Gempa Lombok: Berlapar-lapar Seperti Mereka Lapar

Jam 11 siang WITA, pesawat yang saya tumpangi landing di Bandara Lombok Raya. Ada dua tas berisi pakaian titipan orang untuk disumbangkan, sehingga saya harus menunggu bagasi.

Saat menunggu bagasi berputar, seorang anggota SAR lokal menghubungi saya untuk penjemputan. Alhamdulillah!

 

Beberapa waktu kemudian, saya menumpang mobilnya yang terlihat lusuh luar-dalam. Tak seperti mobil-mobil di jalanan Jakarta yang licin mengilap, mobil yang membawa saya ini berdebu tebal dan penyok sana-sini.

 

Tampaknya yang menyupiri saya ini—pak Zul Namanya—tidak sempat rapih-rapih oleh kesibukan dia menangani korban gempa.

 

Saya berpikir, ia pasti lelah. Mungkin pun tidak sempat tidur tadi malam karena ada beberapa gempa susulan.

 

Belum berapa jauh dari bandara, maka saya menawarkan diri kepadanya.

“Gantian, Pak! Kalau capai,” kata saya.

 

“Boleh, Pak,” jawabnya jujur, bukan basa-basi kesopanan. Ia pun langsung minggir dan “ngantuk,” kata dia.

 

“Ok, Pak! Saya yang nyupir, tapi bapak nanti yang nunjukin jalan, ya.”

 

Namun dalam hati saya, berkata, “Dia kan mau tidur. Kasihan juga kalau tiap persimpangan saya bangunin untuk menanyakan jalan.”

 

Dan benar, baru sekitar 3 menit saya mengemudikan mobilnya, ia sudah tersandar tidur di bangku.

gempa lombok

Menggantikan supir yang kelelahan

 

Sambil mengemudi, otak saya berputar, bagaimana agar saya tahu jalan tanpa membangunkan Pak Zul, padahal ini baru perjalanan pertama ke Lombok.

 

Kesepakatan awal, dia mau dibawa ke wilayah gempa yang terparah dan belum terjangkau oleh bantuan di Lombok Utara. Namun di tengah perjalanan akan mampir sebentar di tempat, yang saya juga belum tahu, untuk mengangkut bantuan terpal.

 

Akhirnya saya buka google map, dan mencari salah satu nama kampung yang terletak di Lombok Utara, di pesisirnya.

 

Sambil mengikuti jalan, sesekali melihat arah di map. Berdasarkan pengalaman, google map sering mengambil jalan pintas. Dan benar saja, saya disarankan melewati jalan-jalan sempit. Sudah telanjur, libas saja!

 

Alhamdulillah, Pak Zul terbangun sebelum sampai di tempat terpal yang hendak dibawa ke lokasi.

 

Usai mengambil barang dan shalat Zuhur, perjalanan ke lokasi dilanjutkan. Menurut perkiraan, perlu sekitar satu setengah jam untuk ke tujuan. Namun, di perjalanan banyak titik macet. Kami mencoba ambil jalur pinggiran pantai Senggigi. Jalur ini diperkirakan lebih sepi.

 

Kenyataannya tidak, ada beberapa bangunan yang runtuh ke jalan dan satu jembatan yang rusak, sebelum masuk ke kota Tanjung—di sini kami juga harus menjemput teman yang berangkat lebih awal. Sehingga, kami baru tiba di posko bencana di desa Rempek pada pukul 17.00 WITA.

BACA JUGA  Lombok dan Mataram Kembali Diguncang Gempa

 

Lokasi posko di pertigaan ke Rempek Atas, sedangkan jalur lurus menuju Kayangan. Karena sudah ditunggu, maka kami langsung menemani Tim SAR FKAM yang hendak mengevakuasi dua korban yang masih tertimbun di bawah perbukitan.

 

Lokasinya sangat sulit dijangkau, dan sebentar lagi hari akan berganti malam. Setelah dua kali salah jalan, akhirnya sampai di dusun Torean, desa terakhir yang bisa diakses dengan mobil. Sedangkan dua korban yang hendak dievakuasi adalah warga dusun Busur.

Gambar 2: Warga di posko pengungsian dusun Torean sedang shalat Magrib di tenda.

 

 

Kami ikut menyimak koordinasi Tim dengan warga setempat. Bapak Suryadinata (39) warga dusun Torean yang mengoordinasi warga pengungsi di tempat itu menjelaskan bahwa lokasi korban tidak bisa diakses dengan motor sekalipun.

gempa lombok

Koordinasi Tim dengan warga setempat

 

 

Jarak dari dusun Torean masih sekitar 7 km, dapat ditempuh dengan motor sampai km ke-4, selebihnya harus jalan kaki. Tim bertekad bisa melihat langsung ke lokasi untuk observasi, sebagai acuan apa saja peralatan yang diperlukan.

Gambar 3: Bapak Surya Dinata (kanan) sedang menunjukkan data warga korban bencana kepada wartawan kiblat.

 

 

Bapak Suryadinata berusaha membantu pinjam motor warga, karena perlu motor yang kuat untuk ke atas. Singkat kata, sekitar pukul 19.00 malam, warga setempat menyatakan tidak berani untuk mengantar ke atas, dengan pertimbangan sulitnya medan.

