×

Eggi Sudjana: Ngajak Berantem Langgar UU KUHP

Foto: Eggi Sudjana dalam diskusi Ijtima Ulama: Politik Agama atau Politisasi Agama di D'Hotel, Jakarta pada Rabu (08/08/2018).

KIBLAT.NET, Jakarta – Penasihat PA 212, Eggi Sudjana ikut mengomentari video ajakan berkelahi yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo di hadapan pendukungnya. Ia menilai, ajakan tersebut bermuatan provokasi.

“Ini bukan kita ambil belakangnya aja, karena kalimat yang sebelumnya itu sudah bagus. Stop jangan mencela dan memfitnah orang jangan ini itu. Tapi ketika diakhiri dengan kalimat, ‘kalau diajak berantem juga berani’ itu melanggar hukum yaitu pasal 182 KUHP,” ungkapnya usai diskusi di D’Hotel, Jakarta pada Rabu (08/08/2018).

Di dalam Pasal 182 KUHP, kata Eggi, siapa yang terbukti mengajak tanding, berkelahi dan yang menyuruh untuk itu dapat dihukum 9 bulan penjara. Namun menurut Eggi, bila seorang presiden melakukan pelanggaran hukum tidak dapat langsung ditindak oleh kepolisian.

Melainkan, mekanisme hukumnya dimulai dari MPR/DPR selaku badan pengawasan pemerintah. Bila MPR/DPR menemukan bukti-bukti pelanggaran lalu akan diserahkan ke Mahkamah Agung. Keputusan akhir lantas ditentukan oleh MA, bila terbukti melanggar hukum maka presiden harus diimpeachment.

“Tapi itu mustahil. Mana ada anggota MPR yang berani manggil presiden,” sambung Eggi.

Proses hukum demikian menurut Eggi, sebagaimana diatur dalam UUD 1945. Di mana, seorang presiden yang melakukan pelanggaran hukum seperti korupsi harus diimpeachment terlebih dahulu. Lalu barulah, proses peradilan dapat dilakukan seperti umumnya.

“Baru setelah itu apakah dia akan dipidana, itu mekanisme berikut. Yang penting dia diimpeachment dulu (dijatuhkan) sebagai presiden yang tidak layak,” jelasnya.

BACA JUGA  Sandal Sang Anak Jadi Kenangan Seorang Bapak Korban Gempa Lombok

Kendati demikian, Eggi menyarankan agar Jokowi menyampaikan maaf secara terbuka atas ungkapan tersebut.

“Jadi saran saya, dengan hormat Jokowi presiden kita bersama sudi kiranya menyatakan permohonan maaf karena kekeliruan omongannya,” pungkasnya.

Reporter: Syafei Irman
Editor: Syafei Irman

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga