Membaca Nasihat Ulama Abdul Somad kepada Calon Umara Sandiaga Uno

Foto: Sandiaga S Uno bersama Ustadz Abdul Somad

Membaca Nasihat Ulama Abdul Somat kepada Calon Umara Sandiaga Uno
oleh Agus Abdullah

 

“Kalau Allah menitipkan kuasa, jangan sampai angkuh dan semena-mena.”
Ustadz Abdul Somad

Kalimat tersebut merupakan kutipan dari nasihat Ustadz Abdul Somad kepada calon umara, Sandiaga Uno dalam acara Tepuk Tepung Tawar di Gedung Lembaga Adat Melayu Riau, Selasa 4 September 2018 (serambinews.com).

Nasihat panjang ulama lulusan Maroko itu disampaikan dalam bentuk pantun. Pantun dalam kultur Melayu Riau kerap dipakai dalam acara-acara resmi. Bahasa yang tepat dan nasihat mendalam untuk kalangan umara, seperti dahulu para penguasa Arab menyukai syair-syair nasihat.

Tahun politik begini, barang kali ada dugaan, Sandiaga Uno sedang mendekati ulama. Atau sebaliknya, Abdul Somad sedang merapat kepada [calon] umara.

Ada atau tidaknya motif tersebut, tidaklah penting untuk diperdebatkan. Cukuplah apa yang tampak sebagai pelajaran. Karena kuat dan lemahnya nasihat itu sangat dipengaruhi oleh seberapa merdeka orang yang mengucapkannya.

Dalam bait-bait pantunnya, Ustadz Abdul Somad mengingatkan agar umara tidak memosisikan ulama sebagai pendorong motor mogok. Umara mendekat kepada ulama saat membutuhkan legitimasi kekuasaan. Ketika ia berkuasa, tak ada satu pun nasihat ulama diindahkannya. Bahkan ulama ditekan dan dipenjara.

Dengar cakap alim ulama
Jangan buat penyorong kereta
Mesin menyala, asap tersisa
Besi habis arang binasa

Dalam sejarah kepemimpinan Islam, banyak umara mendatangi ulama. Tidak sedikit pula, ulama yang duduk dan datang kepada umara. Yang penting untuk digarisbawahi adalah positioning ulama!

Ulama-ulama abad kedua Hijriah, seperti Abdullah bin Mubarak (lebih dikenal sebagai Ibnu Mubarak), Abdurrahman Al-‘Auzai, Ibrahim bin Adham, dan Abu Ishaq Al-Fazari dikenal sebagai pelopor amar makruf nahi mungkar terhadap umara. Ada umara yang adil, ada pula yang zalim, namun mereka tetap memilih merdeka sebagai ulama.

Al-Fazari misalnya. Ulama Khurasan ini hidup pada masa krisis politik ketiga umat Islam, menurut pengelompokan Dr. Faruq Hammadah. Pertama, masa wafatnya Rasulullah sampai pembaiatan Abu Bakar As-Shiddiq. Kedua, akhir khilafah rasyidah yang empat sampai berdirinya kekuasaan Umayyah, Ketiga, masa kemunduran Umayyah sampai berdirinya kekuasaan Bani Abbasiyah. (Hammadah:42)

Al-Fazari mengalami masa 10 kali “tahun politik” atau masa pergantian khalifah. Mulai dari Hisyam bin Abdul Malik (105H) sampai Marwan bin Muhammad (127H) era Umayyah serta Abul Abbas As-Saffah (132H) sampai Harun Ar-Rasyid (170H) pada era Abbasiyah.

Pada masa krisis seperti itu, umat memantau para ulama. Mereka memantau arah setiap orang dari mereka; apakah ikut umara atau memilih bebas. Merdeka menyuarakan kebenaran.

Dalam situasi itu, Al-Fazari mengambil pilihan kedua. Bukan saja menolak diri untuk mendekati umara. Bahkan melarang orang-orang yang mendekat kepada umara untuk hadir di majelis ilmunya. “Siapa yang datang kepada penguasa, janganlah menghadiri majelis kami,” tegasnya. (Hammadah:44)

BACA JUGA  Persiapan-persiapan Menyambut Ramadhan

Itulah pilihan jalan Al-Fazari sebagai seorang ulama yang hidup di masa krisis politik. Sikapnya tidak berarti memusuhi penguasa. Tetapi sebagai jalan untuk menjaga diri. Karena mendekat kepada penguasa bisa menjadi titik awal terkikisnya (madhannah intiqash) agama seseorang.

Ibnu Asakir menceritakan, suatu saat Al-Fazari dihardik oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid karena salah paham dalam suatu masalah. Setelah mendapatkan penjelasan, Ar-Rasyid ridha kepadanya dan memerintahkan pegawai kerajaan untuk menyiapkan 3000 dinar untuk Al-Fazari.

Al-Fazari menolak. Namun dipaksa oleh Khalifah untuk menerimanya. Akhirnya Al-Fazari menerimanya. Tetapi ia tidak makan dari uang itu, ia menyedekahkan semuanya di pasar Baghdad.

Menurut Abu Ali Ar-Rudzabari, yang dikenal sebagai kibaru zahidin (pemimpin orang-orang zuhud) pada masa itu, Al-Fazari memang mau menerima uang dari penguasa,* namun bukan untuk dirinya sendiri.

Dan itu tidak mengurangi amar makruf nahi mungkarnya terhadap umara. Al-Ajali menyebutkan bahwa ia pernah mengingatkan penguasa, lalu ia dipukuli dengan rotan 200 kali.