 

Kami akhirnya turun ke Posko. Bersih-bersih badan dan shalat. Mungkin setelah ini ada makan malam. Tidak biasanya, mungkin karena dalam perjalanan, perut terasa lapar.

 

Berlapar-lapar Seperti Mereka Lapar

 

Sambil beristirahat dan menunggu ajakan makan, saya melakukan koordinasi dengan relawan untuk kegiatan besok pagi, di sebuah gazebo di teras rumah salah seorang warga. Sedangkan teman saya duduk di atas tikar menulis berita.

 

Pantauan sekilas, wilayah gempa di Lombok Utara ini memang sangat parah dan luas. Kami cukup lama membahas agenda yang akan dilakukan. Sampai larut malam, sekitar pukul 23.00, perbincangan ditutup dengan doa kafaratul majelis.

 

Hingga semua orang berbenah untuk tempat merebahkan badan masing-masing, tidak ada tanda-tanda ajakan makan malam.

 

“Lapar sekali ini,” kata teman saya sambil menggeser jaketnya untuk bantal tidur.

 

“Iya,” jawab saya, “Tetapi kayaknya tidak ada makan malam ini.”

 

Sebenarnya, sejak kami jemput di Tanjung, ia sudah menyatakan lapar dan tidak menemukan warung yang menjual makanan. Warung-warung makan telah hancur atau ditinggalkan oleh pemiliknya.

BACA JUGA  Ust. Dr. A. Zain An Najah: Kubu Politik Manapun yang Menang, Umat Islam Tetap Menang

 

Jujur saja, kami malu menanyakan makan kepada relawan-relawan itu sebab, kami perhatikan mereka juga tidak makan sejak kami bersama mereka. Mereka tampak biasa saja, hingga kami berpikir, sepertinya mereka memang tidak ada makan setiap malam selama di sini.

 

Apa boleh buat, kami tidur dengan perut keroncongan. Tidur pun tak nyenyak, kedinginan sambil ada rasa waswas terhadap peralatan yang kami bawa. Maklum, beberapa perlengkapan liputan, seperti lensa, adalah barang mahal dan pinjaman/sewa! Ada juga Drone kesayangan.

 

Sekitar jam 2 pagi, genset kecil yang berisik di samping kami mati. Mungkin bahan bakarnya habis. Suasana menjadi gelap.

Relawan FKAM sedang berusaha menghidupkan genset.

Satu jam sebelum azan Subuh, kami sudah tidak bisa tidur lagi. Akhirnya kami ke masjid yang letaknya di seberang jalan.

 

Jepretan Gempa Bumi

 

Satu lagi yang masih menggelayut dalam pikiran kami adalah bagaimana menemukan cara agar video yang kami ambil bebas dari “gempa bumi” alias goyang-goyang.

 

Pikiran itu semakin mengganggu ketika kami melihat hasil video yang kami abadikan dengan kamera HP dalam perjalanan ke dusun Torean.

 

“Wah yang nonton bakal puyeng nanti ini,” kata saya dalam hati.

 

Kami tahu, drone yang kami bawa bisa berperan like DJI Osmo Mobile 2. Dengan handheld tambahan yang harus dibeli. Tetapi itu tidak mungkin dilakukan.

 

Tak kurang akal! Ada tripod. Singkat cerita, kami bongkar kepalanya, lalu diikat dengan drone dan remotnya hingga mudah dioperasikan layaknya handheld beneran.

Penampakan drone setelah diikatkan di kepala tripod

 

Untuk ujicoba, kami berboncengan dengan teman menyusuri jalan dari Rempek sampai pasar Kayangan, dan naik ke wilayah-wilayah sekitar yang hancur oleh gempa.

 

Alhamdulillah, hasilnya cukup bagus, gambar steady dan tidak goyang. Kami pun kembali ke posko sambil berharap ada sarapan pagi di sana.

 

Dan benar, sekitar pukul 9.30 pagi, tiga relawan memanaskan air di tunggu dengan kayu bakar. Mereka menawarkan mie rebus.

Dapur menyala, pertanda bahagia!

Sambil menunggu masak, salah satu dari mereka meminta maaf kemarin tidak ada makan. Ia menjelaskan bahwa saat di Mataram, mereka sibuk membeli apa yang dibutuhkan oleh korban gempa, terutama genset dan terpal. Itulah yang membuat mereka lupa membeli peralatan masak dan bahan makanan.

Saatnya makan! Tak ada sendok, sedotan air kemasan pun jadi.

“Masya Allah,” kata saya dalam hati. Semoga Allah membalas semua upaya mereka untuk prioritas layanan bagi korban bencana, hingga lupa kebutuhan sendiri.

 

Dan alhamdulillah, kami pun tidak masuk ke dalam prasangka yang tidak baik kepada mereka. Semoga sisa waktu kami di sini dapat memberikan laporan yang sebaik-baiknya dan bermanfaat bagi semuanya, sesuai bidang kerja kami; media.

 

 

Agus Abdullah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Lombok dan Mataram Kembali Diguncang Gempa

Indonesia - Kamis, 06/12/2018 11:13

Besok, Huntara FKAM Insya Allah Diresmikan

Indonesia - Kamis, 08/11/2018 10:07