×

Meneladani Karakter Generasi Terbaik (Bagian 1)

Foto: Generasi terbaik (ilustasi)

KIBLAT.NET – Semua sepakat bahwa generasi sahabat merupakan generasi yang terbaik dalam sejarah perjalanan umat Islam. Tidak ada generasi sebaik dan sehebat generasi sahabat. Baik dari sisi ketaatan maupun perjuangan mereka dalam menegakkan agama Allah Ta’ala. Totalitas dalam berjuang menjadikan mereka berani mengorbankan apa pun yang mereka miliki di jalan dakwah. Maka tak mengherankan jika Islam saat itu mampu mengatur seluruh penjuru Jazirah Arab. Keteguhan semangat mereka Allah gambarkan dalam Al-Quran Surat Ali Imron ayat: 146, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran: 146)

Keberhasilan mereka dalam menegakkan Islam tentu tidak lepas dari proses pembinaan yang dilangsungkan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka tidak dididik melalui ceramah atau penyampaian materi semata, namun pribadi mereka terus dikuatkan oleh Allah dengan ujian dan cobaan yang datang bertubi-tubi. Melalui proses ini lah kemudian mereka mejadi sosok pribadi yang memiliki karakter hebat dan mampu menjayakan agama Islam.

Lalu bagaimana karakter para sahabat yang pantas untuk ditiru oleh generasi aktivis Islam hari ini? Dalam kitab Waqiunal Mu’ashir, Syaikh Muahmmad Quthub menuliskan beberapa karakter para sahabat yang mampu mengubah hidup mereka menjadi manusia pilihan. Di antaranya ialah.

1.Memiliki Iman yang jujur

Iman yang jujur akan melahirkan amal yang Ikhlas. Amal yang hanya mengharap balasan dari Allah semata. Bukan dari yang lain. Kejujuran para sahabat dalam beriman, tidak hanya dibuktikan dengan ketulusan beribadah semata, namun juga dikuatkan dengan ketundukan mereka secara totalitas dengan syariat Allah. Sebab, bagian dari konsekuensi ikhlas adalah meninggalkan kesyirikan dalam bentuk apa pun juga. Tunduk sepenuhnya dengan ketatapan Allah ta’ala. Pantang melakukan sesuatu yang menandingi SyariatNya. Baginya, semua persoalan hidup tidak boleh lepas dari tuntunan Al-Qur’an dan As-sunnah.

BACA JUGA  Mengkhianati Perjuangan Umat Islam

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-syura: 21)

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (QS. Al-‘Araf: 3)

Lafaz diin dalam surat Asy-Syura di atas dan perintah mengikuti apa yang diturunkan Allah dalam surat al-Araf, keduanya tidak hanya berkaitan dengan persoalan keyakinan atau ibadah ritual semata. Namun kedua ayat ini mencakup persoalan tahlil (menghalalkan/membolehkan) dan tahrim (mengharamkan/melarang) dalam seluruh persoalan hidup.

Dari sini, Syaikh Muhammad Quthub menyimpulkan bahwa siapa pun yang jujur dengan keimanannya, minimal ia mesti harus memerhatikan tiga hal; bagaimana kelurusan akidahnya, ibadahnya, dan aturan hidupnya. Artinya, Ketika ketiga hal ini tidak bersumber dari yang telah Allah tetapkan, maka ada yang cacat dalam imannya. Belum ada rasa untuk totalitas dalam menerima konsekuensi iman. Dan ini pertanda keimanannya tidak jujur.

Totalitas dalam menjalankan syariat menjadikan para sahabat sebagai pribadi yang menakjubkan dalam segala hal. Maka tidak heran jika kemudian ada kisah sahabat yang menolak pembagian harta ghanimah, karena ingin membuktikan keikhlasannya dalam berjuang. Ada juga yang tidak sempat menghabiskan kurma yang sedang dimakannya karena cepat-cepat ingin mati syahid. Ada pula sahabat yang melaporkan dirinya kepada Rasulullah SAW agar ditegakkan had karena telah melakukan kesalahan. Ya, begitulah wujud kejujuran iman yang emreka buktikan. Sepertinya memang sulit ditiru oleh generasi setelahnya, kecuali mereka mau totalitas dalam berislam sebagaimana yang dicontohkan para sahabat. (Waqiunal Mu’ashir, Syaikh Muahmmad Quthub, hal; 31)

2. Merealisasikan Makna Umat yang Sesungguhnya

Sebelum Islam datang, masyarakat arab tidak pernah mengenal persatuan kecuali yang sebatas kesamaan kabilah, budaya, bahasa atau teritorial semata. Mereka lebih suka hidup berbangga-bangga dengan kabilahnya masing-masing. Bahkan tak jarang atas dasar kebanggaan tersebut, mereka rela berperang satu sama lain.

BACA JUGA  Karakteristik Umat Pilihan: Hidup Berjiwakan Al-Quran

Lalu Islam datang mempersatukan mereka di bawah satu ikatan erat yang menumbuhkan rasa cinta satu sama lain. Tidak ada sekat yang membatasi di antara mereka. Semuanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Semuanya bersatu dalam ikatan ukhuwah, ikatan iman, ikatan aqidah. Rasulullah saw mempersaudarakan antara sahabat Muhajirin dan Anshar. Persaudaraan atas dasar iman. Tidak ada yang membeda-bedakan. Walaupun kabilahnya berbeda, bahasanya tak sama, warna kulit beragam rupa, tapi mereka bersaudara dalam ikatan Islam, “Semua orang mukmin adalah bersaudara,” Rasulullah mempersatukan hati mereka dengan ikatan iman tanpa memandang perbedaan apapun juga.

Perhatikan bagaimana Rasulullah mempersaudarakan antara bangsawan dengan budak. Pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib dipersaudarakan dengan budaknya, Zaid. Abu Bakar dengan Kharijah bin Zaid, Ibnu Rawahah dengan Bilal bin Rabah. Lalu perhatikan juga bagaimana beliau menyambut orang-orang yang berbeda bangsa dan bahasa dengan beliau, Bilal dari Habasyah, Suhaib dari Romawi, Salman dari Persia. Semuanya dianggap sebagai saudara. Bahkan terhadap Salman beliau bersabda, “Salman adalah bagian dari ahlul baitku,”

Seperti ini lah prototipe umat yang dikehendaki dalam Islam. Umat yang bersatu dengan ikatan akidah dan bukan atas dasar yang lain. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 63)

Jadi, tidak mengherankan jika kemudian generasi mereka disebut oleh Rasulullah SAW sebagai generasi terbaik umat ini. Mereka terhimpun dalam makna ikatan umat yang sesungguhnya. Ikatan yang mempersatukan tanpa memandang perbedaan apapun. Dan dengan persatuan seperti ini, mereka mampu menjayakan Islam hingga tersebar ke seluruh penjuru bumi.

Bersambung ke tulisan kedua

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Mengkhianati Perjuangan Umat Islam

Manhaj - Jum'at, 10/08/2018 20:53