Zuhud dan Kemerdekaan Ulama

Adapun ulama yang menolak sama sekali pemberian dari umara adalah Ibnu Mubarak. Ia dikenal sebagai ulama perintis kebangkitan kembali semangat jihad dan zuhud. Kitab zuhudnya telah diterjemahkan dan dicetak dalam Bahasa Indonesia.

Salah satu kutipan Ibnu Mubarak dalam masalah ini, ketika ia ditanya, “Siapakah manusia utama?” Dia menjawab, “Ulama”. Ditanya lagi, “Dan siapakah raja-raja itu?” Dia menjawab, “Orang-orang yang zuhud.”

“Siapakah orang picik itu?”

“Khuzaimah dan teman-temanya (maksudnya para umara yang zalim).”

“Siapkah orang rendahan itu.”

“Mereka yang hidup dengan (menjual) agamanya.” (Azh-Zhahabi:399)

Kemandirian dan ketergantungan dari santunan orang lain, apalagi dari penguasa merupakan inti ajaran zuhud Ibnu Mubarak. Karena itulah, ia hidup sebagai pengusaha kaya.

Fudhail bin Iyadh berkata pada Ibnul Mubarak, “Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, dan hidup bersahaja. Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”

Ibnul Mubarak menjawab, “Wahai Abu Ali, hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari aib (meminta-minta). Aku bekerja untuk menjaga kehormatanku, dan agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku”. (Azh-Zhahabi:387).

Ibnu Mubarak adalah ulama sekaligus pebisnis. Ia hidup berdagang, menjadi donatur kaum muslimin, dan memberangkatkan orang pergi haji. Adz Zhahabi menuturkan dalam setahun Ibnu Mubarak telah mendonasikan 100 ribu dirham untuk fakir miskin.

Itu adalah sumbangan yang besar. Ada yang menghitung-hitung sedekah Ibnu Mubarak itu bila dikonversi dengan nilai uang sekarang, sekitar 20 miliar rupiah. Ini hanya untuk fakir-miskin, belum santunan untuk ulama.

BACA JUGA  Dalil dan Hukum Seputar Shalat di Dalam Kakbah

Agenda Ulama Terhadap Umara

Seperti disebutkan sebelumnya, Ibnu Mubarak merintis kembali semangat jihad kaum muslimin. Inilah kewajiban yang mulai dilalaikan oleh umara pada masa hidupnya. Umara mulai sibuk dengan urusan pembangunan infrastruktur, hidup dalam kekayaan negara Islam yang melimpah.

Ada celah kosong. Kewajiban mempertahankan perbatasan Islam terabaikan. Di wilayah Syam yang berbatasan dengan Bizantium, musuh terus merongrong wilayah kaum muslimin.

Maka Ibnu Mubarak membangkitkan semangat jihad di perbatasan Bizantium dan negeri Islam di Syam. Dari mereka ini pula lahirlah ungkapan “Bila manusia berselisih, maka bertanyalah kepada ahli tsughur.” Sebuah ungkapan untuk orang-orang yang berjaga dan berjihad di garis batas wilayah negeri Islam. (Baca artikel berikut untuk melihat ahli tsughur lebih lanjut).

Hampir seluruh waktu sepanjang hidupnya dihabiskan untuk jihad fi sabilillah. Uniknya, saat pembagian harta perang (ghanimah) ia selalu menghilang. (Ibnu Mubarak:20)

Kemerdekaan ulama untuk menyuarakan kebenaran itu menuai hasilnya. Mereka mampu membangkitkan kembali semangat jihad para khalifah Abbasiyah, pada periode kekhalifahan Al-Mahdi (127 H) sampai masa Harun Al-Rasyid (193 H).

Al-Mahdi mengirim banyak serangan, demikian pula masa Harun Ar-Rasyid, yang dipimpin oleh dirinya sendiri atau anaknya, ke wilayah Bizantium.

Begitu Harun menjadi Khalifah, dia terus fokus pada jihad. Serangan terhadap Bizantium terus berlanjut dari distrik perbatasan sejak awal masa pemerintahannya. Bahkan, ia mengirim putranya, Al-Qasim sebagai gubernur perbatasan untuk mengatur jihad kaum muslimin di sana.

Itulah ulama masa lalu dan masalah yang dihadapi. Apa masalah yang diabaikan oleh umara hari ini dapat dipastikan sudah dikantongi oleh para ulama, panutan umat Islam. Bagaimana mereka menyuarakannya, maka merekalah yang menulis sejarahnya sendiri apakah kelak akan dikenal sebagai amirul Atqiya’, alim zamanihi, atau ulama sulthan.

————————–

* Dalam masalah ini, Ar-Rudzabari membagi ulama menjadi empat. Pertama, mereka yang menerima santunan dari umara dan orang lain. Kedua, mereka yang menerima santunan dari umara, namun menolak dari orang lain. Ketiga, mereka yang menerima dari orang lain, tetapi menolak dari umara. Ketika, mereka yang menolak dari umara dan orang lain.

Sumber bacaan:
1. Siyar A’lam An Nubala, Adz Dzahabi, 8/387 Muasassar Ar-Risalah. Beirut Lebanon. Cet.11, 1996.
2. Kitab As-Siyar Ibnu Al-Fazari, tahqiq Dr. Faruq Hammadah. Muassasah Ar-Risalah, Beirut Lebanon. Cet. I. 1987.
3. Kitab Al-Jihad Ibnu Mubarak, Tahqiq Dr. Nazih Hammad. Dar Al-Mathbu’at Al-Haditsiyah. Jeddah. tt.

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Soal Fitnah Ustadz Abdul Somad, Ini Komentar Polisi

Indonesia - Selasa, 16/04/2019 15:46