Sekali Lagi, Ramadhan Mengajari Kita

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET – Tak terasa dua puluh hari yang  lalu bulan mulia telah meninggalkan kita. Tentu meninggalkan bekas kenangan yang membahagiakan bagi para pecinta kebaikan dan pencari keridhaan-Nya. Waktu memaksa kita berpisah dengan Ramadhan dan kembali kepada kehidupan awal yang bebas, sebebas-bebasnya.

Mencari orang yang setia dalam perjuangan Islam tidaklah mudah, sebagaimana mencari orang yang setia dengan amalannya di bulan Ramadhan. Tak usah terlalu jauh kita memalingkan wajah, di lingkungan sekitar nampak futurnya semangat ibadah sejak Ramadhan akan berakhir. Dan semangat itu runtuh dengan sempurna ketika kumandang takbir iedul Fitri telah membahana.

Itulah yang terjadi pada masyarakat awam dan sudah dianggap hal lumrah. Tentu tidaklah sama dengan apa yang terjadi pada diri seorang aktivis dakwah dan abnau shahwah islamiyah. Ramadhan memberikan pelajaran berharga dan tak terlupakan hingga kita bertemu dengannya lagi tahun depan jika Allah mengizinkan.

Ramadhan Mengajari Kita

Ramadhan mengajari kita apa itu arti kesetiaan. Seorang aktivis yang dituntut selalu bergerak dan aktif tentu terkadang keteteran masalah ibadah. Ramadhan mengajari bagaimana mengefisienkan waktu untuk beribadah dan membiasakannya sebulan penuh.

Maka, ketika ia telah beranjak pergi, diharapkan kita tetap setia dengan amalan yang telah dilakukan didalamnya. Beberapa target yang telah kita capai di bulan suci menjadi target pula di bulan-bulan setelahnya. Peningkatan ibadah dari segi kuantitas dan kualitas agar bisa lebih ditingkatkan atau minimal sama dengan apa yang dilakukan ketika Ramadhan.

Jangan sampai kualitas seorang aktivis dakwah sama saja dengan orang awam yang hanya terlihat di masjid ketika Ramadhan saja. Terkadang seorang aktivis sangat luar biasa aktivitas dakwahnya. Vitalitasnya sunggguh luar biasa, tetapi kering ruhiyahnya karena ibadah yang telah rutin di bulan Ramadhan sedikit demi sedikit ditinggalkan. Ibarat buah-buahan yang datang saat musimnya, ibadah di bulan Ramadhan begitu juga. Ramai dan ranum ketika musimnya tiba , kering kerontang saat habis musimnya.

BACA JUGA  Ketika Ujian Merintangi Jalan Hijrah Para Aktivis

Kata setia mungkin masih terlalu ringan jika dibandingkan dengan kata istiqomah. Ya, istiqomah dalam amalan-amalan bulan Ramadhan yang telah berlalu. Dalam masalah istiqomah, Rasulullah pernah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim

عَنْ عَمْرٍو وَقِيْلَ أَبِيْ عَمْرَةَسُفْيَانَ بْنِ عَبْدِاللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهَ , قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ , قُلْ لِيْ فِيْ اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً , لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًاغَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ , ثُمَّ اسْتَقِمْ . رواه مسلم

Dari Abu Amr – ada yang mengatakan Abu Amrah – Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi rodhiallohu ‘anhu. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, Katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang Islam, yang tidak mungkin aku tanyakan kepada siapa pun selain kepadamu.” Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Katakanlah: “Aku beriman kepada Alloh, lalu istiqomahlah.” (HR Muslim)

Hadits ini tentu sudah masyhur di kalangan kita. Dimana dalam syarahnya disebutkan bahwa Rasulullah menerima sebuah ayat terberat dan membuatnya beruban.

Dari Ibnu Abbas berkata, “Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat ini. Oleh karena itu, ketika beliau ditanya, ‘Betapa cepat engkau beruban’, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sahabatnya, ‘Yang telah membuatku beruban adalah surat Hûd dan surat-surat semisalnya.”

Ayat terberat yang dimaksud Rasulullah adalah surat Hud ayat 112

BACA JUGA  Ketika Ujian Merintangi Jalan Hijrah Para Aktivis

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS.Hud : 112)

Tentu ayat ini berisi tentang keistiqomahan secara keseluruhan bukan semata masalah ibadah apalagi hanya di bulan Ramadhan saja. Jadi, ayat ini secara tidak langsung memberikan pelajaran kepada kita bahwa menjaga sebuah amalan apapun bentuknya bukanlah perkara yang mudah dan remeh.

Apalagi sekelas amalan jihad yang membutuhkan pengorbanan harta dan jiwa tentu sungguhlah berat untuk istiqomah di jalannya. Maka, dari itu kita belajar setia dan istiqomah dengan amalan-amalam terdekat yang pernah kita jalankan yaitu amalan di bulan Ramadhan yang telah lalu.

Percayalah, mana mungkin seorang aktivis yang bercita-cita besar mengangkat senjata membela agama-Nya mampu istiqomah di dalamnya sedangkan ia tidak berusaha menjaga amalan pribadinya.

Oleh karena itu, mari kita bersama-sama memulai dari yang paling kecil, dan memulai dari apa yang sering kita lakukan di bulan Ramadhan, setia dan istiqomah di dalamnya. Insya Allah ketika kita mampu menjaga amalan-amalan yang menjadi menu sehari-hari di bulan Ramadhan, maka Dia akan mengantarkan kita pada amalan yang lebih tinggi pahalanya. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis : Dhani El_Ashim

 

 

 

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Ketika Ujian Merintangi Jalan Hijrah Para Aktivis

Tarbiyah Jihadiyah - Ahad, 15/07/2018 05:18

Lebaran Usai, KPAI Ingatkan Dampak Urbanisasi

Indonesia - Kamis, 21/06/2018 12:21

Muhammadiyah Tetapkan Idul Fitri Jatuh pada 15 Juni 2018

Indonesia - Selasa, 12/06/2018 16:51