Negosiasi Kurdi dengan Rezim Assad Temui Jalan Buntu

Foto: Pasukan Kurdi YPG.

KIBLAT.NET, Damaskus – Negosiasi antara rezim Suriah Bashar Assad dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG) yang berafiliasi dengan PKK menemui jalan buntu karena perbedaan pendapat mengenai permintaan otonomi di utara dan timur Suriah. Pada Rabu (15/08/2018), sebuah delegasi dari Dewan Demokrasi Suriah (SDC), yang merupakan sayap politik dari Pasukan Demokratis Suriah (SDF) mengadakan pembicaraan baru dengan rezim Assad mengenai desentralisasi dan konstitusi.

Berbicara kepada Anadolu Agency, sumber-sumber lokal mengatakan pembicaraan tidak berakhir dengan hasil positif. Sumber-sumber mengklaim bahwa SDC ingin menjadi salah satu pemegang administratif utama di wilayah yang diduduki. Namun, rezim Assad bersikeras untuk mendapatkan kendali administratif atas wilayah yang dipegang oleh YPG dengan menawarkan pemerintahan lokal, yang terdiri dari departemen ekonomi, interior, pertanian, keuangan, budaya, pendidikan, kesehatan dan keluarga. Sementara untuk urusan luar negeri mereka masih dalam kendali Rezim.

Wilayah yang dikuasai YPG menyebar ke sebagian besar wilayah utara dan timur Suriah, yang kaya akan lahan pertanian, minyak dan air. Ketua bersama SDC, Riad Darar mengatakan kepada media bahwa pada hari Selasa, YPG dan rezim Assad mengadakan “dialog panjang”, termasuk mengenai proposal Rezim agar daerah otonom secara de facto ikut ambil bagian dalam pemilihan lokal negara bulan depan.

“SDC bersikeras menginginkan struktur pemerintahan dan pemerintahan sendiri dalam pemilihan di masa depan,” kata Darar. “Delegasi dari Qamishli memutuskan akan kembali untuk lebih banyak diskusi,” tambahnya.

BACA JUGA  Suriah Serahkan Pengelolaan Pelabuhan Tartus ke Perusahaan Rusia

YPG memiliki hubungan organisasi organik dengan PKK, sebuah kelompok yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh AS, Uni Eropa dan Turki. Meskipun memiliki hubungan, Washington telah memilih YPG sebagai mitra melawan ISIS di Suriah, memasok kelompok dengan senjata dan peralatan militer lainnya.

Pada akhir Juli, YPG melakukan langkah pertama negosiasi dengan rezim Assad, yang dilaporkan menyetujui sebuah sistem negara yang didesentralisasi untuk Suriah dan menyerahkan kota-kota utama, termasuk Raqqa dan Deir Zour kepada rezim.

Tujuan utama YPG adalah untuk membangun daerah otonom di Suriah utara dengan menghubungkan wilayah Afrin barat laut ke wilayah Kobani dan Jazeera di timur laut. Namun, dengan keberhasilan operasi Turki di Afrin dan Manbij, rencana otonomi kelompok itu tidak akan berjalan dengan baik.

Pengama menilai upaya YPG untuk mencapai kesepakatan dengan Assad disebabkan langkah-langkah Turki dengan AS di Manbij yang baru-baru ini menyepakati penarikan kelompok itu dari wilayah tersebut.

Sumber: Daily Sabah
Redaktur: Ibas Fuadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga