Melempemnya Rupiah Ancam Industri Obat di Indonesia

Foto: Ketua Litbang Perdagangan dan Industri Bahan Baku Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Indonesia, Vincent Harijanto berbicara dalam diskusi bisnis "Stabilitas Kurs Ganggu Pertumbuhan Ekonomk ?" di Hotel Millenium Sirih, Jakarta Pusat, Rabu, (11/7/2018).

KIBLAT.NET, Jakarta – Lemahnya nilai tukar rupiah atas dollar Amerika Serikat turut mencemaskan pelaku dagang dan industri. Salah satunya pengusaha di bidang farmasi.

Ketua Litbang Perdagangan dan Industri Bahan Baku Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Indonesia, Vincent Harijanto mengatakan selama ini industri farmasi di Indonesia bahan baku farmasinya masih didapatkan melalui impor. Sehingga dengan naiknya kurs rupiah atas dollar Amerika Serikat mencemaskan pelaku industri di bidang ini.

“Mau tidak mau pengusaha ini menunda untuk memgimpor bahan baku, sebab membutuhkan biaya mahal faktor nilai tukar rupiah yang lemah. Pada akhirnya stok obat-obatan menjadi langka,” katanya dalam diskusi bisnis “Stabilitas Kurs Ganggu Pertumbuhan Ekonomk ?” di Hotel Millenium Sirih, Jakarta Pusat, Rabu, (11/07/2018).

Dia mengungkapkan hal itu menuntut pengusaha industri mengambil langkah menaikkan harga. Menurutnya hal itu juga terjadi di industri lainnya selain farmasi. Faktor lainnya, negara importir Indonesia sebagian besar dari China, China pun melakukan proteksi ekonomi, sehingga harga barang pun di sama ikut naik.

“Kebijakan pemerintah melalui BPJS turut menyempit ruang margin pelaku industri dalam impor maupun ekspor. Sehingga miris apabila harga antibiotik yang biasa kita gunakan melonjak mahal,” ungkapnya.

Vincent menjelaskan kecilnya keuntungan itu dimana suplai impor bahan baku industri farmasi kepada BPJS, dengan harga yang sudah dipatok. Margin industri jauh lebih tinggi dibandingkan mereka pengusaha farmasi non industri yang harus impor bahan bakunya sendiri berdasarkan ketentuan Menteri Perdagangan dan BBPOM.

BACA JUGA  Muncul Elemen Muda 212 Menyatakan Penolakan Hasil Ijtima Ulama

“Dalam eksportir bahan baku itu sendiri juga memperhitungkan harga jual. Para pemenang BPJS dengan forum perdagangan memiliki perbandingan margin begitu besar. Maka perlu pengusaha merelokasi bahan baku farmasi, untuk efesiensi,” ujarnya.

“Kita pelaku perdagangan dan industri berharap pada dasarnya yang terpenting jangan sampai dolar menggejolak dan rupiah melemah. Sebaiknya tetap stabil,” pungkasnya.

Reporter: Hafidz Syarif
Editor: Syafi’i Iskandar

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Rupiah Anjlok, Pemerintah Didesak Revisi Kebijakan

Indonesia - Ahad, 15/07/2018 11:50