Agar Silaturahim Idul Fitri Berbuah Pahala

Foto: Silaturahmi lebaran

KIBLAT.NET – Ramadan akan segera pergi, datangnya Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi. Salah satu ibadah yang lazim dilakukan di tanah air adalah berkunjung dan bersilaturahim kepada sanak kerabat. Bahkan pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama sanak famili menjadi budaya kaum muslimin di negeri ini. Untuk itu, agar ibadah silaturahim berbuah pahala, kita wajib tahu syariat mengenainya.

Definisi Silaturahim

Jika menilik dari segi bahasa, silaturahim terdiri dari dua kata ; shilatu (صلة) dan ar rahimu (الرحم), jamaknya al-arhaam artinya karib atau dekat.

“Shilah adalah isim mashdar. Washala asy syai’u bisy syai’i, artinya menggabungkan ini dengan itu dan mengumpulkannya bersama” (Mu’jam Lughah al-Fuqaha’)

Sedangkan makna ar rahim  menurut Ar Raghib Al Asfahani,

“Ar rahim yang dimaksud adalah rahim wanita, yaitu tempat dimana janin berkembang dan terlindungi (dalam perut wanita). Dan istilah ar rahim digunakan untuk menyebutkan karib-kerabat, karena mereka berasal dari satu rahim” (dinukil dari Ruhul Ma’ani, 9/142).

Dengan demikian makna silaturahim secara bahasa adalah hubungan yang muncul karena rahim atau hubungan kekerabatan yang bertalian melalui rahim.

Makna silaturahim secara syar’i, bisa kita ambil dari penjelasan Imam An-Nawawi. Ketika mensyarah hadits tentang silaturahim ia menuliskan,

“Adapun silaturahim, ia adalah berbuat baik kepada karib-kerabat sesuai dengan keadaan orang yang hendak menghubungkan dan keadaan orang yang hendak dihubungkan. Terkadang berupa kebaikan dalam hal harta, terkadang dengan memberi bantuan tenaga, terkadang dengan mengunjunginya, dengan memberi salam, dan cara lainnya” (Syarh Shahih Muslim, 2/201).

BACA JUGA  Keajaiban Doa di Malam 27 Ramadhan

Ini jelas berbeda dengan pemahaman silaturahim yang jamak beredar di kalangan umat Islam Indonesia. Dimana ketika menjalin hubungan baik dengan seluruh manusia baik itu kerabat atau bukan disebut dengan silaturahim.

Selain hal diatas, kesalahfahaman yang tak jarang terjadi adalah, seringkali muslim enggan bersilaturahim dengan kerabat yang tak mau menyambungnya. Padahal jika merujuk pada as-sunnah, justru hal ini tidak tepat. Rasulullah SAW memerintahkan kita bersilaturahim kepada kerabat yang memutuskan hubungannya dengan kita. Beliau SAW bersabda,

الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Dalam sebuah riwayat dikisahkan telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ فَقَالَ لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” [Muttafaq ‘alaihi].

BACA JUGA  Antara Mudik dan Berbakti kepada Orang Tua

Baca halaman selanjutnya: Hukum Silaturahim...

Halaman Selanjutnya 1 2

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Hasil Rukyat Mahad Aly An-Nur: Jumat 15 Juni Lebaran

Indonesia - Kamis, 14/06/2018 19:51

MUI Minta Pemerintah Jamin Keamanan Idul Fitri

Indonesia - Rabu, 13/06/2018 23:59