Fikih Islam Memandang Pengeroyokan Suporter yang Berujung Kematian

Foto: Pembunuhan

KIBLAT.NET – Sepekan yang lalu publik Indonesia diramaikan dengan meninggalnya Harlingga Sirla. Dia meninggal karena di keroyok oleh sekelompok orang. Dalam fikih Islam, perkara seperti ini bukanlah perkara yang baru. Kasus serupa (Pembunuhan sekelompok orang terhadap satu orang) pernah terjadi pada masa khulafaur rasyidin. Lantas seperti apa pembahasan fikihnya?

Secara umum jumhur ulama sepakat bahwa apabila sekelompok orang membunuh satu orang, maka sekelompok orang tersebut bisa dijatuhi hukuman qishsash. Namun mereka berbeda pendapat tentang detail-detail masalahnya.

Di antara dasar pendapat di atas adalah firman Allah SWT :

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Artinya, “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS Al-Maidah : 32)

Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa pembunuh baik satu orang ataupun berkelompok, maka dia telah melakukan kejahatan terhadap hak hidup manusia. Di dalam Al-Quran membunuh satu orang disamakan dengan membunuh seluruh manusia.

Dalil lainnya adalah kisah Umar bin Khottob yang mendapat pengaduan dari amirnya yang ada di Yaman, bahwa seorang anak kecil dibunuh oleh 4 orang. Mendengar hal tersebut Umar berkata:

لَوْ تَمَالَأَ عَلَيْهِ أَهْلُ صَنْعَاءَ لَقَتَلْتُهُمْ جَمِيعًا

Artinya, “Kalau seandainya penduduk Shon’a semuanya terlibat dalam pembunuhan itu, maka akan saya hukum qishash mereka semua.

Dan di antara tujuan disyariatkannya qishash adalah sebagai upaya pencegahan terhadap pembunuhan. Kalau seandainya sekelompok orang yang yang membunuh satu orang tidak diqishash, maka akan membuka peluang pembunuhan, padahal tujuan syariat qishash adalah menutup peluang pembunuhan.

Sebagimana jika ada lima orang yang melakukan qozaf (menuduh wanita baik-baik berzina) semuanya dihukum cambuk, maka hukumjuga dengan semua orang yang melakukan pembunuhan terhadap satu orang, semuanya juga harus dihukum qishash.

Lantas, pembunuhan yang seperti apa yang semua pelakunya bisa dihukum qishash?

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni berkata :

قال: ويُقتل الجماعة بالواحد، وجملته أن الجماعة إذا قتلوا واحداً فعلى كل واحد منهم القصاص إذا كان كل واحد منهم لو انفرد بفعله وجب عليه القصاص، رُوي ذلك عن عمر، وعلي، والمغيرة بن شعبة، وابن عباس، وبه قال سعيد بن المسيب، والحسن، وأبو سلمة، وعطاء [وقتادة]، وهو مذهب مالك[2] والثوري والأوزاعي والشافعي[3] وإسحاق وأبي ثورة وأصحاب الرأي

Dan sekelompok orang diqishash jika membunuh satu orang, jika sekelompok orang membunuh satu orang, maka masing-masing dihukum qishash, jika masing-masing mereka melakukan tindakan yang dapat membuat orang terbunuh. Pendapat tersebut diriwayatkan dari Umar, Ali, Mughiroh bin Syu’bah, Ibnu Abbas. Pendapat mereka diikuti oleh Said bin Musayyab, Hasan Al-Bashri, Abu Salamah, Atho’, Qotadah, ini adalah pendapat Malik, ATs-Tsauri, Al-Awza’I, Syafi’I, Ishaq, Abu Tsauroh dan Ashhabur ra’yi.

Untuk memahami  maksud dari ucapan di atas kita harus memahami dulu apa yang dimaksud dengan pembunuhan dalam istilah ulama fikih. Imam AN-Nawawi di dalam Minhajuth Thalibin berkata :

وَهُوَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالشَّخْصِ بِمَا يَقْتُلْ غَالِبًا: جَارِحٌ أَوْ مُثَقَّلٌ

Artinya, “Pembunuhan sengaja (qotlul amd) adalah adanya niat melakukan pembunuhan terhadap seseorang dengan menggunakan alat yang dapat menyebabkan kematian, baik itu senjata tajam maupun benda berat.” (Mughnil Muhtaj 5/212)

Dapat dipahami, bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh sekelompok orang, baru dapat diqishash semuanya, apabila masing-masing dari mereka melakukan perbuatan yang dapat membuat orang meninggal. Tentunya dengan terpenuhi unsur-unsur pembunuhan sengaja (qotlul amd).

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili di dalam Fiqhul Islami wa Adillatuhu   (7/550-551) menjelaskan bahwa menurut ulama Hanafiyah jika sekelompok orang membunuh satu orang, bisa diqishash apabila masing-masing dari mereka menyebabkan luka yang dapat mencelakai, atau masing-masing mereka sama-sama menembakkan peluru, sehingga melukai korban dengan luka yang menyebabkan dia terluka.

Sedangkan menurut jumhur, sekelompok orang bisa dijatuhi hukuman qishash, apabila masing-masing mereka melakukan tindakan yang dapat membuat orang terbunuh. Contoh, tiga orang melakukan penusukan terhadap A yang menyebabkan A meninggal, ketiganya masing-masing menusuk di bagian vital, ada yang menusuk di bagian kepala, ada yang menusuk di bagian jantung, ada yang menusuk di bagian hati. Menurut jumhur ketiga orang ini bisa dihukum qishash, karena masing-masing melakukan perbuatan yang membuat orang terbunuh.

Namun, jika ada orang ke-empat yang melakukan penusukan di bagian tangan, maka orang ke-empat menurut jumhur tidak bisa dihukum qishash, karena perbuatan yang dilakukannya secara kebiasaan tidak bisa menyebabkan orang terbunuh, berbeda dengan tiga orang sebelumnya. Namun orang keempat tetap diwajibkan membayar diyat, karena dia telah melukai seorang muslim tanpa alasan yang dibenarkan.

Demikian pemaparan fikih terkait hukum sekelompok orang yang membunuh satu orang. Pada umumnya ulama sepakat bahwa jika sekelompok orang membunuh satu orang, maka mereka harus diqishash. Wallahu a’lamu bissowab

Penulis: Miftahul Ihsan

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Sholat Ghoib Bagi Korban Kecelakaan Pesawat

Fikih - Selasa, 30/10/2018 15:05

Fanatisme Buta Suporter Sepakbola

Artikel - Jum'at, 28/09/2018 21:29