Perbatasan Suriah-Yordania Jatuh ke Tangan Rezim Assad

Foto: Deraa, wilayah Suriah Selatan.

KIBLAT.NET, Daraa – Militer rezim Suriah, Senin (09/07), menyebar di seluruh perbatasan Daraa dengan Yordania. Kemajuan yang diraih rezim melalui kesepakatan di bawah oposisi telah membawa mereka semakin dekat merebut pusat kota Daraa.

Lembaga pengawas HAM Suriah (SOHR) melaporkan bahwa pasukan rezim terus menyebar di di seluruh perbatasan Suriah-Yordania. Di mana, milisi loyalis rezim berhasil meraih kemajuan di pedesaan Daraa barat dan memastikan mengontrol Tel Shehab, Zayzoun dan Hait. Dengan demikian, militer rezim untuk pertama kalinya berhadapan langsung dengan wilayah kontrol kelompok Jaisyul Khalid bin Walid yang membaiat Organisasi Daulah Islamiyah (ISIS).

Pasukan rezim mengerahkan peralatan tempur dan kendaraan lapis baja serta pasukan militer di seluruh perbatasan, mulai dari provinsi Suwaida hingga menuju wilayah kontrol Jaisy Khalid bin Walid, termasuk perlintasan perbatasan Naseeb yang menghubungkan wilayah Suriah dan dengan Yordania.

Juru bicara pejuang oposisi di Daraa, Abu Syaimak, mengatakan bahwa beberapa ribu orang kini terperangkap setelah pasukan rezim memasuki pangkalan utama di sebelah barat pusat kota Daraa tanpa pertempuran. Dia mengatakan kepada Reuters pasukan rezim dan milisi sekutunya saat ini memblokade pusat kota sepenuhnya.

Jatuhnya Daraa ke tangan rezim akan menjadi pukulan besar bagi oposisi, karena kota itu adalah simbol protes damai terhadap pemerintahan Assad sehingga membangkitkan gerakan revolusi di seluruh negeri.

BACA JUGA  Dephan Rusia: Garis Zona Demiliterisasi di Idlib Sudah Dibuat

Perwakilan oposisi dan perwira Rusia mencapai kesepakatan pada hari Jumat lalu untuk menyerahkan Daraa dan kota-kota lain di provinsi selatan Daraa yang perbatasan dengan Yordania.

Sebelum perjanjian tersebut, banyak desa dan kota-kota di pedesaan Daraa dipaksa untuk menerima rekonsiliasi yang ditawarkan Rusia, setelah gempuran udara berhari-hari. Serangan udara rezim Assad yang dibantu militer Rusia itu memicu gelombang pengungsi baru dan menimbulkan kekhawatiran Daraa menjadi kuburan massal baru bagi warga Suriah.

Kesepakatan antara oposisi yang diwakili faksi-faksi Free Syrian Army (FSA) dan Rusia itu sama saja menyerah. Poin-poin kesepakatan menguntungkan pihak rezim. FSA mengatakan, pihaknya menerima kesepakatan untuk “mengurangi jumlah korban”.

Perjanjian yang beberapa waktu lalu dilanggar pihak rezim itu pun membuat sebagian pejuang tidak menerima. Oleh karena itu, pejuang yang tidak setuju dipersilahkan meninggalkan Daraa dan pindah ke Idlib. Termasuk poin kesepakatan memfasilitasi pejuang yang tidak setuju pindah ke Idlib.

Perlu dicatat, FSA di Suriah selatan selama ini mendapat dukugan dana dari negara-negara Barat dan Yordania. Oleh karena itu, setiap langkah dan operasi mereka harus mendapat restu dari negara donor. Termasuk yang terjadi akhir-akhir ini, rezim dengan cepat merebut wilayah di Suriah selatan tanpa perlawanan sengit dari oposisi.

Sumber: Al-Sarq Al-Ausath
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga