Israel Tak Kesampingkan Jalin Hubungan dengan Assad

Foto: Peta Dataran Tinggi Golan, sebagian dikontrol Israel dan sebagian di bawah kendali Suriah

KIBLAT.NET, Tel Aviv – Pemerintah Israel menyatakan, Selasa (10/07), bahwa pihaknya kemungkinan pada akhirnya menjalin hubungan dengan Suriah ketika negara itu masih di bawah pemerintahan Bashar Assad. Rezim Assad telah meraih banyak kemenangan dalam pertempuran menghadapi oposisi, khususnya di wilayah selatan yang berbatasan dengan Israel.

Militer Suriah dibantu kekuatan Rusia saat ini hampir menguasai provinsi Quneitra, yang berbatasan langsung dengan Dataran Tinggi Golan. Keuntungan ini telah meningkatkan kekhawatiran Israel atas upaya Assad untuk mengerahkan pasukan pemerintah di sana untuk melanggara perjanjian gencatan senjata 1974 antara Israel dan Suriah, yang melarang penempatan militer di kedua sisi Golan. Golan sendiri terbagi dua; di bawah kontrol Israel dan Suriah.

Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman, mengancam setiap upaya mengerahkan pasukan ke Golan. “Setiap tentara Suriah yang memasuki zona penyangga akan membahayakan hidupnya,” katanya kepada wartawan saat mengunjungi Golan.

Tapi Lieberman mengakui bahwa Assad tampaknya mendapatkan kembali kendali atas sisi Suriah dari Dataran Tinggi Golan.

Saat ditanya apakah ada kemungkinan pintu penyebrangan Quneitra dibuka kembali di bawah perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Suriah dan apakah Israel dan Suriah dapat membentuk “semacam hubungan” di antara mereka, Lieberman berkata: “Saya pikir kita jauh dari hal itu tapi kami tidak mengesampingkan apa pun. “

Pernyataan Lieberman mungkin menandakan pendekatan yang lebih terbuka terhadap Assad menjelang kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Moskow pada Rabu ini (11/07). Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membicarakan terkait Suriah.

BACA JUGA  Saudi Konsumen Nomor Satu Senjata Produksi Negara Barat Balkan

Dalam pernyataan resmi, Israel mengatakan bahwa pertemuan Putin, Netanyahu akan menjelaskan bahwa Israel tidak akan menerima dengan peningkatan kehadiran militer oleh Iran atau proksinya di mana saja di Suriah, dan bahwa Suriah harus secara ketat mematuhi perjanjian pelepasan tahun 1974.

Meskipun secara resmi mengaku memilih posisi netral dari perang di Suriah, Israel telah meluncurkan lusinan serangan udara terhadap pasukan atau persenjataan Hizbullah Lebanon di Suriah, yang dianggap Israel sebagai ancaman yang lebih besar daripada Assad sendiri. Israel telah memperingatkan Assad untuk tidak mendukung operasi semacam itu.

Peringatan Israel itu disampaikan Netanyahu setelah bertemu utusan khusus Rusia untuk Suriah, Alexander Lavrentyev, dan Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Verchinen, pada Selasa kemarin di Al-Quds.

Di bawah keluarga Assad, Suriah melakukan perundingan langsung dengan Israel di Amerika Serikat pada tahun 2000 dan pembicaraan yang ditengahi secara tidak langsung Turki pada tahun 2008. Negosiasi ini berfokus pada kemungkinan Israel menyerahkan seluruh atau sebagian dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki pada tahun 1967.

Namun kedua pihak belum menandatangani perjanjian. Setelah pecahnya konflik Suriah pada tahun 2011, para pejabat Israel, termasuk mantan menteri pertahanan Ehud Barak, memperkirakan rezim Assad jatuh dalam beberapa minggu. Namun perang berubah menjadi keuntungan bagi Assad pada tahun 2015 ketika Rusia campur tangan secara militer untuk mendukungnya. Iran dan Hizbullah Lebanon juga mengirim bala bantuan ke Suriah.

BACA JUGA  Mayoritas Warga Israel Pilih Jalan Militer untuk Akhiri Konflik dengan Palestina

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Israel Khawatir Kehilangan Peran di Suriah

Suriah - Kamis, 24/08/2017 11:15