Kurdi Suriah Dukungan AS Siap Bekerja Sama dengan Rezim Assad

Foto: Anggota militan Kurdi di Suriah (foto: Reuters)

KIBLAT.NET, Damaskus – Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS menyatakan siap untuk bekerja sama dengan rezim Suriah Bashar Assad. SDF yang merupakan pasukan Kurdi Suriah mengingkan pembentukan pemerintahan demokratis untuk menguatkan otonomi di wilayah yang dikuasai.

Tidak ada konfirmasi langsung dari Damaskus mengenai hal ini. Namun Sihanouk Dibo, politikus Kurdi yang berhaluan kiri, mengatakan negosiasi akan berlangsung panjang dan sulit.

“Ini masih sangat awal untuk berbicara tentang kesepakatan, tetapi kami sedang mengusahakannya,” katanya.

Didirikan pada tahun 2015, SDF dibentuk di wilayah timur laut Suriah untuk melawan ISIS dan kelompok bersenjata lainnya. Dengan dukungan senjata dari Amerika, SDF berhasil menguasai 25-30 persen Suriah, termasuk wilayah yang menampung sebagian besar cadangan minyak dan gas negara itu.

Sayap politik mereka, Dewan Demokrat Suriah (SDC), mendesak agar Suriah dibagi berdasarkan garis federal dan terdiri dari daerah-daerah otonom di berbagai daerah.

SDC telah mengatur pemerintahan sendiri di daerah yang dikuasai, mendapatkan sumber daya ekonomi secara mandiri, dan membentuk pasukan keamanan (kepolisian) serta layanan-layanan lainnya.

Hal yang diwaspadai Kurdi oleh SDF adalah kehadiran militer Turki dan hubungannya dengan AS di Suriah. SDF telah kehilangan kota Afrin di Suriah barat laut ketika militer Turki datang pada bulan Januari. Manbij akan juga terebut, jika tidak ada intervensi AS di dalamnya yang mencegah pasukan Turki.

BACA JUGA  Rezim Assad Kembali Langgar Zona De-Ekskalasi, Satu Warga Tewas

Rezim Assad Buka Diplomasi dengan Kurdi

Pemerintah Suriah membuka negosiasi dengan SDF sejak tahun lalu. Menteri Luar Negeri Walid al-Moualem mengatakan bahwa Damaskus bisa duduk dengan Kurdi dan mendengarkan tuntutan mereka setelah ISIS dikalahkan.

“Topik ini terbuka untuk negosiasi dan diskusi dan ketika kita selesai menghilangkan Daesh (ISIL), kita bisa duduk dengan putra-putra Kurdi kita dan mencapai pemahaman tentang formula untuk masa depan,” katanya pada saat itu.

Pernyataan yang dikeluarkan pada hari Sabtu ini muncul ketika pasukan Assad yang didukung oleh Rusia dan Iran, merebut kembali sebagian besar wilayah yang dikuasai oposisi termasuk kota Deraa, yang merupakan tempat kelahiran oposisi Suriah tujuh tahun lalu.

Sebuah Analisis

Marwan Kabalan, kepala analisis kebijakan di Pusat Penelitian dan Kebijakan Kebijakan Arab, mengatakan kekhawatiran SDF terhadap Turki menjadikan mereka merapat ke Damaskus. Namun, rezim Suriah tidak pasti akan memberikan mereka otonomi seperti yang mereka harapkan.

“Dengan Presiden AS Donald Trump mengatakan dia ingin menarik pasukannya dari Suriah timur laut, Kurdi takut ini dapat menempatkan mereka dalam konfrontasi langsung dengan Turki,” kata Kabalan.

“Dan dengan Damaskus belum berkomentar, tampaknya Kurdi dan pemerintah Suriah memiliki dua visi terpisah untuk negara itu,” tambahnya.

Kabalan menegaskan bahwa rezim Suriah tidak mungkin akan memberikan otonomi kepada Kurdi. Sebaliknya, yang mungkin akan mereka berikan adalah pemerintahan lokal menurut UU 107 yang disahkan pada 2012.

BACA JUGA  KH Arifin Ilham Dipindah ke Malaysia untuk Medical Check Up

“Ini akan memberi mereka kekuatan (yang lebih besar), bukan desentralisasi, atau otonomi. Rezim Suriah tidak akan pernah menerima otonomi,” kata dia.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga