×

Pengamat: Bahasa Kekerasan Rusak Elektabilitas Jokowi

Foto: Pengamat politik Ray Rangkuni dalam diskusi Ijtima Ulama: Politik Agama atau Politisasi Agama di D'Hotel, Jakarta pada Rabu (08/08/2018).

KIBLAT.NET, Jakarta – Pernyataan Presiden Joko Widodo tentang ajakan berkelahi di hadapan para pendukungnya sangat disayangkan. Pengamat politik Ray Rangkuni berpendapat, pernyataan demikian dapat dimaknai sebagai pembenaran untuk menggunakan diksi-diksi berbau kekerasan dalam perpolitikan Indonesia.

“Saya pribadi menyesalkan. Menurut saya itu kan sama dengan mengundang orang untuk terus-menerus percaya bahwa bahasa-bahasa kekerasan itu sesuatu yang layak dan patut dalam terma politik Indonesia,” ungkapnya seusai diskusi publik di D’Hotel, Jakarta, Rabu (08/07/2018).

Ray menjelaskan, dalam komunikasi politik sangat tidak etis bila seorang presiden menggunakan istilah berbau kekerasan di hadapan masyarakat. Pasalnya, implikasi yang ditimbulkan sangat besar dan akan memperburuk elektabilitasnya.

“Oleh karena itu harus diyakinkan, khususnya untuk pak Jokowi untuk tidak lagi mempergunakan terma-terma itu, berkelahi, yang macam-macam ya,” tegasnya.

Ray menegaskan, tindakan demikian akan merusak Elektabilitas Jokowi baik selaku presiden maupun calon presiden dalam Pilpres 2019 nanti. Ia pun berharap agar hal yang sama tak terulang lagi.

“Elektabilitas lah, karena publik ini jenuh dengan berbagai bentuk intimidasi. Khususnya yang verbal di media sosial. Jadi kalau anda pergunakan kata-kata itu akan merusak empati publik terhadap dirimu,” tukasnya.

Reporter: Syafei Irman
Editor: Syafei Irman

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Eggi Sudjana: Ngajak Berantem Langgar UU KUHP

Indonesia - Kamis, 09/08/2018 11:50