan yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, dukunglah saya. Sebaliknya jika aku berbuat salah, luruskanlah saya…” ungkapan yang sama juga diucapkan oleh umar bin khatab saat beliau ditunjuk sebagai khalifah.

Demikianlah salah satu contoh kemulian akhlak para sahabat. Meskipun tampuk kekuasaan sudah berada di tangan mereka, namun mereka tetap merendah diri dan selalu berupaya agar sejalan dengan petunjuk al-Quran. Mereka tidak segan-segan menyuruh rakyatnya untuk meluruskan sikapnya jika menyimpang dari petunjuk al-Quran.

Demikian juga dalam peperangan, mereka selalu mengingatkan pasukannya dengan pesan yang pernah disampaikan oleh Nabi, “Berperanglah dengan nama Allah di jalan-Nya. Perangilah orang yang kufur terhadap Allah. Berperanglah tapi jangan melampaui batas. Jangan curang, jangan memutilasi manyat, membunuh orang tua, perempuan, dan perenpuan yang mengucilkan diri dalam kuilnya.”

5. Memegang Kuat Komitmen

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ *وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ ۚ

BACA JUGA  Mengkhianati Perjuangan Umat Islam

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu…” (QS. An-Nahl; 91-92)

Dalam ayat di atas Allah hendak mengistimewakan umat ini sebagai umat yang tidak pernah berkhianat. Selalu menempati janji dengan siapa pun juga. Sifat ini telah dibuktikan secara nyata oleh generasi para sahabat. Mereka berhasil menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang berpegang teguh dengan janji yang mereka ucapkan, baiknya dengan Allah sebagai Sang Pencipta maupun dengan sesama manusia.

Ketika Abu Ubaidah bin Jarrah berhasil membebaskan Syam, sebagian penduduknya masih tetap berpegang teguh dengan agama Nasrani. Sebagai konsekuensinya, mereka harus membayar jizyah (upeti) sebagai jaminan keamanan hidup di bawah pemerintahan Islam. Namun ketika keamanan itu mulai terancam, Abu Ubaidah segera memerintahkan pasukannya untuk mengembalikan jizyah yang telah mereka pungut. Dalam kitab Al-Kharaj, Qadhi Abu Yusuf mengisahkan bahwa suatau ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mendapat informasi bahwa Romawi telah menyatukan para tentara untuk menyerang umat Islam dengan jumlah yang sangat besar dan belum pernah terlihat sebelumnya. Kemudian, beliau memerintahkan para pemimpin di daerah Syam untuk mengembalikan jizyah serta apa saja yang mereka ambil dari Ahlul Kitab.

Instruksi itu pun dilaksanakan dengan baik oleh para pemimpin Syam, dan mereka berkata kepada Ahlul Kitab, “Kami hanya ingin mengembalikan harta-harta kalian. Karena sesungguhnya, pasukan Romawi telah melebihi jumlah kami. Dan sekarang, kami harus segera pergi. Sebab, kami tak mampu lagi melindungi kalian.”

Merasa takjub dengan kata-kata yang sangat mengharukan ini, orang-orang Ahlul Kitab berseru, “Semoga Allah mengembalikan kalian kepada kami. Dan semoga Allah menolong kalian atas mereka. Sekiranya Romawi yang memimpin kami, tidak ada satupun yang dapat mereka kembalikan setelah mereka mengambilnya dari kami. Bahkan, mereka justru mengambil semua yang kami miliki, sampai-sampai mereka tidak meninggalkan apa-apa untuk kami.”

Beginilah karakter para sahabat yang berhasil ditanamkan langsung oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam. Kehidupan mereka setelah memeluk Islam benar-benar berubah. Mereka tunduk sepenuhnya dengan syariat Islam. Berjuang sesuai dengan petunjuk rasul dan rela meninggalkan semua tradisi jahiliyah yang sebelumnya biasa mereka lakukan. Karena itu, mereka pun mampu menjayakan Islam pada masanya. Sementara umat Islam hari ini, nampaknya memang sulit meraih kejayaan jika tidak mau meneladani perjuangan mereka. Sangat tepat jika seorang Imam Malik pernah bertutur, ”Tidak akan jaya generasi akhir umat ini kecuali dengan menempuh (jalan hidup) yang telah menjadikan jaya generasi pendahulunya.”

Penulis : Fakhruddin
Editor: Arju

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Mengkhianati Perjuangan Umat Islam

Manhaj - Jum'at, 10/08/2018 20:53