Merasa Dibohongi, Alasan Pengikut Keluar dari Jamaah Nubuwah

Foto: Edi Prayitno (36) warga Bekasi mantan pengikut Jamaah Nubuwah.

KIBLAT.NET, Bekasi – Tersesat selama bertahun-tahun mengikuti ajaran Jamaah Nubuwah atau Sangga Buana, para pengikut mengaku menyesal. Mereka bersyukur telah menemukan hidayah untuk kembali kepada ajaran Islam yang benar. Hal itu diungkapkan oleh beberapa mantan pengikut Jamaah Nubuwah baik melalui lisan maupun makalah perjalanan hidup.

Edi Prayitno (36) warga Bekasi mengatakan hampir puluhan tahun lebih mengikuti Jamaah Nubuwah semenjak menjadi gerakan harakah hingga pemimpinnya mengaku sebagai rasul. Pada tahun 2016 ia melihat banyak kejanggalan dalam ajaran yang dianutnya, sehingga memutuskan untuk keluar dan menentang ajaran kemudian melaporkannya ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) di berbagai kabupaten.

“Keraguan itu berawal dari tahun 2010 di mana Epen Jahruddin mendeklarasikan sebagai rasul dan Imam Mahdi. Pasalnya dalil yang ia utarakan tidak kuat justru malah berlawanan, hujjahnya hanya sebatas doktrin. Tak sedikit orang percaya padanya sebab ia seorang yang pandai bersilat lidah,” katanya kepada Kiblat.net di Cibitung, Bekasi, Kamis (13/09/2018).

Edi menjelaskan doktrin yang ditanamkan Jamaah Nubuwah melalui dakwah dan tarbiyah dengan disebarkan ke berbagai wilayah di Indonesia. Edi Prayotno saat itu ditugaskan berdakwah di wilayah Samarinda, Kalimantan Timur.

“Semua gerakan terorganisir. Doktrin yang cukup kuat, konsep walijah (sesuatu yang sangat dekat). Dengan tema iqamatuddin kita merasa, sebagaimana sahabat ketika nabi diutus mengalami ujian dan itu yang kita alami,” ungkapnya.

BACA JUGA  HILMI FPI Targetkan Bangun 100 Hunian Korban Gempa Lombok

Sementara, Sumanta (39) warga Cikarang Barat mengatakan masih banyak orang yang bertahan mengikuti Jamaah Nubuwah karena ada syariat yang ketat sehingga membuat mereka merasa paling benar. Dirinya mulai melihat adanya keraguan semenjak dibentuknya “Tim Ghaib” yang membuat syariat-syariat dusta. Sehingga sang pemimpin justru dikendalikan oleh “Tim Ghaib”.

“Saya hanya bisa banyak berdoa mencari hidayah, Ya Allah jauhkanlah aku dari kesesatan dan tunjukkanlah aku jalan yang lurus yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Hingga hidayah itu mulai terlihat, ketika banyak pengikut Sangga Buana yang keluar,” tuturnya.

Akhirnya kegoncangan itu semakin kuat saat Epen menikah yang keempat kalinya dengan seorang perempuan dari Tim Ghaib yang banyak berdusta. Dari situ banyak pengikut yang memutuskan keluar.

“Allah menampakkan kesesatan itu melalui orang-orang kepercayaan Epen Jahruddin. Salah satunya melalui ahli ghaib yang banyak menjadikan mimpi atau petunjuk sebagai wahyu tetapi kebohongan. Contoh kebohongan, mengaku pernah sedang di arsy (singgasana Allah). Padahal ketika ditelusuri ternyata dia sedang berjudi online dan banyak uang jamaah yang “hilang diambil jin”. Ternyata dia sendiri pelakunya,” lanjutnya.

Sumanta menuturkan mereka yang keluar dari ajaran Jamaah Nubuwah dianggap sebagai pengkhianat dan dijuluki kaum murtadin dan halal darahnya. Kerugian selama di Jamaah Nubuwah adalah penyesalan waktu dan materi.

“Harapan kami ingin memperbaiki diri. Dengan upaya mengadukan ke MUI Kabupaten Bekasi pada Juni tahun 2018 semoga dapat direspon dan ditindaklanjuti. Sebab masih banyak umat yang tertipu oleh kesesatannya,” pungkasnya.

BACA JUGA  Ijtima Ulama Jilid II Siap Digelar 16 September 2018

Reporter: Hafidz Syarif
Editor: M. Rudy

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga