Warga Jawzjan Demo Desak Pemerintah Adili Anggota ISIS yang Menyerah

KIBLAT.NET, Jawzjan – Sepekan yang lalu dilaporkan ratusan milisi bersenjata yang berfiliasi dengan kelompok ISIS wilayah “Provinsi Khurasan” menyerahkan diri ke pemerintah lokal distrik Darzab, bagian utara provinsi Jawzjan. Penyerahan diri masal itu terjadi di tengah gencarnya operasi militer Taliban, termasuk tekanan dari pasukan pemerintah Afghan.

Menurut pejabat lokal setempat, lebih dari 400 pejuang ISIS loyalis al-Baghdadi meletakkan senjata dan menyerahkan diri ke pihak berwenang tingkat provinsi selama sepekan terakhir, dan 200 pejuang ISIS lainnya juga menyerahkan diri ke aparat polisi di distrik Darzab pada 1 Agustus lalu.

Gubernur Mawlawi Lutfullah Azizi menyambut baik langkah tersebut sebagai bagian dari upaya mengakhiri perang dan menciptakan perdamaian yang langgeng. Gubernur Azizi mengatakan, “fenomena keberadaan ISIS sudah tidak ada lagi.”

Para pejabat juga menyerukan kelompok-kelompok bersenjata lainnya untuk mengikuti langkah tersebut, dan berhenti memerangi pemerintah dalam rangka mempercepat proses perdamaian di Afghanistan.

Sementara itu, penduduk setempat di provinsi Jawzjan menuding para mantan kombatan ISIS itu terlibat dan bertanggung jawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Bukan hanya itu saja, para penduduk juga menuntut mereka dihukum.

Ratusan warga yang sebagian besar berasal dari distrik Darzab dan Qush Tepa melakukan protes dan demonstrasi di depan rumah Gubernur di ibukota provinsi Jawzjan, yaitu Shiberghan, selama akhir pekan lalu. Ratusan warga itu mengklaim sebanyak 10.000 anggota keluarga mereka pergi meninggalkan rumah-rumah mereka demi menyelamatkan diri dari kekejaman ISIS. Sebelumnya, Darzab dan Qush Tepa merupakan daerah basis kelompok ISIS di Afghanistan utara.

BACA JUGA  Pemilu Afghanistan Kian Dekat, Perang Masih Berkobar

“Orang-orang ISIS memenjara saya di sebuah sumur selama 8 hari dan menyiksa saya setiap hari supaya saya memberikan uang 12 juta Afghanis (sekitar US$ 17 ribu). Setelah berhasil memeras saya, baru saya dibebaskan,” kata Habibullah, salah satu warga di distrik Darzab.

Habibullah bahkan nekad mengancam akan membakar diri di depan khalayak apabila pemerintah gagal memberi rasa keadilan. Sebagaimana Habibullah, banyak warga lainnya di distrik Darzab dan Qush Tepa menuding para militan ISIS terlibat berbagai aksi kejahatan seperti pembunuhan, perkosaan, penjarahan, dan penghancuran rumah-rumah. Untuk itu mereka mendesak pemerintah mengambil langkah/tindakan hukum terhadap para mantan kombatan ISIS itu atas kejahatan di masa lalu.

Kepala komisi hak asasi manusia Afghanistan, Sima Samar, mengatakan kepada media lokal bahwa tidak ada yang berhak memberikan ampunan terhadap orang-orang itu hanya karena mereka sudah menyerah kepada pemerintah. Saat ini, Sima Samar menjadi pengacara yang mengadvokasi tuntutan warga agar para mantan kombatan ISIS itu diseret ke pengadilan.

Gubernur provinsi Jawzjan, Mawlawi Lutfullah Azizi, sudah memberikan klarifikasi, “pemerintah telah berjanji untuk mengampuni orang-orang itu apabila mereka tidak lagi angkat senjata melawan pemerintah.” Walau demikian, Azizi menambahkan bahwa laporan masyarakat terkait dugaan bekas pejuang-pejuang ISIS itu terlibat kejahatan akan dilakukan investigasi sesuai hukum yang berlaku.

Di waktu yang sama, Maulawi Habiburrahman, mantan pemimpin para kombatan ISIS yang menyerah menolak keras upaya ke ranah hukum tersebut dan menyebutnya sebagai tudingan tidak berdasar. “Pemerintah Afghanistan sudah berjanji untuk melindungi kami, dan ini adalah tanggung jawab pemerintah untuk mengambil langkah dalam rangka memenuhi janji tersebut,” pungkasnya.

BACA JUGA  Efektivitas Operasi Al Khandaq Taliban Lemahkan Rezim Kabul dan Pasukan Asing

Sumber: Xinhuanet
Redaktur: Yasin Muslim

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga